
Aku tak bisa menyembunyikan rasa kesalku sepenuhnya sewaktu aku kembali ke ruang kerjaku. Kelakuan Raymond benar-benar membuatku naik darah. Kalau saja aku masih berkutat dengan kepribadianku di masa lalu, sudah kuhajar habis-habisan lelaki tak bermoral itu. Tapi, apa mau dikata, Rangga Sanjaya sudah sedikit berubah -- demi cinta Suci.
"Kamu baik-baik saja, Mas?" tanya Suci yang cemas melihat tampangku yang kusut. Dia sudah berganti pakaian dan sedang mengupas buah mangga. Sementara Roby yang pengertian langsung mengajak istrinya, Jessy, kembali ke ruangan mereka.
Aku hanya mengangguk, lalu menoleh kepada Anne. "Kamu boleh pulang," kataku. Kemudian aku masuk ke ruangan pribadiku dan menghempaskan diri ke tempat tidur.
Setelah ruangan sepi, Suci menyusulku dan mengunci pintu. Di tangannya ada sepiring kecil irisan buah mangga. "Hei, kenapa?" tanyanya. Dia duduk di sebelahku.
Aku hanya menggeleng. "Tidak apa-apa."
"Jangan bohong, Mas. Ada apa? Yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang kamu harapkan? Hmm?"
Kali ini aku mengangguk -- tanpa kata.
Terdengar olehku, Suci menghela napas dalam-dalam. "Yang penting kamu bisa menahan emosi menghadapinya. Sekesal-kesalnya kamu, aku harap kamu tetap bisa menahan diri. Aku tidak mau suamiku berbuat kriminal. Janji?"
Aku menatapnya. Mata Suci sendu. Dia masih saja merasa bersalah, dan semakin merasa bersalah karena melihat keadaanku yang kacau seperti ini. "Aku janji," kataku, lalu menariknya dan merebahkan tubuhnya ke dadaku. "Kamu jangan khawatir, ya, Sayang. Aku sudah punya kamu. Aku tidak akan gegabah lagi, dan tidak akan lagi bertindak sembarangan. Aku janji."
"Terima kasih."
__ADS_1
"Em, ayo, senyum dulu."
"Ah, kamu...."
"Aku tidak mau melihatmu sedih. Senyum, ya."
Dia tersenyum. Lalu mengambil seiris buah mangga dan menyuapkannya ke mulutku. "Enak?"
"Em, segar, manis."
"Semanis aku?"
"Ya, semanis kamu. Dan...."
"Sesegar kamu."
Uuuh... dia tersenyum semringah. Dan... lebih semringah lagi begitu menyadari tanganku menyusup ke balik dress-nya. "Tadi katanya ada yang menunggu pistol. Mau ditembak sekarang?"
Dia terbahak. "Tapi kita belum makan siang. Makan dulu, yuk?"
__ADS_1
"Nanti saja. Hanya sebentar."
"Mas...."
"Sayang...."
"Oke, tapi sebentar, aku cuci tangan dulu, lengket."
Kurasa itu tidak perlu. Aku menggeleng. "Tidak usah," kataku. Lalu aku bangkit, kemudian meraih tangannya dan menjilati ujung-ujung jemarinya yang basah dan lengket karena buah mangga. Dia gemetar, dan tak bisa menahan senyum bahagia menerima perlakuan yang baginya itu sangat manis.
"Tubuhku sudah merah-merah," katanya. "Bagian mana lagi yang mau kamu tandai?" tanya Suci setelah aku berhasil melucuti semua pakaiannya.
Aku tertawa, dan itu benar. Setelah kuperhatikan dengan seksama, dada dan lehernya sudah merah-merah semua. "Sini," kataku, aku menyuruhnya duduk di pangkuanku dan aku memeluknya dari belakang.
"Eum... Mas...," ia *endesah -- merasakan kuatnya *sapanku di lekuk antara bagian belakang leher dan pundaknya, lalu ia cekikikan. "Kamu mau jadi kucing jantan? Iya?"
Aku tak menghiraukan, hanya terus bergerilya di lehernya dan bermain-main di dadanya. Tangan dan jemariku mampu menyenangkannya dan membuat gairahnya seketika bangkit. Dia tertawa karena rasa geli, dan *endesah karena rasa nikmat, dan itu melambangkan kebahagiaannya yang alami. Istri beliaku yang belum banyak pengalaman, ekspresinya sangat tulus. Dan rasanya, aku tidak mungkin tertipu lagi, bukan?
Aku berharap begitulah kenyataannya. Dan...
__ADS_1
Entah bagaimana, kami sudah sama-sama tertelungkup di atas ranjang.
Dia benar-benar obat mujarab bagiku.