Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Manisnya Pagi


__ADS_3

"Eh? Apa tidak malu? Harus, ya, gandengan tangan begini?"


Yap, seperti biasa, Suci berceloteh kendati ia tetap menyambut uluran tanganku. Bukan Suci namanya kalau ia tidak bercuap-cuap dulu atas apa pun tindakanku. Tapi toh dia tetap mau bergandengan tangan denganku di hari pertama dia menginjakkan kakinya di kantorku. Tanpa protes, dia berjalan di sampingku -- dalam genggaman tanganku.


Saat itu, senyum malu tak hentinya mengembang di wajah cantiknya saat kami berpapasan dengan karyawan-karyawan kantor dengan sapaan selamat pagi mereka yang diplomatis. "Kok seorang mantan model pemalu, sih?" tanyaku.


"Aku kan model di depan kamera, bukan di depan karyawan kantoran begini." Pipinya semakin merona. "Lagian kamu, sekretaris kok digandeng-gandeng segala?"


Aku tertawa. "Sudah, ya... jangan lagi menyebut dirimu sebagai sekretaris. Kamu istriku. Artinya kamu juga bos di sini."


"Huft, lega," gumamnya, dia cepat-cepat masuk begitu pintu lift terbuka dan ia langsung mencubit perutku. "Kamu sengaja, kan? Ngapain aku ke sini kalau aku tidak ada kerjaan? Terus, bagaimana dengan hutang-hutangku?"


Uh... cerewet....


"Hutang harus dibayar-lah, Sayang. Pakai ini...."


Dalam sekejap tubuhnya tertarik dan menempel padaku, terlindung dalam dekapan tanganku. Dia kaget, dan aku nyaris bisa mendengar detak jantungnya yang berdebar.


"Lepas, Mas...."


"Nope...."


"Malu... nanti pintunya kebuka gimana?"

__ADS_1


"Biarkan saja," bisikku, lalu aku menggigit lembut daun telinganya.


Dia merasa cemas, tapi juga menahan senyum malu. Sikapnya itu seperti remaja yang sedang pacaran sembunyi-sembunyi. "Mas, malu...," rengeknya. "Jangan begini...."


Dia tidak tahu, semakin dia berusaha mencegahku, semakin aku gemas menjahilinya. Dia lucu kalau dibuat gugup begitu. Aku malah semakin ingin bermain-main dengannya.


"Ih, kamu mau ap--"


Mau ciumlah. Itu, bibirnya langsung terbungkam. Kucium dia sampai kami sama-sama engap kehabisan napas.


"Mau lagi?"


Dia mendelik. "Jangan di sini... nanti di--"


Akhirnya Suci diam dan berusaha mengatur napas. Di saat yang bersamaan, pintu lift terbuka. Dia langsung membenahi penampilannya yang tidak terlalu berantakan. Kami pun keluar dan lekas-lekas masuk ke ruanganku. Di sana -- Karin sudah berada di belakang meja kerjanya dan berkutat dengan lembar-lembar kertas pekerjaannya saat kami masuk.


"Pagi, Pak," sapanya, lalu ia tersenyum, tatapan matanya beralih dariku ke Suci.


Suci yang ceria dan ramah langsung menjulurkan tangan. "Suci," katanya, memperkenalkan diri sembari menghampiri meja Karin.


"Karin."


"Ini istri saya," kataku.

__ADS_1


"Oh...." bibir Karin membulat. "Bukannya--" Dia menutup mulut. "Maaf, Pak."


Euw... dia pasti hendak menanyakan status duda keren yang melekat padaku tempo hari. Aku hanya tersenyum. "Kami sudah menikah dua minggu yang lalu," kataku. "Silakan, kamu lanjut kerja."


"Oh, iya, Pak. Baik."


Aku langsung melangkahkan kaki ke ruangan pribadiku, memegang kenop pintu dan menoleh ke Suci yang masih menyapu seisi ruangan dengan mata cokelatnya yang indah. "Sini," kataku, tanganku langsung menarik turun handle pintu dan membukanya.


Suci pun beranjak dari tempatnya berdiri dan masuk ke ruang pribadiku. Dan... cukup norak, haha. Dia berdecak wow hanya karena mengagumi isi ruangan itu. "Begini toh ruangan pribadi bos besar di kantor. Seperti hotel, ya. Lengkap." Lalu dia melirik tempat tidurku. "Untuk apa itu? Memangnya kamu ke sini mau tidur?"


"Kalau ngantuk, ya tidur, dong."


"Iya, sih. Tidak bagus juga maksain kerja."


"Nah, itu. Omong-omong, enak lo. Empuk. Mau dicoba?"


Dia ngakak. "Nyerempet-nyerempet, ya, kamu. Dasar...."


"Tidak mau?"


Dia menggeleng. "Aku capek...," rengeknya. "Tadi pagi kan udah. Eh, maaf, maaf. Tidak apa-apa kalau kamu mau lagi. Menolak suami kan dosa. Maaf, ya. Aku--"


"Kamu ngomong apa, sih, Sayang? Pikiranmu ke mana? Hmm?" Aku mendekat, lalu memeluknya dan berbisik, "Bilang saja kalau kamu yang kepingin lagi, ya kan? Aku bersedia. Jadi... bagaimana? Mau?"

__ADS_1


__ADS_2