Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
(Happy) Ending


__ADS_3

Masih teringat jelas kengerianku saat itu. Akhir dari dendam yang tak pernah kusangka akan seperti itu penyelesaiannya. Aku membunuh Roy, sahabatku sendiri, dan sebagai taruhan terakhir -- tumbal dalam pertikaian ini adalah nyawa anak dan istriku sendiri yang mesti berjuang melawan maut di ruang operasi.


Dalam keteganganku yang nyaris putus asa, suara tangis bayi kecil itu menarikku kembali dalam cahaya harapan. Ia terpaksa dikeluarkan dari rahim ibunya meski organ tubuh yang ia miliki belum sempurna. Dia terlahir premature, dan terpaksa melanjutkan hidup dengan bantuan obat-obatan, peralatan medis dan sebuah inkubator.


Sakit. Sakit sekali hatiku melihat perjuangan mereka: dua orang yang sangat berarti di dalam hidupku. Istriku Suci nyaris meregang nyawa, darahnya yang mewarnai pakaianku bahkan berhasil mengutukku dalam kebisuan. Bukan sekadar menjalani operasi karena luka tusuk, tapi ia terpaksa menjalani operasi cesar, dan anakku, bayi malang itu dipaksa keluar dari rahim ibunya. Sakit, sangat sakit ketika aku harus melihatnya terbaring lemah di dalam inkubator. Harusnya dia masih hangat di dalam tubuh ibunya. Bukan dengan peralatan medis dan obat-obatan yang membantunya untuk berjuang hidup. Tapi aku bisa apa? Tak ada satu pun yang bisa kusalahkan selain diriku sendiri. Semua ini berakar dariku, karena kebodohan dan kesalahanku di masa lalu. Lelaki idiot! Berengsek!


Akulah yang bersalah.


Tapi puji syukur Tuhan masih memberiku satu keberuntungan. Anak dan istriku selamat. Itu sudah cukup bagiku. Meskipun, itu juga merupakan hari -- peristiwa -- yang paling tragis dan tidak akan pernah bisa kulupakan. Selain menumbalkan nyawa sahabatku sebagai akhir dari dendam berujung maut itu, aku pun terpaksa menumbalkan seseorang untuk menggantikan hukuman atas diriku.


Regina.

__ADS_1


Wanita berstatus janda satu anak itu, rela mengorbankan dirinya hingga dijatuhi hukuman penjara -- menggantikan posisiku. Di TKP, dia yang hari itu kebetulan juga berada di dalam toilet -- setelah bertemu Billy untuk menyerahkan beberapa berkas dan dokumen penting -- ia mengaku kepada polisi bahwa dia yang sudah menembak Roy dengan senjata miliknya -- senjataku yang tertinggal di sana -- senjata yang sengaja ia akui bahwa dia mencuri senjata itu dari ruang kerjaku. Dia mengaku kepada pihak berwajib bahwa dia menyimpan dendam terhadap Roy sebab lelaki itu menularkan HIV kepadanya.


Oh, Tuhan, aku tercengang. Roy ingin ada banyak orang yang menemani dan mati bersamanya. Termasuk Lady, Regina, juga... Karin.


Sungguh, bukan sebagai pemenang, aku justru merasa menjadi orang yang paling gagal dalam hal ini: suami yang gagal, sahabat yang gagal, bahkan pimpinan perusahaan yang gagal.


Namun apa dayaku, aku ingin mengakui bahwa aku yang sudah menembak mati Roy, tapi itu akan membuat pengorbanan Regina menjadi sia-sia, aku akan dihukum penjara dan meninggalkan anak dan istriku, bahkan motif penyerangan Roy terhadap Suci karena ingin mengajaknya mati bersama, tentu akan merembet pada hal-hal lain, termasuk pada kasus hilangnya Stella.


Sebagai gantinya, Regina meminta perusahaan untuk menanggung biaya hidup untuk keluarganya dan membiayai pendidikan untuk adiknya dan anaknya. Tapi kurasa itu bukan harga yang setimpal untuk waktu yang mestinya masih ia miliki untuk bersama keluarganya, sebelum HIV itu menggeroti jiwanya semakin dalam. Harusnya dia masih bisa bersama anaknya, bersama adik dan ibunya. Bukannya menghabiskan sisa hidupnya di penjara, jauh dari keluarga.


Tetapi aku juga tidak punya pilihan, bahkan di saat Suci baru tersadar pasca operasi itu, Indie sudah memohon lebih dulu kepadanya supaya Suci bersedia menuruti skenario itu. Demi seluruh keluarga, terutama demi anak-anak kami, dan, juga demi ibu mereka: Mama Rani yang shock berat atas peristiwa penusukan yang dialami oleh Suci. Akhirnya, Suci yang kukenal sebagai pribadi yang bijak dan tidak ingin mengorbankan orang lain itu, pada hari itu -- memohon, dia juga memintaku untuk melakukan hal yang sama. Mengakui sekenario dari Regina.

__ADS_1


Aku kalah.


Dan sejak hari itu, penjahat ini terus hidup dalam kebohongan. Dari luar ia nampak seperti malaikat yang menopang kehidupan banyak orang, tapi pada dasar hatinya yang terdalam, dia tahu -- dialah sang penjahat yang sesungguhnya. Si pembunuh berdarah dingin. Manusia terlaknat di muka bumi.


Yah, karena kesalahanku, dendam, dan sifat kekanakanku, kisah ini berakhir dengan tragis, entah akhir yang bahagia atau bukan, tapi cerita balas dendam ini telah usai, kawan. Dan Suci -- Suci yang luar biasa itu, dia selalu bersedia bersamaku. Menemani dan mencintaiku tanpa peduli bagaimana masa laluku.


"Lupakan masa lalu," katanya. "Aku punya sejuta cinta yang akan mewarnai kehidupanmu. Dan aku, istrimu, Suci Mayang Sari Sanjaya, aku akan selalu ada di sisimu, walau apa pun yang terjadi. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu."


Oh Tuhan, sungguh aku terharu. Dia, cinta sejati yang dikirimkan Tuhan untukku. Cinta terakhirku, teman hidup terbaik -- teman yang bersedia mendampingiku dalam duniaku yang penuh dengan kepalsuan. Tanpa dia, aku hanyalah seorang pendosa yang kejam.


Dan, Anugerah Putra Sanjaya. Putraku. Aku berharap dia tidak akan pernah tahu: bagaimana karakter ayahnya yang sesungguhnya.

__ADS_1


I love you, Nugi. Seburuk apa pun papamu ini, Papa sangat mencintaimu. Kau malaikat kecilku. Dan, kau, Sayang, terima kasih atas cintamu yang suci. Terima kasih untuk selalu ada di sini. Aku mencintai kalian....


__ADS_2