Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Bahagia


__ADS_3

Suci sedang berdiri di depan kompor dari bahan baja tahan karat, dan tampak luar biasa seakan dalam mimpi ketika aku bergabung dengannya di dapur.


"Istriku benar," kataku. "Mandi memang membuatku segar."


"Betul, kan, kataku? Suci tahu yang terbaik. Dan selalu menjadi yang terbaik."


"Yap, selalu." Aku mengintip ke penggorengan dari balik bahunya. "Ada yang bisa kubantu?" Tanganku sudah melingkari pinggangnya dan mengelus perutnya.


Kokiku yang seksi. Seperti kemarin, ia hanya memakai bra, tapi dengan hot pants sebagai bawahannya. Kemarin dia bilang kalau dia kepingin berpakaian terbuka seperti orang-orang di pantai. Tapi malu katanya terbuka seperti itu di depan publik. Hah! Dia belum tahu saja kalau aku tidak akan membiarkan tubuhnya dilihat oleh orang lain. Sama sekali tidak.


Suci tersenyum. "Tidak satu pun, Suamiku Sayang. Semuanya terkendali. Don't worry, aku bisa mengatasi segalanya. Mulai dari dapur hingga kasur, dari perut, adik kecilmu, hingga keseluruhan yang ada pada dirimu. Semuanya pasti beres di tanganku."


Oh, waw! Aku terkekeh. "Ya, ya, kamu memang yang terbaik."


Memang tidak ada suatu apa pun yang bisa kulakukan, bukan? Sementara aku duduk, Suci melanjutkan keasyikannya di meja dapur. Dia kembali memotong ham dan menatap tajam pisaunya, buku-buku jarinya memutih sementara ia mengeratkan cengkeramannya. Lampu dari langit-langit menyorot ke bawah dan cahayanya memantul dari bilahnya.


"Kamu suka ini?" tanyanya.


Aku membuka mulut menyambut sepotong ham yang menjuntai dari ujung jari Suci dan menahan jarinya sekalian di dalam mulutku, plus menggelitiknya dengan lidahku.

__ADS_1


"Kamu, ya, tidak ada habis-habisnya bermesum-mesum ria."


"O ya? Ya tidak apa-apa dong, kan mesum pada istri sendiri. Bebas."


"Mmm-hmm... jadi, kamu benar-benar menyukai kebebasan kita di sini? Sering-sering saja kita ke sini kalau Mama sedang tidak di rumah."


Aku mengangguk. "Tentu saja. Kapan pun yang kamu mau."


Senyum manis praktis mengembang di wajah istriku. Dia mulai memasak telur dadarnya, meninggalkannya sejenak di atas penggorengan lalu berjalan ke arahku. Duduk bersilang kaki di atas pahaku.


"Cium aku," pintanya.


"Aku mencintaimu, Pria Seksi. Tinggalkan satu tanda cinta di leherku. Aku mohon...."


Ya ampun... ini efek hamil apa, ya? Aku terkikik sendiri. Dan berhubung dia istriku dan aku sangat-sangat mencintainya, aku tidak merasa jijik sedikit pun dengan kelakuannya ini seperti rasa jijikku pada Stella dulu. Well, langsung kutandai lehernya dengan cinta -- maksudku, aku menambahkan tanda cinta lagi di sana (setelah yang kemarin, semalam, dan tadi pagi). Oh, kusadari, rutin sekali agenda bercinta kami. Tentu saja, dia istri yang menggairahkan. Untungnya dia bukan boneka, kalau tidak -- dia bisa ringsek di tanganku.


"Senang?"


"Fantastis! Super menyenangkan!"

__ADS_1


"Baiklah. Masakanmu bisa hangus kalau kamu terus-terusan di pelukanku."


Dia tersenyum lagi, kali ini terlihat lucu. Cute. "Baiklah, Suami." Satu ciuman lagi mendarat di pipiku sebelum ia melepaskanku. "I love you so much."


Suci meraih spatula, ia membalik telur dadarnya untuk terakhir kali. Sejenak kemudian ia menyeroknya lalu meletakkannya di piring. Sarapan untukku telah terhidang di meja dapur, persis di depanku.


"Aku yakin ini sangat lezat. Fantastis!"


"Hah! Dasar kamu, Mas. Dicoba saja belum."


"Penampilan dan aromanya meyakinkan, Sayang."


"O ya? Tapi itu tak mungkin senikmat tubuhku, ya kan?"


Aku tertawa. "Kamu menyamakan dirimu dengan makanan? Hmm? Tapi memang iya. Di dunia ini tidak ada yang senikmat tubuhmu. Dan hanya aku yang boleh mencicipimu."


"Pasti." Dia duduk di atas pangkuanku lagi, lalu meraih tangan kiriku dan menempelkan tanganku di perutnya yang masih rata. Aku pun mengelusnya. "Anaknya Papa minta disuapi. Lapar katanya."


Aku tersenyum. Dan kurasakan, ada air mata bahagia yang menggenang di mataku.

__ADS_1


__ADS_2