Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Balada Hujan Lebat


__ADS_3

"Oke. Bagaimana kalau itu memang anakku? Bagaimana perasaanmu nanti?"


"Biasa saja. Kan kamu tidak akan menduakan aku dengan ibunya. Justru aku akan ikut menyayanginya. Kecuali... kalau kamu sampai macam-macam pada ibunya, aku tidak akan--"


"Tidak akan. "Kutarik ia ke dalam pelukanku. "Aku tipe lelaki setia. Dan... jangan khawatir, aku akan menuruti semua kemauanmu. Aku akan menyayanginya kalau terbukti itu anakku. Tapi aku tidak yakin."


Suci menempelkan jemarinya di bibirku. "Jangan bahas ini. Tunggu saja waktunya. Oke? Mending sekarang kita...?"


Dia memberikan senyuman penuh arti -- yang sangat kumengerti. Tetapi...


Tok! Tok!


Ada iklan lewat.


Cokelat panas pesanan Suci datang.

__ADS_1


Yap, cokelat panas menjadi minuman yang nikmat tatkala hujan turun dengan lebat. Ditambah lagi dengan pizza ekstra keju sebagai teman yang cocok untuk mengisi perut. Aku sudah membukakan kotak kedua sewaktu Suci berkirim whatsapp. Dia sedang chatting dengan Indie sambil mengunyah pizza di mulutnya. Kata Indie, dia dan Billy sudah baik-baik saja. Dia meminta Suci untuk tidak mengkhawatirkan keadaannya. Dia bahkan mengirimkan fotonya -- berdua dengan Billy yang tengah tertidur pulas di sampingnya, di ranjang rawat rumah sakit itu. Suci juga sudah mengirimkan foto itu ke ibunya. Dia memberitahukan kalau Indie sempat pingsan dan dilarikan ke rumah sakit. Sekarang keadaannya sudah baik-baik saja, dan ia meminta beliau untuk tidak khawatir pada anak-anaknya. Bahkan Suci juga memintaku untuk foto berdua dengannya.


"Untuk apa?" tanyaku.


"Untuk ditunjukkan ke Mama kalau kita juga baik-baik saja dan lagi berduaan di hotel."


"Malas ah," tolakku. "Kurang kerjaan, seperti ABG saja apa-apa mau difoto. Tidak usah, ya?"


Dia merengut. "Mentang-mentang sudah tua. Lupa, ya, kalau aku baru dua puluh satu?"


Hmm... ya sudahlah, yang tua mengalah. Risiko punya istri yang masih muda dan kekinian. Aku pun bersedia diajak berfoto, lalu setelah itu Suci mengirimkan foto itu ke ibu mertuaku yang mungkin sedang tersenyum geli di rumahnya.


"Belum. Baru juga satu ronde."


"Eh, sinting...! Pertanyaanku bukan menjurus ke situ...."

__ADS_1


Suci kembali terbahak-bahak. "Kalau aku mau menjawabnya menjurus ke situ, memangnya kenapa? Hmm?"


"Ya terserahlah," kataku. Kugaruk kepalaku yang mendadak gatal karena kelakuan istriku yang rada-rada itu. "Sudah chatting-nya, Yang," tegurku kemudian karena melihat Suci yang masih sibuk dengan ponselnya. "Biarkan Indie menemani suaminya tidur. Billy pasti sudah lama tidak tidur nyenyak."


Suci menyunggingkan senyum. "Ya," katanya. "Ini pelajaran juga untuk kita, ya. Kalau kita ada masalah, cepat-cepat cerita. Jangan disimpan sendiri."


"Tergantung apa masalahnya juga, sih."


"Apa pun masalahnya, Mas. Yang namanya suami istri itu mesti berbagi. Jangan ada rahasia. Oke?"


"Ya," kataku seraya mengangguk. "Asal kamu bisa mengontrol emosi dan tidak membahayakan anakku. Itu saja syaratnya."


Semringah. Suci beralih duduk rapat di sampingku. "Nah, barusan kamu sudah janji. Sekarang aku mau menanyakan sesuatu, boleh?"


Heran. Aku mulai waspada. "Apa?" tanyaku.

__ADS_1


"Emm... begini. Aku pernah bertanya ke Jessy tentang kamu, apa saja yang Jessy ketahui tentang atasannya. Dan katanya... kamu punya alergi unik." Dia memainkan jarinya, kode tanda kutip. "Kamu paling anti menerobos hujan. Kenapa? Aku ingin tahu. Beritahu aku, ya, apa alasannya? Please... ya?"


Aku terdiam.


__ADS_2