Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Hadiah Terindah


__ADS_3

Waktunya memotong kue.


Dengan menyingkirkan lilin-lilin kecil di atasnya, kupotong kue cokelat spesial buatan istriku dan memindahkan sepotong ke piring kecil, lalu menyendokkan dan menyorongkannya ke bibir mungil istriku yang layak mendapatkan suapan pertama.


"Terima kasih, Sayang. Aku suka perhatianmu. Dan sumpah, aku sangat bahagia."


Suci mengangguk tersenyum dan balas menyuapiku. "Sama-sama, Mas. Maaf cuma merayakannya berdua dan sesederhana ini."


"Tidak apa-apa. Sama sekali bukan masalah. Malahan, sebenarnya aku memang tidak mau merayakan ulang tahunku dengan pesta yang ramai. Tidak pernah juga."


Suci menatapku tak percaya. "Serius?" tanyanya.


"Serius."


"Dulu?"


"Pernah, sih, waktu aku masih kecil."


"Bukan, maksud... waktu kamu...?"


Aku menggeleng.

__ADS_1


"Jadi bagaimana cara kalian merayakan ulang tahun?"


Aku mengedikkan bahu. "Sama. Hanya berdua, makan malam, tiup lilin, kasih hadiah, ya begitu deh. Yah... meskipun lebih mewah. Tapi kamu tetap punya nilai plus." Kugenggam kedua tangannya dan bicara sambil menatap kedua matanya. "Kenapa? Karena kamu menyiapkan semua ini sendiri dengan tanganmu. Bukan dengan bantuan orang lain. Aku terkesan. Dan yang paling penting adalah karena niatmu tulus. Maksudku... aku merasa kamu melakukan ini bukan sekadar seperti formalitas untuk memerankan statusmu sebagai seorang istri, sebagai pasangan yang baik. Aku merasa ini benar-benar wujud caramu menyampaikan rasa sayangmu kepadaku. Terima kasih. Aku suka, dan aku benar-benar sangat bahagia. Big thansk for you, Baby."


Kemi berpelukan, begitu erat.


"Nah, apa sekarang aku boleh mendapatkan hadiahku yang lain?"


Sambil melepaskan pelukan dari satu sama lain, dia terkekeh.


Apa ada yang lucu?


"Ini," katanya. Ia mengambil sebuah kotak dari laci di samping tempat tidur. Dari bentukan kotaknya, aku bisa menebak kalau itu sebuah jam tangan. Kotak jam tangan. Dia memberikannya kepadaku. "Maaf, ya, aku tidak bisa memberikan barang yang mahal."


"Hu'um. Kan kamu seorang pria kaya, uangmu banyak, dan kamu bisa membeli apa pun yang kamu inginkan."


"Sudah. Jangan dibahas lagi," kataku yang sedang menyobek bungkus kado hadiahku. "Apa pun yang kamu beri, aku pasti suka."


Suci tersenyum. Dan, benar. Persis dugaanku, setelah aku berhasil membuka pembungkus kadonya, isinya memang kotak jam tangan, dan, aku menyadari ada hal yang konyol.


"Terima kasih, lo, Sayang. Tapi sepertinya ini jam tangan lama punyaku."

__ADS_1


Ia terkikik. "Iya, iya, benar. Itu memang jam tanganmu. Aku cuma iseng."


"Hmm... jadi?"


Dia mengeluarkan kado lain dari laci. "Ini hadiah spesial untukmu. Jangan lupa dipakai."


"Apa isinya?"


Suci melotot. "Dibuka dong...."


Baiklah. Aku mengangguk. Kubuka lagi satu kado lain yang ia berikan kepadaku. Tetapi...


Iyuuuh! Menggelikan! Aku terkekeh dibuatnya. Konyol sekali istriku, dia memberiku boxer warna kuning terang dengan motif Spongebob Squarepants. "Hmm... ya, ya. Aku tidak pernah mendapatkan kado seunik ini. Terima kasih, Sayang."


"Dibuka dulu, Mas. Dicobain...."


"Lain kali, ya."


"Mas...," bujuknya. "Pakai sekarang, ya?"


Huh! Demi tidak mengecewakannya, sambil meredam tawa, kuturuti permintaannya. Kukeluarkan boxer itu dari kotak pembungkusnya seraya berkata, "Ini boxer yang sangat unik. Terima kasih, Sayang. Aku janji akan memakai...."

__ADS_1


Sebuah benda terjatuh saat aku merentangkan boxer itu dan membuatku tertegun. Aku menunduk, mengulurkan tangan dan langsung mengambilnya.


Testpack?


__ADS_2