
Sejak kandungan Suci sudah memasuki akhir trimester kedua, kami sudah pulang ke rumah kami sendiri. Dan, pagi itu, Suci sudah menyibukkan dirinya di dapur setelah kami sarapan pagi. Sewaktu aku bertanya dia mau memasak apa, katanya dia mau memasakkan rendang ayam untuk Mama Rhesmi.
"Kamu terlalu baik, tahu! Makanya sering dimanfaatkan orang."
Dia hanya tersenyum. "Ada kamu yang menentukan apa-apa tentangku, apa yang boleh dan tidak boleh kulakukan. Bagaimana orang lain bisa memanfaatkan aku?"
"Ya, terserah kamu sajalah."
"Oke, Masku Sayang. Jadi boleh, kan?"
"Em. Tapi awas, jangan sampai kecapekan. Kasihan anakku di perutmu."
Lagi, Suci tersenyum. "Iya, Mas...," sahutnya. Dia sudah biasa mendengar kecerewetanku soal kesehatan anak kami yang ada di rahimnya.
Menjelang jam makan siang, kami pun segera pergi ke rumah sakit. Mama Rhesmi sangat senang menerima masakan yang spesial dimasakkan Suci khusus untuk dirinya.
Tetapi, lain ibu, lain pula dengan anaknya. Saat aku berusaha bersikap baik kepada Rhea yang sudah mengetahui kalau bayinya bukanlah darah dagingku, Rhea masih saja bertingkah menyebalkan.
Demi Tuhan, aku tulus meminta maaf kepadanya dan menyadari apa pun yang menimpa dirinya dan Biktor itu juga karena andilku, karena balas dendamku atas pengkhianatan dan perselingkuhannya dengan mendiang Biktor. "Aku janji," kataku, aku duduk di samping ranjang rawatnya. "Aku akan membantu membiayai semua kebutuhan anakmu. Dan, aku juga akan bertanggung jawab pada masa depannya kelak. Aku janji, Rhe."
"Tapi bukan hanya materi yang kami butuhkan."
__ADS_1
"Stop, Rhe. Jangan--"
"Aku butuh kamu menjadi suamiku. Aku butuh kamu menjadi ayah dari anakku. Tolong, kita rujuk, ya?"
Sebal. Aku berdiri dengan sedikit emosi. "Kamu tahu sendiri bagaimana aku menghormati istriku. Denganmu dulu saja aku setia, apalagi sekarang kepada Suci." Aku menggeleng-geleng keheranan, betapa tidak ada malunya perempuan itu. "Kamu memang tidak bisa dikasih hati."
"Rangga!" Dia turun dari tempat tidurnya saat aku hendak menarik Suci keluar dari sana. Tanpa terduga, dia meraih pisau buah dari atas meja dan mengancamku, ditempelkanya mata pisau itu di pergelangan tangannya, lalu ia berkata, "Untuk apa aku hidup kalau aku tidak bisa bersamamu seperti dulu? Aku butuh kamu, Rangga...!"
Dasar setres!
"Tolong, Suci, tolong bujuk Rangga...."
Suci menggeleng. Tak sudi.
"Sebentar, Mbak...."
"Apa?" lengkingnya.
"Coba dites dulu, kalau perlu langsung di leher."
"Jahat kamu, Ci!"
__ADS_1
"Lo? Salahku di mana? Kamu mau mati, kan? Silakan. Aku rela kok jadi ibu pengganti untuk anakmu."
Rhea berang. "Sialan kamu!" bentaknya. Dan, bukannya mau melanjutkan bunuh diri, dia malah hendak menyerang Suci.
"Sinting!" raungku.
Aku berhasil menangkis serangannya dan tak sengaja mendorongnya sampai ia tersungkur di lantai. Pisaunya jatuh, dan ia cidera di bagian perut bawahnya. Kesakitan. Mendengar jeritan Rhea, Mama Rhesmi lekas-lekas masuk dan ikut histeris. Dan tidak lama kemudian ada dokter dan suster yang masuk ke ruang rawatnya.
"Ada apa ini?"
"Pasien depresi, Dok. Dia hendak menyerang kami dengan pisau," kataku.
"Semuanya harap keluar," kata dokter. Lalu ia menyuruh suster untuk menyingkirkan pisau yang tergeletak di lantai dan memberi Rhea suntikan penenang.
Di luar ruangan, aku menggeleng-geleng karena kesal. "Menyesal aku masih bersikap baik hanya karena statusnya yang sekarang seorang ibu. Dia tidak pantas dikasihani. Maaf saja, aku tidak akan sudi lagi menemuinya. Mati saja sekalian! Perempuan sinting!"
"Mas...," tegur Suci, dia melirik ke Mama Rhesmi yang menangis di depan pintu ruang rawat. "Jangan bicara seperti itu, kasihan...."
Aku menggeleng, tak sependapat dengan Suci. Kuraih tangannya dan menariknya keluar dari rumah sakit. "Maaf, Ma, kami masih ada urusan, permisi."
Kami pun melangkah pergi, meninggalkan Mama Rhesmi yang mesti menanggung semua penderitaan atas ulah putrinya.
__ADS_1
Tuhan terkadang lucu. Kenapa bukan kami saja yang diberi orang tua kandung yang baik dan berumur panjang? Sungguh terbalik.