
"Nah, kita sudah sarapan. Sekarang waktunya. Hmm?"
Ya ampun, istriku mendadak jadi tukang tagih.
"Ayolah, Mas...."
"Oke." Aku mengangguk, lalu berdeham.
"Mas...."
"Iya, Sayang...."
"Apa? Cerita...."
"Hatimu siap? Jantung? Mental? Psikis?"
"Mas...."
"Siap, tidak?"
"Iya, Mas...."
"Oke. Baiklah. Sebenarnya ini tidak--"
"Langsung ke inti!"
"Inti dirimu?"
"Mas...!" suaranya kembali melengking sementara aku terbahak-bahak.
Dia lucu sekali!
"Jangan lama...."
__ADS_1
"Apanya? Besok lagi, Sayang...."
"Ya ampun, dasar mesum!"
"Lady Sandra meninggal."
"Hah?"
"Tuh kan, katanya langsung ke inti. Kamu, sih...."
Tapi Suci masih mematung, mau tidak mau aku mesti berdiri dari kursiku untuk menenangkannya. Kupeluk ia erat-erat seraya mengelus punggungnya. "Please," kataku. "Jangan kaget, ya... oke... oke... rileks. Rileks, ya, Sayang. Jangan membuatku khawatir. Rileks, ya. Bisa, kan, Sayang?"
"Ya. Ya, Mas. Bisa. Aku bisa." Dia mengangguk-angguk, jelas masih shock. "Demi Tuhan, aku tidak menyangka kalau bisa secepat itu. Kukira HIV...."
Kulepas pelukanku dan aku menggeleng. "Bukan," suaraku tercekat. "Bukan karena HIV."
"Lo? Kok?"
"Oh... kok malah?"
"Kemarin, di dekat rumah sakit. Mungkin...."
"Mungkin... apa...?"
"Mungkin karena dia ketakutan gara-gara aku mengejarnya. Mungkin...."
"Mas... no. Jangan... aku tidak tahu... entah... aku tidak tahu harus bicara apa. Tapi... please, kamu... kamu jangan merasa bersalah. Aku--"
"Tidak, kok. Jangan khawatirkan aku. Maksudku... kemarin iya, semalam... intinya sekarang perasaanku sudah sedikit lebih baik. It's ok. Aku tidak apa-apa."
Suci mengangguk, dia balas memelukku. Dan kami terus berada di posisi itu untuk waktu yang cukup lama. "Semuanya akan baik-baik saja. Aku di sini. Aku bersamamu."
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih. Aku butuh kamu, selalu butuh kamu di sisiku. Jangan pernah meninggalkan aku, apa pun yang terjadi, apa pun yang sengaja atau tidak sengaja kulakukan, ya? Janji?"
__ADS_1
Lagi, Suci mengangguk. "Aku janji. Aku janji. Aku akan selalu di sini, di sisi Mas Rangga. Aku janji tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku tidak akan ke mana-mana."
Itu sudah cukup bagiku. Aku percaya sepenuhnya pada istriku. Dia hanya menginginkan kesetiaan dariku. Dia bisa mentolerir semua kesalahanku selama aku melakukan kesalahan itu tanpa sengaja. Tanpa niat untuk mencelakai orang lain.
"Temani aku ke panti. Mau, ya? Please? Aku mau melihat keadaan anak-anaknya Lady. Mau memastikan kalau keadaan mereka... aku harap keadaan mereka baik-baik saja."
