Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Anugerah


__ADS_3

"Yang...?"


"Ya...?"


"Ini testpack?"


"Mmm-hmm...."


"Positif? Punya kamu?"


"Mmm-hmm...."


"Kamu hamil?" tanyaku seakan masih tak percaya.


Suci mengangguk, tersenyum.


"Serius?"


"Ya."

__ADS_1


"Benar, Yang?" Aku memeluknya tanpa menunggu ia menjawabku. "Kamu tidak bercanda, kan?"


"Iya, Mas. Aku hamil." Suci melepaskan diri dari pelukanku, kemudian meraih tanganku dan menempelkan tanganku di perutnya yang masih rata. "Aku mengandung anakmu."


Ya Tuhan... saking bahagianya, aku sampai kehilangan kata-kata. Tak terasa, mataku pun ikut berkaca. "Ak--aku--aku bahagia. Sumpah. Aku sangat bahagia." Kusambar kembali istriku ke dalam pelukan. "Terima kasih, Sayang. Terima kasih. Terima kasih, banyak."


Praktis, sejuta ciuman menghujani wajahnya sampai aku memeluknya lagi. Aku tahu aku menangis seperti lelaki payah. Air mata menetes membasahi pipi.


"Terima kasih, Tuhan. Terima kasih Kau sudah mengabulkan doa-doaku." Kucium kening istriku sekali lagi. "Terima kasih. Ini hadiah ulang tahun terindah untukku. I love you so much. Terima kasih."


Haru. Suci pun menangis dalam kebahagiaan. "I love you too, Mas. Kamu suami yang baik. Kamu pantas mendapatkan hadiah ini dari Tuhan."


I love you, Sayang. Papa sangat menantikan kehadiranmu....


Yeah, itu hari ulang tahun terbaik dalam hidupku, dan, hadiah terindah yang Tuhan berikan kepadaku. Kalau saja tak mengingat waktu yang benar-benar larut, hampir jam satu malam, ingin aku selalu terjaga dan memeluknya sepanjang waktu, tapi istriku, anakku, dan diriku butuh istirahat.


"Sejak kapan kamu tahu kalau kamu hamil?" tanyaku sebelum kami tidur -- dalam kehangatan selimut dan saling berpelukan.


Suci meraih tanganku, menaruh telapak tanganku di pipinya bak seekor kucing yang minta dibelai. "Baru seminggu ini," katanya. "Aku berniat memberitahumu, tapi kupikir ini akan menjadi hadiah ulang tahun yang terindah untukmu. Kejutan yang akan sangat membahagiakanmu. Jadi, aku bisa menahan diri untuk merahasiakannya dulu darimu. See, benar, kan? Ini kejutan yang sangat membahagiakan."

__ADS_1


Aku mengangguk. "Benar. Ini benar-benar sangat membahagiakan. Dan omong-omong, tentang nasi padang siang tadi...? Kamu ngidam?"


"Bisa jadi. Mungkin itu yang dinamakan ngidam."


" Bagus keturutan. Biar nanti anakku tidak ileran."


"Iiiiih...." Suci tertawa ngakak. "Memangnya kamu percaya pada hal yang seperti itu?"


"Kata orang begitu. Roby saja percaya. Serius. Eh? Omong-omong soal ngidam, kamu ada kepingin apa lagi? Beritahu aku. Biar aku carikan."


Refleks, Suci menutup mulutnya sambil manahan tawa. "Kamu ini, Mas. Rempong, deh!"


"No." Aku mencium keningnya. "Aku sudah lama menantikan momen ini. Dari dulu aku kepingin seperti orang-orang, seperti para suami yang ikut berperan saat istrinya hamil. Tidak salah, kan?"


Suci mengerti. Dia memahamiku sepenuhnya, lalu tersenyum hangat. "Maaf, aku tidak bermaksud menyinggung. Dan itu sama sekali tidak salah. Maaf, ya?"


"Ya. Bukan masalah. Pokoknya, kalau kamu kepingin apa pun itu, bilang saja. Apa pun itu akan kupenuhi. Tanpa terkecuali. Apa pun."


Dia nyengir. "Terima kasih, Mas. Aku yakin kamu akan menjadi ayah yang terbaik. Jaga aku, ya? Jaga anak kita. Aku takut keguguran lagi."

__ADS_1


Tidak akan. Tidak akan kubiarkan hal buruk itu terjadi lagi. Akan kujaga anugerah terindah ini sekuat dan semampuku, dengan nyawaku. Sampai embusan napas terakhirku....


__ADS_2