Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Rahasia Billy


__ADS_3

Suci memintaku untuk mengantarnya ke rumah Billy. Dia ingin memberikan bantal khusus untuk ibu hamil itu kepada Indie sore itu juga. Dengan senang hati, kupenuhi permintaannya. Namun, ada pemandangan berbeda ketika kami sampai di rumah Billy.


"Ada apa?" gumamku. "Tidak biasanya Billy mengamankan rumahnya dengan penjagaan yang begitu ketat."


Dengan penasaran, aku pun turun dari mobil dan menyuruh Suci menunggu dulu di mobil, sementara aku menghampiri salah satu penjaga yang berjalan ke arahku.


"Kalian berjaga di sini?" tanyaku.


"Iya, Bos. Bang Billy yang memberi perintah."


"Memangnya ada apa?"


"Tidak tahu. Pokoknya kami dilarang membiarkan orang asing masuk ke sini."


Aku mengernyit. "Termasuk saya?"


"Bukan, Bos. Maksudnya orang yang tidak dikenal."


"Kenapa? Apa ada yang mengancamnya?" Aku mulai curiga.


"Kemungkinan begitu, Bos. Kami tidak tahu. Bang Billy hanya meminta kami supaya waspada."

__ADS_1


Sepertinya masalah ini lebih serius daripada yang kupikirkan. "Saya mau masuk."


"Silakan. Nona ada di dalam."


"Billy?"


"Tidak ada. Sedang keluar sebentar," katanya.


"Oke."


Aku segera kembali ke mobil dan membukakan pintu, lalu mengajak Suci masuk ke rumah Billy. Indie tengah melamun sendiri di lantai atas.


"Hei," kata Suci. "Melamunkan apa, sih?"


"Iyap, mau antar ini, dari Mama." Dia menyerahkan kantung besar itu kepada sang adik.


Dengan tak sabarnya, Indie membuka kantung itu dan menyobek plastik vakum hingga membuat bantalnya seketika berukuran normal. "Ya ampun, Mama perhatian sekali...."


"Ya, dong... Mama sayang pada anak dan cucu-cucunya."


"Ya, aku suka sekali. Terima kasih, ya, Mbak mau repot-repot mengantarkan ini ke sini."

__ADS_1


"Sama-sama." Suci mengelus kepala Indie dengan sayang. "Kamu sendirian? Billy ke mana?"


"Tidak tahu. Katanya cuma keluar sebentar, ada urusan. Tidak tahu mau ke mana dan ada urusan apa."


"Tapi kalian tidak bertengkar lagi, kan? Maksud Mbak, Mbak tahu kalian ada masalah. Tapi kalian tidak...?"


Indie menggeleng. "Tidak, Mbak. Kami tidak bertengkar. Tadi sewaktu pulang, Mas Billy malah berterimakasih karena aku bersedia ikut dia pulang. Sikapnya malah jauh lebih manis, mungkin karena merasa bersalah kali, ya. Dia malah berjanji akan seperti itu terus katanya. Padahal... itu tidak akan mengubah apa-apa. Tidak akan membuat rasa takut diduakan itu jadi hilang."


"Sudah, Dek. Jalani saja dulu, ya. Kita tidak punya pilihan lain."


Benar. Tidak ada pilihan lain. Mau bagaimana? Tapi itu tidak sepenuhnya benar.


Beberapa menit setelah itu, sewaktu kami turun ke lantai bawah, Billy pulang dengan beberapa kotak pizza di tangannya dan dua minuman cokelat. Kupikir dia sengaja membeli sendiri kedua jenis makanan dan minuman itu untuk Indie, untuk membahagiakan istrinya itu di tengah kekacauan yang tak sengaja terjadi dan tak sengaja ia sebabkan.


"Ini," katanya ragu, "saya... saya sengaja belikan ini khusus untukmu. Jangan lupa dimakan."


Indie menghampirinya dan menyambut benda-benda itu dari tangan Billy. "Terima kasih, Mas," ucapnya.


Billy mengangguk. "Kalau begitu saya permisi ke atas."


"Saya ingin bicara," potongku sebelum ia melangkah pergi.

__ADS_1


Untuk sesaat Billy terdiam, mungkin bingung, tapi akhirnya dia mau kuajak bicara. "Kita bicara di halaman belakang, Mas," ajaknya. Dengan gelisah, Billy berjalan di depanku dan langsung membuka pembicaraan sebelum aku mengajukan pertanyaan. "Roy curiga terhadap saya atas hilangnya Stella."


Oh Tuhan....


__ADS_2