Suci menghela napas dalam-dalam. Dia bersedia menemaniku. Bahkan lebih dari menemani, dia bisa kuandalkan. Dia bisa mendekati anak-anak itu untuk mengajak mereka bicara. Sementara itu, aku menemui pengurus panti. Orang-orang baru yang tidak kukenal, yang terasa asing, seasing bangunan-bangunan itu sendiri karena mengalami banyak perubahan. Namun, di sisi lain, di dalam ingatanku, semua perasaan kelam yang dulu menyelubungi kehidupanku masih sangat terasa jelas. Ingatan-ingatan itu seolah berlomba-lomba untuk muncul dan terlintas di dalam benakku. Tapi tidak apa, aku punya satu kenangan yang manis di masa lalu, di tempat ini, di mana dulu Mama Sania menghampiriku: wajahnya, senyumnya, dan kelembutan tangannya membelai wajahku, mengusap rambutku, semuanya masih sangat terasa jelas. Caranya yang waktu itu menggenggam tanganku, lalu memberikan pelukan yang hangat untukku, itu satu-satunya bagian manis yang tidak akan pernah bisa kulupakan dari tempat ini, tempat yang saat ini kupijaki. Kilasan masa lalu itu terasa nyata di depan mata. Seperti sebuah adegan film yang ditayangkan kembali ke hadapanku -- yang hanya bisa dilihat olehku. Dan saat ini, aku melihat ulang kenangan itu -- dalam kenyataan, versi nyata: di dalam diri Suci. Sebab, dia persis Mama Sania. Dia begitu lembut terhadap anak-anak panti. Dan melihatnya seperti itu, perasaanku sangat tersentuh. Dia luar biasa.
"Bagaimana?" tanyaku saat Suci kembali menghampiriku, ada salah satu pengurus panti yang saat itu bersamaku.
Suci bersalaman dengan ibu pengurus panti, lalu berkata, "Mereka cuma minta satu hal, jangan pisahkan mereka dengan satu sama lain. Bisa, kan, Mas?"
Aku mengangguk. Aku bisa menjanjikan hal itu. Mana mungkin aku bisa menolak. Mereka saudari sedarah, satu keluarga. Tidak akan tega aku membiarkan mereka merasakan kehidupan sebatang kara seperti yang kurasakan dulu.
"Mas?"
"Ada apa?"
"Ada yang ingin kusampaikan. Kita mesti bicara empat mata."
Mengerti, ibu pengurus panti langsung berpamitan dan kembali ke ruangannya. Sementara, aku dan Suci memilih untuk berbicara di mobil. Dari ekspresinya, aku tahu Suci hendak menyampaikan hal yang sangat serius. Dia membuat perasaanku kembali merasa tidak nyaman.
"Ada apa, Yang?"
"Mereka sebenarnya bertujuh, Mas."
"Hah?"
"Yah. Yang dua orang lagi hilang. Ada yang membawa mereka secara paksa. Mas Roy."
Ya Tuhan... mataku terpejam. Ada sesuatu yang terpikirkan namun sulit untuk kujelaskan, dan suatu perasaan yang tak mampu kujelaskan. Semacam rasa bersalah. Aku yakin semua yang terjadi itu saling berkaitan, terhubung seperti benang kusut. Sebab musabab yang terus menjadi simpul mati dan tidak dapat terurai, kecuali memotongnya -- memutusnya dari akar masalah itu sendiri: Roy. Dia yang mesti tersingkir. Sudah terlalu banyak korban yang berjatuhan dalam lingkaran setan ini.
Ya Tuhan, Kau tahu hal ini tidak akan bisa diselesaikan dengan jalur hukum. Terlalu banyak orang yang melakukan kesalahan dalam lingkaran setan ini. Terlalu banyak orang yang mesti dihukum jika masalah ini sampai ke jalur hukum. Bahkan aku dan Suci, juga Billy dan para anak buahku ikut andil dalam kekacauan ini, dalam kematian beberapa orang. Jika satu kasus tercium oleh pihak berwajib, maka kasus-kasus lain akan turut diusut. Tidak bisa. Aku mesti menyelesaikan -- mengakhiri kekacauan ini dengan caraku. Aku harus mengingkari sumpahku -- syarat pernikahan yang tidak bisa lagi kupenuhi kepada Suci. Karena Roy -- dia harus tersingkir. Harus.
__ADS_1