
"Omong-omong, lu nggak mau ngasih ucapan selamat?"
Ya Tuhan, perubahan topik yang tidak sesuai kondisi dan situasi. Aku menghela napas dalam-dalam. "Atas apa?" tanyaku.
Raymond tersenyum. "Gue sebentar lagi menjadi seorang ayah. Istri gue hamil."
"Oh, waw! Amazing. Berita yang sangat mengejutkan," kataku -- sedikit riang karena aku masih shock. "Selamat, Bro. Gue turut senang." Dan aku merangkulnya.
Tapi Raymond malah tertawa senang. "Senam jantung, Man? Bagus, kan, dengan semua yang gue sampaikan, gue harap lu jangan sampai lengah. Tapi gue nggak bisa bantu apa-apa. Roy juga sahabat gue."
Aku mengangguk. "Gue paham," kataku. "Trims, walau lu mengatakan semuanya dengan cara yang sangat tidak asyik. Agak keterlaluan."
"Orang kayak lu sesekali mesti ditempeleng, ya kan? Ditempeleng pakai kata-kata kasar, supaya nggak cuma bisa ngomong sok iyes, lah diri sendiri malah zonk."
Ya salam... puas sekali dia menertawaiku. "Well, terima kasih sekali Bapak Raymond yang terhormat. Sekali lagi selamat, ya."
"Selamat atas apa ni?" sela Roby.
__ADS_1
Sahabatku yang sudah berstatus sebagai seorang ayah itu keluar dari ruang rawat istrinya dengan wajah semringah.
"Ini, si Raymond, istrinya hamil."
"Wah... selamat, Bro."
"Thanks, Rob. Ternyata bahagianya bukan main, ya, pas tahu istri kita hamil."
Roby mengangguk dengan senyuman kecil lalu mengiyakan. Aku tahu, ucapan Raymond itu membuatnya sedikit tidak nyaman.
"Omong-omong," kataku menyela, "gimana tadi rasanya di ruang bersalin? Tegang, ya?"
Haha!
Padahal itu keberuntungan bagi seorang suami untuk menemani perjuangan istrinya -- berjuang antara hidup dan mati. Aku saja ingin menemani Suci sewaktu dia lahiran nanti. Andainya bisa.
"Enak saja, lu," sahut Raymond. "Unboxing keperawanannya aja lu perjuangin, masa pas lahiran lu nggak mau nemenin, sih? Enak di elu, dong?"
__ADS_1
Haddeh... Raymond... Raymond... andai dia tahu bagaimana cerita pahit di antara Roby dan Jessy, dia tidak akan bicara seperti itu.
"Omong-omong, panggilin istri gue, dong."
"Eh? Mau ke mana, lu?"
"Gue mau ajak dia pulang, Ray."
"Ya ela, Ngga. Ngafe dulu, yuk?"
"Lain kali, ya. Ibu hamil mesti banyak istirahat. Maklum, calon anak pertama."
Raymond mengangguk, dan aku lega dia tidak tersinggung atas penolakanku kendati ini ajakan pertamanya setelah sekian lama sejak hubungan kami retak. Lagipula, bagaimana mungkin aku bisa tenang bersendau gurau di cafe sementara keadaan tidak memungkinkan, sekarang aku gelisah jika Suci berada di luar rumah. Situasi dan kondisi saat ini sangat rentan bagi keselamatannya.
Tentu saja, aku mesti mengajak istriku untuk cepat-cepat pulang, dan aku mesti menyampaikan kepadanya tentang apa yang disampaikan Raymond kepadaku. Dan dia mesti mengerti kalau mulai saat ini aku ingin dia diam di rumah, sama sekali tidak boleh keluar jika bukan untuk sesuatu yang sangat penting. Dia setuju.
Tetapi, sayangnya hal ini tidak berlaku pada saat Indie melahirkan. Suci membantahku. Dah bodohnya aku, aku tak mampu menahannya. Aku tidak mampu menahan Suci untuk tetap di dalam rumah. Aku -- memenuhi keinginannya untuk pergi ke rumah sakit menjenguk Indie yang baru melahirkan, dan untuk melihat keponakan pertamanya.
__ADS_1
Lagi, aku lalai -- lalai untuk kesekian kali.