Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Rasa Curiga


__ADS_3

Hanya bersikap waspada. Itu yang kulakukan belakangan ini.


Sebenarnya aku tidak ingin ikut campur soal rumah tangga Billy dan Indie. Tapi aku juga tidak bisa berdiam diri melihat gelagat Billy yang aneh. Aku khawatir kalau dia hanya berpura-pura di depan kami mengenai sikap hangat yang ia tunjukkan pada adik iparku itu. Dan seandainya itu benar, mau tidak mau aku harus turun tangan. Aku tak akan membiarkan istri dan ibu mertuaku kecewa pada Billy yang mungkin nanti juga akan berimbas padaku.


Setelah beberapa hari mengamatinya diam-diam di rumah, aku mencoba untuk mengecek Billy di ruang kerjanya dan mencoba mengajaknya bicara baik-baik -- perhatian sebagai seorang kakak ipar.


Hari itu, saat aku menuju ruangannya, kebetulan aku berpapasan dengan Regina yang baru saja keluar dari ruangan Billy.


"Pak Billy ada?" tanyaku.


Bersikap diplomatis, wanita itu menunduk lalu mengangguk. "Ada, Pak," sahutnya. "Mau--"


"Saya mau bicara empat mata dengan Pak Billy."

__ADS_1


Regina mengerti dan ia langsung pamit undur diri. Dalam hati aku mencatat, aku harus menegur mantan sekretaris Raymond ini mengenai pakaiannya yang masih seperti dulu. Kupikir itu akan berbahaya bagi keimanan Billy sebagai lelaki normal dan sebagai seorang suami. Sungguh, sikap aneh Billy mengarahkan pikiranku ke hal yang tidak-tidak. Tapi setelah itu aku menyadari, mungkin Regina punya keinginan dan punya kesadaran untuk mengubah penampilannya, tapi tak mampu mengubahnya karena masalah finansial. Dan aku punya gagasan yang lebih baik, aku akan meminta tolong pada Jessy untuk mengatasi permasalahan kecil ini. Aku pun segera memfokuskan perhatianku kembali pada Billy.


Dan, ketika aku masuk ke ruangan itu, Billy tengah mengembara jauh dalam lamunan tak berujung.


"Sibuk?" tanyaku.


Dia nyaris terlonjak karena kaget, lamunannya buyar.


"Kamu sibuk?"


"Saya perhatikan, sepertinya kamu ada masalah, Bill."


"Oh, emm... tidak ada, Mas." Dia membenarkan posisi duduknya. "Tapi terima kasih atas perhatiannya. Oh, ya, emm... silakan duduk, Mas."

__ADS_1


"Jangan bohong, Bill." Aku duduk di hadapannya. "Saya mengenalmu selama bertahun-tahun, karena itu saya bisa menangkap sikapmu yang aneh. Saya tahu kamu merahasiakan sesuatu dari semua orang."


Bersikeras menyangkal, itu yang ia lakukan. "Itu hanya perasaan... Mas... saja. Saya merasa sikap saya normal-normal saja. Tidak ada yang aneh."


"Apa ada hubungannya dengan Indie? Saya mengerti kalau semisalnya kamu belum memiliki rasa, dan kamu tidak perlu memaksakan diri menunjukkan sikap selayaknya suami yang penuh cinta di depan semua orang. Intinya jangan berpura-pura. Santai saja. Semua orang juga akan mengerti soal itu. Hanya saja, tolong jangan bermain-main di belakang kami. Jangankan para wanita di dalam keluarga kita, saya juga tidak suka pada pria yang tidak setia. Kamu paham, kan?"


Seperti Billy yang biasanya, dia mendengar dan membiarkan aku selesai dengan pidatoku, baru ia menjawab, "Saya paham, Mas. Dan saya tidak akan berani melakukan hal itu."


"Oke. Saya tidak bisa memaksamu untuk jujur. Tapi katakan kalau kamu butuh bantuan."


Oh, no. Aku tersenyum sendiri karena menyadari ucapanku yang konyol itu. Kapan Billy membutuhkan bantuanku? Faktanya selama ini aku-lah yang selalu mengandalkan Billy.


"Baiklah, saya akan bilang kalau nanti saya butuh bantuan." Untuk pertama kali ia menyunggingkan senyum tatkala kami hanya berdua.

__ADS_1


Tapi sayangnya, ia masih menyimpan sendiri apa pun itu yang ada di kepalanya, meski setiap dan selama ia di rumah -- dia sangat berusaha bersikap santai. Tapi sayangnya, dia tak cukup baik menyembunyikan hal itu dariku.


Tunggu dan lihat, rahasia apa yang ia sembunyikan. Cepat atau lambat, aku akan mengetahuinya. Pasti.


__ADS_2