Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Sosok Yang Hangat


__ADS_3

Satu hal yang kusadari ketika aku terbangun keesokan paginya, tanganku terjepit di suatu area yang lembut, lembab, dan hangat. Dan di saat aku membuka mata, sepasang mata cokelat dan senyuman cantik menyambut pagiku yang indah.


"Pagi, Sayang." Satu ciuman kecil mendarat di keningnya, tapi senyumannya sama sekali tidak berubah. Aku malah merasakan tanganku semakin terhimpit. "Apa?" tanyaku.


Dia menggeleng -- dengan -- tanpa mengurangi keindahan senyumannya sedikit pun. Lalu...


Ia berbisik, "Hanya ingin mengingatkanmu tentang hari itu."


Uuuh... pagi-pagi istri kecilku ini sudah membuatku tertawa. Tentu saja aku masih ingat dengan jelas kejadian di pagi pertama ia berada di kamarku. Hanya saja, aku tidak ingin mengingat bagian akhirnya. "Mmm-hmm... aku ingat. Lalu?"


"Lalu? Kenapa kamu masih berbaring di tempatmu? Katanya punya kekuatan ekstra di pagi hari. Hmm?"


Wooo... dia menantangku. Ya, ya, lagipula tadi malam kami langsung tidur karena Suci sudah kelelahan setelah kami menyempurnakan keindahan senja kemarin sore. Jadi, okelah. Aku beringsut dan langsung menindihnya. "Kurasa leher istriku ini masih kurang merah. Iya, kan?"


"Lakukan saja. Warnai aku sesukamu."


"Warnai?"


"Hmm... oke... *saplah aku sesukamu."

__ADS_1


"Emm... bagaimana kalau kamu yang *engisapku?"


"Well, akan kulakukan kalau kamu tidak keberatan lehermu merah-merah."


Hah! Dia masih sedikit polos rupanya. "Bukan di leher, Sayang...."


"Emm... maksud... kamu... di...?"


"Mmm-hmm...."


"Tapi... aku... aku malu...."


Wow! Lucu sekali ekspresinya. Cute. "It's ok. Biar aku yang melakukan itu untukmu."


"Kenapa?" tanyanya.


"Apanya?"


"Kenapa tidak bergerak?"

__ADS_1


Aku diam untuk sesaat, lalu berkata, "Aku mau meminta maaf dulu."


Praktis, alis tebal itu bertaut. "Maaf? Atas apa?"


"Untuk apa yang sudah terjadi sebelum waktunya. Keperawanan yang harusnya kamu serahkan di malam pengantin."


Suci tersenyum. "Masa lalu tidak bisa diubah, Mas. Tapi aku memaafkanmu. Meski aku tidak melihat rasa syukur di matamu saat mendapatkan kesucian istrimu di malam pengantin, tapi yang penting aku selalu melihat rasa syukur di matamu atas hubungan kita yang suci -- atas nama cinta. Aku sangat mencintaimu."


Oh, man. Satu ciuman penuh cinta layak ia dapatkan. Dia benar-benar sosok yang istimewa bagiku. "Aku juga sangat mencintaimu, Sayang."


"Em, aku tahu. Dan aku akan berusaha menjadi istri yang terbaik untukmu. Bilang, ya, kalau aku kurang hangat."


Ya ampun serasa gimana gitu. "Kamu membalas ucapanku kemarin?"


"Nope." Ia menggeleng. "Aku hanya tidak ingin menjadi istri yang gagal. Aku hanya ingin menikah sekali, denganmu, dan ingin menua bersamamu."


Hmm... aku tidak cengeng, tapi entah kenapa mataku rasanya berkaca. Aku juga tidak ingin gagal lagi untuk kedua kali. Tidak menginginkan pernikahan lagi ke-tiga kali. Dan, tidak menginginkan istri lain selain dirinya.


"Oh ya, omong-omong soal hangat, aku tadi membuatkan sup hangat spesial untukmu. Mudah-mudahan kamu suka, ya. Sup spesial untuk suamiku. Aku sayang kamu, Mas."

__ADS_1


Ya Tuhan... wanita muda ini, dia benar-benar seperti sosok yang selama ini kuharapkan. Dia sangat hangat, sikap dan perlakuannya terhadapku, juga perhatiannya -- tak perlu kuragukan. "Pasti," kataku. "Terima kasih, Sayang, karena kamu sudah bersedia repot-repot memasakkan makanan untukku."


"Sama-sama, Mas Sayang. Jadi...? Please... gaskeun!"


__ADS_2