
Hari sudah menjelang siang, kami pun berangkat, aku dan Suci masuk ke mobil, diikuti oleh Haris yang mengemudikan mobil satunya untuk menjemput ibu mertuaku dan juga Mbok Sari. Sumpah, di sepanjang perjalanan aku semakin semringah. Meski tempat bulan madu kami di luar prediksiku, tapi suasananya pasti akan jauh di atas ekspektasiku.
Yap, sesampainya di tempat tujuan, ibu mertuaku serta Mbok Sari sudah menunggu kedatangan kami di depan rumah. Belum lagi aku mematikan mesin mobil, Suci sudah membuka pintu dan keluar dari mobil, menghambur ke pelukan ibunya.
"Mama sudah membelikan semua yang kamu pesan, Sayang. Selamat bersenang-senang, ya."
Suci tersenyum ceria. "Terima kasih, Ma. Mama juga, ya. Selamat bersenang-senang dan bersantai-santai di rumah kami."
"Ya, Sayang. Selamat berbulan madu, dan semoga kamu segera memberi Mama cucu."
Suci mengangguk. "Aamiin...."
Aku pun mengaminkan doa itu dalam hati. Sementara Haris sibuk mengeluarkan koper dan boks bahan makanan yang kami bawa, plus memasukkan koper ibu mertuaku, Mama Rani dan Mbok Sari segera masuk ke mobil, dan kami pun saling melambaikan tangan.
__ADS_1
"Nah," kataku seraya melingkarkan tangan di tubuh istriku, "bagaimana kita memulai bulan madu ini? Hmm?"
Suci menatapku intens, dia tersenyum, bibirnya mendekat, mendekat... dan...
"Masukkan dulu barang-barang kita, baru kamu boleh memasukkan yang lain."
Hah? Apa itu...? Dasar istriku! Dia melenggang masuk ke dalam rumah dan meninggalkanku dengan koper kecil dan boks makanan yang super berat. Tapi okelah, itu memang tugasku sebagai lelaki berhubung di sini tidak ada asisten rumah tangga yang bisa kuandalkan.
Mula-mula, aku memasukkan dulu koper kecil yang ringan itu dan menaruhnya di belakang pintu, kemudian mendorong masuk boks plastik beroda berisi bahan makanan itu, mengunci pintu, lalu mendorong kembali boks makanan itu menuju dapur.
"Aku tidak butuh pakaianku," katanya.
"Oh, karena itu kita hanya membawa sedikit pakaian?"
__ADS_1
"Mmm-hmm... di sini tidak ada siapa-siapa selain kita berdua. Jadi kamu bebas memandangiku."
Argh! Aku meneguk ludah. "Bagaimana kalau pemandangan ini selalu merongrong hasratku setiap saat?"
"Lampiaskan saja. Apa masalahnya? Aku akan selalu menyanggupi kapan pun kamu ingin bercinta denganku. Tapi tidak sekarang, ya. Aku lapar. Kita makan dulu. Oke?" Dia pun berjalan ke meja makan.
Ya ampun... dua bungkus nasi padang hangat terhidang di atas meja. "Kamu kan tahu, Yang, kalau aku tidak bisa makan pedas."
"Ini rendang, Mas. Tidak pedas, kok. Kecuali kalau kamu makan sambal ijonya. Ayo, sini. Duduk dan makan bersamaku." Dia menarik tanganku dan menempatkan aku duduk di seberangnya. "Jangan bilang kalau kamu tidak pernah makan nasi padang atau jenis nasi bungkus lainnya?"
Aku menggeleng. "Tidak pernah. Kecuali nasi kotak. Kalau itu pernah."
"Nah, kalau begitu sekarang kamu ikut makan denganku. Aku sedang kepingin-pinginnya makan nasi bungkus pakai rendang," celotehnya. Dia membukakan nasi bungkus untukku, mendorong mangkuk berisi air untuk mencuci tangan ke hadapanku, lalu menuangkan air minum ke gelasku. "Selamat makan, Mas. Ini akan menambah tenagamu."
__ADS_1
Oh, sepertinya dia sengaja menggoda hasratku. Jangan menyesal!