Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Rileksasi


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang, aku sempat bertanya ke Suci perihal kemurungannya. Tapi dia tetap bungkam. Dia hanya mengatakan, "Tunggu kita sampai di rumah."


Sesampainya di rumah -- di kamar kami, dengan tak sabar, aku langsung bertanya lagi.


"Sabar," katanya seraya melepaskan kalung dan cincin berliannya, dan menaruh dua perhiasan itu di atas meja rias. Kemudian dia menarik tanganku dan mendudukkan aku di sofa. "Jangan bergerak," bisiknya dengan nada sensual. Dia membungkuk, menanggalkan jasku, lalu melepaskan dasi, kemeja, sepatu dan kaus kakiku. "Aku akan kesulitan melepas celanamu jika kamu tidak berdiri."


Oh, oke, batinku. Aku berdiri dan Suci langsung mengulurkan tangannya ke ikat pinggangku, membuka ritsleting celanaku, dan... celan* *alamku pun ikut tanggal. Kemudian...


Suci terkikik. "Dasar otak mesum!" ledeknya. "Belum apa-apa sudah berdiri."


Euw...!


"Tunggu apa lagi?" tanyaku. "Ayo...."


"Apa? Aku cuma mau mengajakmu mandi, tahu!"


"Ayo, dong... jangan begini...."


"Oke, oke. Bantu aku membuka gaunku dulu."

__ADS_1


Sreeeet... ritsletingnya terbuka dan gaun Suci langsung meluncur, jatuh di atas kaki. Tetapi....


Dia berlari, malah masuk ke kamar mandi dan mengunci pintu.


Ah, dia mau bermain-main denganku. Ingin rasanya aku diam saja sampai dia mengalah dan membuka pintu, membujukku yang merajuk dan mengajakku bercinta. Tetapi, di sini dia yang anak kecil, kalau aku tidak mengimbanginya nanti dia berpikir memang aku sudah tua dan tidak bisa diajak bercanda. Jadi ya sudahlah.


Aku terpaksa mengalah. Menggedor-gedor dan memohon-mohon supaya dia membukakan pintu untukku.


Ya ampun... anak Mama dikerjai. Mama pasti tertawa senang kalau melihat semua ini. "Buka dong, Yang... kamu tanggung jawab...."


"Oke...," serunya dari dalam. "Tapi kamu harus janji satu hal. Aku punya permintaan, dan kamu harus kabulkan apa pun itu. Bagaimana? Deal?"


Ceklek!


Uuuh... tubuhnya sudah polos, tapi rambutnya masih tergelung. Pemandangan yang indah menyambutku begitu pintu kamar mandi terbuka. "Sini," katanya. Lagi, dia menarik tanganku dan menyandarkan aku di dekat wastafel. Kami berciuman, panas, dalam, dan penuh gairah. Lalu...


Dia turun, menyerangku di bawah.


"Aaah... Yang...," *rangku ketika merasakan kehangatan di dalam mulutnya, dan untuk sesaat aku jadi teringat Rhea. Rhea tahu aku senang diora* dan ini untuk pertama kali kurasakan nikmatnya diperlakukan sama oleh Suci, tanpa diminta. Kupikir, dia mulai belajar lebih banyak.

__ADS_1


Hmm... nikmat sekali, Yang....


Ya ampun... aku tidak tahan. Aku menarik rambutnya supaya dia bangun. Gerakanku agak kasar, dan dia menyukainya.


"Aku mesti masuk," kataku.


Aku menariknya lebih dekat, dan perlahan berputar ke belakangnya. Suci menatap dirinya di cermin dengan tubuh sixpack-ku di belakangnya. Kupikir tadi aku ingin cepat menyatu, tapi kuurungkan. Aku ingin menyiksanya dulu dengan kenikmatan. Dengan nakal, tanganku bergerak ke depan, menguasai dadanya dan menjamahnya dengan kasar. Suci tersengal menahan rasa nikmat yang mungkin sudah meluap sampai ke ubun-ubun.


"Nikmat?" tanyaku seraya menatapnya di cermin.


"Em, sangat. Benar-benar... luar biasa. Aku... ah, Mas...."


"*endesahlah sesukamu, Yang. Jangan ditahan. Aku suka. Suaramu terdengar seksi."


Tak ada jawaban. Hanya ada ah, em, yang silih berganti lolos dari bibir mungilnya. Dan eummmmm... yang panjang ketika aku mengisa* kuat tengkuk lehernya. Dan lebih panjang lagi ketika aku membalik tubuhnya, lalu mendudukkannya di samping wastafel. Aku menikmati dadanya, kemudian turun ke bawah, dan...


"Maaaaas...." Dia mendongakkan kepala, tetapi tangannya mencengkeram rambutku, dan otot-otot pahanya menegang. "Cukuuuuup... aku tidak tahaaaaan," dia tersengal-sengal. "Ayo, Mas...."


Well, saatnya menyatu. Cusss... dan uh ah pun berlanjut dengan panas. Teramat panas.

__ADS_1


__ADS_2