
Lega.
Tepat seperti dugaanku: bayi perempuan itu bukanlah darah dagingku. Aku bukanlah ayah kandungnya. Tidak perlu melakukan tes DNA jika golongan darahnya saja tidak sesuai dengan golongan darahku dan golongan darah Rhea yang sama-sama B, sedangkan bayi itu memiliki tipe golongan darah O.
Tetapi, sewaktu aku hendak kembali ke ruang bersalin, aku melihat Rhea dalam keadaan terkulai lemah. Jadi ya sudahlah, aku tidak bisa berlaku terlalu kejam kepadanya melihat kondisinya seperti itu. Bagaimanapun juga, dia sekarang adalah seorang ibu. Sebab itu, aku akan menyerahkan tanggung jawab menyampaikan fakta ini kepada Mama Rhesmi. Kuajak ia keluar dari ruangan dan menyerahkan selembar berkas penting itu dari tanganku. Dia terhuyung, terduduk di kursi ruang tunggu.
Maafkan aku, Ma. Meski sakit, kebenaran harus diungkapkan.
Aku tahu bagaimana perasaan wanita lanjut usia itu, bagaimana sakitnya ia saat mengetahui bahwa anaknya hamil oleh lelaki lain -- orang yang berbeda sama sekali dengan yang ia harapkan. Tanpa harus berkata-kata, dia mengerti sepenuhnya: kalau cucunya yang baru lahir itu bukanlah darah dagingku. Bukan anak kandung Rangga Sanjaya. Dia gemetar memegangi selembar kertas informasi mengenai golongan darah cucunya: yang tak sesuai dengan golongan darahku, maupun golongan darah Rhea.
"Mama baik-baik saja, kan? Rangga yakin Mama kuat."
Tak ada jawaban, ia hanya menangis dalam diam. Menahan perasaan. Bahkan Suci tak berani mengatakan apa pun. Tapi, toh fakta harus diungkap. Meski aku harus terkesan kejam.
"Siapa ayahnya? Biktor? Di mana dia?"
__ADS_1
Ya Tuhan... mana mungkin kukatakan kalau lelaki itu sudah mati terbunuh oleh Rhea, di rumahku, lalu dikubur di belakang rumah Billy.
"Kamu tahu di mana dia, Rangga?"
Aku menggeleng. "Tidak tahu, Ma."
"Dia harus bertanggung jawab...."
Aku terdiam, Suci terdiam, kami hanya bisa saling melempar pandang dalam kebisuan.
"Ma...," kata Suci seraya menghampiri Mama Rhesmi, dia memeluknya. "Tidak perlu dicari. Tidak perlu meminta pertanggungjawaban darinya. Di sini ada Mas Rangga, kan, Ma?"
Huh! Kuhela napas lega.
"Mas Rangga akan membiayai semua keperluan cucu Mama sampai dewasa. Kami juga akan menganggap dia sebagai anak kami sendiri. Ya? Kita tidak perlu mencari seseorang yang bahkan dia tidak bisa menjadi seorang ayah."
__ADS_1
Masih belum mampu menguasai diri sepenuhnya, Mama Rhesmi yang masih terpukul terus menangis. "Dia butuh pengakuan seorang ayah. Dia anak perempuan. Tidak akan mudah bagi anak perempuan kalau terlahir tanpa ayah."
Hmm... itu pemikiran yang terlalu sempit.
Dan itu membuat Suci merasa tertampar. Ia berdiri dari duduknya, menangis.
Aku tahu, aku sangat tahu perkataan Mama Rhesmi seperti palu godam yang menghantam hatinya. Menorehkan kembali luka bagi jiwa Suci yang jelas-jelas tak akan pernah sembuh.
Kuraih, lalu kudekap ia ke dalam pelukanku. Andainya bisa, ingin kulebur semua luka itu hingga ia tak akan merasakannya lagi. "Jangan menangis, kasihan anak kita di rahimmu. Kamu mengerti? Kita pulang, oke? Kamu butuh istirahat."
Yeah, memangnya kenapa kalau anak perempuan? Yang melakukan kesalahan itu ibu dan ayahnya. Bukan anaknya. Lahir tanpa ayah, lahir di luar nikah, itu sama sekali bukan kesalahan sang anak. Mereka tetap berhak atas kehidupan dan dianggap sama -- tanpa pengucilan.
"Ma, kita pulang dulu. Kalau ada apa-apa, Mama hubungi Rangga, ya? Nanti kami ke sini lagi. Rangga juga akan suruh beberapa orang untuk menunggu di sini untuk membantu Mama."
Dia hanya mengangguk.
__ADS_1
Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Tapi, seperti yang ada di dalam benak Suci, aku harus bertanggung jawab atas anak itu. Sebab, aku pun turut andil atas kematian Biktor. Aku yang mengurungnya, karena pembalasan dendamku juga ia mesti selalu terangsang dan akhirnya terlibat perkelahian dengan Rhea.
Benar, dendam ini bagai tak pernah berujung. Aku terus berputar pada lingkaran setan yang mengikatku di tempat. Dan aku seolah tak mampu melepaskan diri.