Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Tentang Raymond


__ADS_3

"So, please, jangan mengecewakan. Oke, Man?"


Kuanggukkan kepalaku tanda setuju. "Gue bakal datang," ujarku. "Pasti. Tapi omong-omong, bagaimana ceritanya? Perjodohan lagi? Terus, calon istrinya perawan?"


Roby melirik ke arah dua perempuan di meja sekretaris. Jessy dan Karin nampak menyimak obrolan kami. "Kalian berdua masuk, gih. Temui Suci," titahnya.


Paham. Jessy dan Karin pun segera menyingkir dari hadapan kami.


"Sama sekali berbeda," jelas Roby kemudian. "Tapi jangan ceritakan ini pada siapa pun, ya. Kita bukannya membuka aib orang. Gue anggap lu masih sahabatnya Raymond, makanya gue mau cerita soal ini ke lu."


Aku mengangguk. Aku sangat paham. "Ya, santai saja," kataku.


"Kali ini bukan perjodohan, Ngga. Raymond akan menikahi karyawannya."


"Gimana ceritanya, Rob?" tanyaku antusias, aku sangat tak sabar mendengar cerita dari Roby.

__ADS_1


"Seperti biasa. Lu tahu sendiri, kan, kalau dia suka sekali merekrut gadis-gadis yang, maaf, dari ekonomi kelas bawah? Tahu, kan?"


Aku mengangguk lagi. "Yap," kataku membenarkan. "Raymond dari dulu seperti itu. Untuk membuka peluang mengambil keuntungan dan kesempatan."


"Nah, kali ini juga begitu, Bro. Pas sekali gadis itu mengajukan pinjaman, malah langsung dia manfaatin. Kalau tidak mendesak, gue rasa gadis itu nggak bakalan mau menerima tawarannya Raymond, soalnya dia perawan. Pasti gadis baik-baik dong, ya? Iya, kan?"


Yeah, tapi aku malah bingung, dan heran. "Bukannya dia nggak mau, ya, menyentuh perawan? Eh, apa dia belum nyentuh?"


"Lu salah, Man...."


"Yap."


"Dia nggak nanya dulu perawan apa nggak-nya? Kan biasanya dia nanya dulu sebelum melakukan."


"Ya nanya... ceweknya juga jujur kalau dia masih perawan. Tapi... Raymond terlanjur penasaran bagaimana rasanya menjajal perawan. Ya... gara-gara... maaf, gara-gara dia kehilangan Suci."

__ADS_1


Duh, masih saja.


"Makanya dia nekat nge-unboxing itu cewek. Eh, setelah itu dia malah terus-terusan dihantui oleh rasa bersalah. Kualat, kan?"


Ya Tuhan... aku ingin tertawa tapi takut dosa. "Jadi, karena itu dia mau bertanggung jawab? Hmm?"


"Yap." Roby terkekeh. "Itu yang gue suka dari Raymond. Hatinya itu sebenarnya baik, makanya dia sampai merasa bersalah begitu, ya nggak, sih? Ya memang, dia hanya tidak bisa mengendalikan diri dari *eks, tapi dia selalu bisa berkeras untuk tidak berhubungan dengan perawan. Sekali pertahanannya runtuh, dia merasa sangat bersalah dan ingin bertanggung jawab. Sobat gue itu. Dia itu persis lu. Asli."


Hehe. Persis aku. Benar. Persis.


Tapi bedanya kalau waktu itu aku tidak mabuk dan tidak di bawah pengaruh obat perangsan*, aku yakin, aku tidak akan pernah menyentuh Suci.


"Baguslah. Siapa tahu ini jadi jalan supaya dia sembuh, ya kan? Gue harap pernikahan mereka berjalan dengan lancar, dan semoga setelah menikah nanti... dia bisa mengendalikan dirinya dari kebiasaan lamanya. Dan, yang paling penting semoga dia bisa setia pada satu perempuan saja. Aamiin."


Harapan yang nyata. Hingga satu minggu kemudian....

__ADS_1


Pada akhir pekan yang indah, pernikahan Raymond diselenggarakan dengan meriah dan super megah khas anak konglomerat. Orang tuanya yang meminta resepsi itu diadakan semewah mungkin karena itu pernikahan anak pertama mereka, sambutan untuk menantu pertama di keluarga Dwi Anggara. Aku turut bahagia untuk dia -- yang jauh dari dasar hatiku, masih kuanggap sebagai sahabat karibku.


__ADS_2