Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Mungkinkah?


__ADS_3

"Woi! Masih pagi!"


Euw! Roby meneriaki kami dari luar pintu ruang pribadiku. Dia terbahak-bahak setelah menggedor-gedor pintu dengan heboh.


"Tunggu!" seruku.


Dengan malas, aku beringsut untuk duduk. Napasku saja masih ngos-ngosan belum stabil, dan rasa-rasanya aku masih ingin memeluk istriku sambil berbaring.


"Ada Roby, pasti ada Jessy juga," kataku pada Suci.


Sambil meregangkan tangan ke depan, Suci beringsut duduk. "Jessy suruh masuk ke sini, ya. Tapi aku mau mandi dulu. Kamu membuatku lengket."


"Nanggung, sih! Bagaimana kalau kita buat lebih lengket lagi?"


Melotot, dia mencubit lenganku. "Dasar kamu, ya. Tidak sayang pada anak!"


"Lah, kan aku pelan-pelan. Kalian berdua tidak akan kesakitan."


Malas menanggapi, Suci turun dari ranjang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Dasar suami mesum! Kekurangan mulu kamu, mah!"

__ADS_1


"Hasratku padamu tak akan pernah padam, Sayang...!" aku berseru keras-keras sementara Suci memunguti pakaiannya dan ia melesat ke kamar mandi. "Jangan lari-lari...!"


Dia nyengir. "Lah, kan aku pelan-pelan. Kami berdua tidak akan kesakitan." Dia mengerling nakal dan langsung menutup pintu kamar mandi.


Huh! Nakal! Dia malah melempar kembali omonganku.


"Yang...!" panggilku, aku belum beranjak dari posisiku.


Ia membuka pintu kamar mandi. "Apa?" tanyanya, dengan kepala muncul di celah pintu.


"Nothing. Cuma mau bilang I love you. Aku mencintaimu, Sayang."


Ya Tuhan... senang sekali aku bisa bercanda dengannya, melihatnya tertawa lepas dan senyuman yang manis mengembang di wajahnya yang cantik.


Andai saja tak ada Roby yang ingin bertemu denganku di luar sana, aku pasti masih terbaring di samping istriku, atau... aku akan mengikutinya ke kamar mandi. Mengagumi indah lekuk tubuh mulusnya yang selalu membuatku bergairah.


Tapi Roby menungguku. Segera saja aku turun dari ranjang dan mengenakan kembali pakaianku, tanpa jas, lalu keluar dari sana.


"Ada yang penting sampai-sampai lu ke sini?" tanyaku.

__ADS_1


Roby yang semula duduk santai segera menegakkan bahu, ia mengambil kertas lipat dari saku jasnya, lalu menyodorkan benda itu kepadaku. Hasil cetak undangan yang tertera foto Raymond dan seorang perempuan, plus namanya dan nama calon istrinya. Bola mataku melebar tatkala melihat namaku dan Suci juga tertera di sana, di bagian nama tamu undangan.


"Ini serius? Dia ngundang gue?"


Roby mengangguk. "Yap. Jangan sampai tidak datang. Mungkin ini pertanda baik. Siapa tahu hubungan lu dan Raymond bisa kembali membaik."


"Ya, semoga," gumamku. Aku masih tak menyangka Raymond akan menikah dalam waktu dekat, dan aku juga masih tak percaya kalau ia mengundangku. Surprise sekali. "Lu yang bujuk, ya?"


Ia menggeleng cepat. "Sembarangan!" semburnya. "Nggaklah. Gue juga baru tahu kalau dia mau menikah. Kemarin Raymond ngajak gue ketemuan. Dia ngasih undangan ini, dan sekalian nitip buat lu."


"Jangan negatif thinking, Pak," sela Jessy.


"Tuh, dengerin kata istri gue. Jangan nething!"


"Bukannya begitu. Gue cuma heran aja, kok tahu-tahu dia juga ngundang gue. Kan lu tahu sendiri hubungan gue dan Raymond sangat kacau. Parah gila!"


"Nah... makanya itu... siapa tahu dia benar-benar punya niat baik dan mau berbaikan. Iya, kan?"


Mungkinkah? Siapa yang tahu?

__ADS_1


Kutundukkan sejenak kepalaku. Yap, mungkin kesempatan itu masih ada. Mungkin persahabatan ini masih bisa dibenahi.


__ADS_2