Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Pengakuan


__ADS_3

"Mas," kata Suci, "aku belum pernah menanyakan ini padamu mengingat pernikahan kita yang baru seumur jagung. Tapi aku benar-benar ingin tahu karena kita baru saja berada di situasi yang sama. Boleh, kan, aku tahu kamu kenapa? Kita suami istri, jangan ada yang ditutup-tutupi lagi, ya?"


Aku mengedikkan bahu. "Hanya takut," kataku. "Kan berbahaya, rawan kecelakaan karena jarak pandang yang kabur."


"Kamu pernah kecelakaan? Dan kamu trauma?" tanyanya dalam nada super hati-hati.


Aku mengangguk. "Ya," sahutku. "Pernah."


"Ceritakan padaku, ya? Aku mohon?"


Ya ampun, perempuan ini seperti psikolog saja, batinku. "Lain kali, ya. Aku mau mandi dulu. Bau keringat."


"Aku ikut."


"Ini masih hujan, nanti kamu kedinginan."


"Lah, kamu sendiri?"


"Aku tidak hamil. Dan aku sehat."

__ADS_1


"Aku juga sehat, Mas. Dan aku juga bau keringat. Bau tubuhmu yang seksi."


Aku tahu niatmu, Sayang. Kamu masih mau mengorek masa laluku.


Tapi aku tak punya pilihan untuk menghindar. Rasa penasaran Suci tidak mudah untuk ditaklukkan.


Rileks, Rangga. Cepat atau lambat, dia pasti akan terus mencari tahu.


Aku tahu, Suci tipe perempuan yang sangat perhatian, dan dia sangat peduli padaku. Dia berbeda dengan Rhea yang cuek. Perempuan ini membuatku mesti bertindak hati-hati. Kalau saja dia tidak sedang hamil, mungkin sedikit lebih muda untuk menceritakan hal ini kepadanya.


"Aku siapkan air hangat dulu. Tunggu, ya."


Hmmm... kamu membuatku merinding, Sayang.


Ini agak gila. Di luar hujan masih deras, tapi Suci malah mengajakku berendam di dalam bathtub. Memang dengan air hangat, tapi tetap saja, kurasa ini hal konyol yang akan dilakukan oleh orang tidak waras. Setidakwaras istriku yang rada-rada itu.


Di dalam bathtub dengan air hangat dan busa sabun yang melimpah itu, Suci duduk bersandar di seberangku dengan tatapan menyelidik. Dia membuat hatiku gusar.


"Aku tidak nyaman dengan tatapanmu yang seperti itu," protesku.

__ADS_1


Dia tersenyum. "Kenapa?" tanyanya. "Rileks saja, Mas. Aku sayang kamu apa pun yang terjadi di masa lalu."


"Yang...."


"Kamu pasti merasa plong nanti setelah bercerita."


"Tapi, Yang...."


"Tidak apa-apa, kok. Aku janji akan jaga emosiku."


Kutundukkan pandanganku dan berharap Suci akan mengerti kalau aku tidak mau menceritakan masa laluku itu. Tapi itu mustahil, rasa penasaran Suci sudah terlanjur menguasai dirinya.


"Aku tidak ingin mengingat tentang kecelakaan itu," gumamku lirih.


"Tapi kamu juga tidak akan pernah bisa melupakannya, Mas. Iya, kan? Apa salahnya berbagi duka itu denganku?"


"Termasuk rasa bersalahku? Apa itu bisa dibagi? Tidak bisa, kan? Menceritakan kecelakaan tragis itu cuma akan--"


"Aku istrimu," katanya lembut. "Kurasa aku berhak tahu cerita itu, supaya... aku paham tentang luka dan trauma suamiku."

__ADS_1


Aku mengangguk. Kuhela napas dalam-dalam dan mengenang kecelakaan tragis enam belas tahun silam di dalam ingatanku. "Dulu, waktu umurku tujuh belas tahun, Mama pernah jatuh sakit dan dilarikan ke rumah sakit. Sedangkan waktu itu aku sedang tidak di rumah, tapi... karena mendengar Mama masuk rumah sakit, aku panik dan buru-buru pergi ke rumah sakit. Hujan sedang deras-derasnya waktu itu. Aku yang memang sedang panik, ditambah jarak pandang yang kabur karena hujan deras, aku... aku mengalami kecelakaan. Maksudku... aku menabrak orang. Sepasang suami istri, dan... mereka meninggal. Gara-gara aku. Aku seorang pembunuh. Pembunuh...."


__ADS_2