Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Menguji Kesabaran


__ADS_3

"Aku tadi belum makan siang. Kita makan dulu, ya? Aku lapar."


Sialan! Perempuan itu benar-benar menguji kesabaranku. Ingin kucekik rasanya leher Rhea hingga dia mati kehabisan napas. "Kami sudah makan. Kamu nanti makan di rumahmu saja. Kami sibuk."


"Tapi, Rangga, aku kepingin makan bersamamu. Maksudku... ini kemauan calon anak kita. Tolong, ya?"


Argh!


"Jangan mengada-ada!"


"Aku benaran...."


"Rhe!"


Suci mengulum bibir, berusaha menahan tawa. "Sudahlah, Mas. Kita turuti saja. Mumpung ayah dan calon anaknya lagi berdekatan, kan? Tapi ingat lo, Mbak, jangan jadikan anak itu untuk mendekati suamiku. Ayo, Mas." Suci menyambar tanganku dan menggandengku ke kantin rumah sakit.


"Kalian seharusnya jangan bersikap seperti itu kepadaku," kata Rhea, kami sudah duduk di meja kantin dengan pesanan masing-masing. "Bagaimanapun juga aku sedang hamil. Itu artinya perceraian kita kemarin tidak sah. Jadi statusku masih Nyonya Sanjaya."


Aku baru saja hendak membuka mulut ketika Suci menyodorkan sesendok penuh sup buah di depan mulutku. "Ademin pakai es," bujuknya. Dia tersenyum manis dengan barisan giginya yang putih.


"Yang...," protesku, seperti anak lelaki yang merengek.

__ADS_1


"Suamiku seorang pimpinan perusahaan besar. Jaga sikap, ya?"


"Oke." Kuhela napas dalam-dalam lalu menerima sesuap sup buah dari sendoknya.


Suci tersenyum lagi. "Enak?"


Aku mengangguk sembari bertanya dalam hati: kenapa Suci begitu sabar dan begitu baik hati?


"Ngga, suapi aku, ya? Demi anak ini. Aku mohon?"


"Kamu punya tangan. Makan saja sendiri."


"Mbak...," kata Suci kalem, "aku bisa mengajak Mas Rangga pergi dari sini kalau kamu banyak tingkah. Maaf, lo, kalau aku terkesan menggurui, tapi kamu dikasih hati jangan minta jantung. Nanti kamu malah dapat empedu. Kan pahit. Kamu belum lupa, kan, bagaimana rasanya tinggal di ruang bawah tanah itu? Kalau kamu dikirim ke sana lagi, aku tidak akan sudi membujuk suamiku untuk kembali membebaskanmu. Ingat itu."


Santai sekali caranya bicara, tapi bisa membuat Rhea mengingat masa-masa itu hingga ia gemetar. Dia terdiam dan menunduk.


"Santai saja, Mbak. Habiskan makananmu. Kasihan anak di rahimmu, dia ikut kelaparan."


Di saat itulah aku hendak mengambil kesempatan. "Kamu tidak mau makan? Kita pulang saja sekarang."


Aku baru saja berdiri ketika Suci melotot. "Duduk!" ketusnya. "Enak saja main pergi-pergi. Sup buahku belum habis. Mau anakmu ngambek?"

__ADS_1


"Baiklah. Makanlah dengan santai."


"Kamu yang perlu santai. Rileks saja."


"Iya, iya. Habiskan makanan kalian."


Hening sesaat.


"Kita sebenarnya bisa mengobrol baik-baik, bicara semuanya baik-baik. Mbaknya jangan cari gara-gara, Masnya juga jangan kasar-kasar. Jadinya aku tidak mesti sok jadi penengah di antara kalian berdua. Bisa, kan, Mbak?"


Rhea mengangguk, tapi tetap dengan sikapnya yang membuatku kesal. "Aku hanya ingin diperlakukan dengan baik olehmu. Seperti dulu, sebagai istri yang sangat kamu cintai."


Suci mendorong mangkuk sup buahnya yang belum kosong. "Ayo, kita pulang saja. Aku takut akan ada peluru yang bersarang di kepalanya. Tempurung kepalanya kosong."


Hah! Sekarang giliranku yang tertawa. Tapi sayangnya hanya sesaat.


"Otakmu juga kosong! Pernah jatuh cinta pada perempuan model begitu."


Euw...! Tega sekali dia mengataiku seperti itu.


Tapi sungguh, aku takjub padanya. Sejak hari itu, aku menjadi pribadi yang santai menanggapi permasalahan di antara aku dan Rhea -- menanggapi kegilaan dan obsesi perempuan itu terhadapku.

__ADS_1


__ADS_2