
Menenangkan. Meskipun bernada agak tinggi, pernyataan istriku itu tetap sangat menentramkan jiwa. Memberi ketenangan. Dia benar-benar membuatku percaya bahwa di dunia masih ada cinta yang begitu tulus selain cinta Mama Sania. Tetapi tetap saja sayang, andai saja saat ini bukanlah di momen penting bagi keluarga kami, pasti sudah kubereskan lelaki berengsek itu dengan caraku sendiri. Nekat sekali dia masih berusaha mengejar cinta istriku. Dia tidak tahu dengan siapa dia berurusan.
Yeah, demi Suci, kuredamkan amarahku dan aku memilih masuk dan menemui mereka dengan gaya yang teramat santai. "Kamu sudah siap, Sayang?" tanyaku, seolah tidak terjadi apa-apa.
Awalnya Suci agak kaget melihatku ada di sana, dia tertegun, tetapi setelah itu ia kembali rileks. "Sudah, Mas. Ayo," katanya. "Eh, sebentar." Dia merapikan dasi dan jasku yang menurutnya kurang oke. "Nah, kalau begini kan sempurna. Cocok bergandengan denganku. Penampilanku cantik, kan?"
"Sangat. Kamu luar biasa. Dan selalu luar biasa. Istriku yang paling cantik. Mari, Nyonya Sanjaya." Kuberikan lenganku dan kami pun melenggang keluar dengan mesra meninggalkan Rangga si fotografer yang meradang di belakang sana.
__ADS_1
Tentu saja, mana mungkin tidak meradang. Bisa kulihat pemuda itu sangat terobsesi kepada istriku.
Sesampainya di tempat pesta pernikahan itu, Suci mengajakku berkeliling menyapa tamu-tamu undangan, sampai akhirnya tepat pada sesi acara dansa, dia menarikku ke tengah orang banyak. Musik slow sudah mengalun dan kami ikut berdansa. Kulingkarkan kedua lenganku di tubuhnya dan berbisik, "Cinta lamamu sudah kembali, dan itu sangat menakutkan."
"Sungguh? Kamu takut?"
Aku menggeleng. "Kamu mengerti benar maksudku. Aku bukan takut kepadanya dalam artian bersikap jantan."
__ADS_1
Aku mengangguk, dan berkata lirih, "Aku takut perasaanmu kepadanya kembali, dan kamu... aku tidak ingin dikhianati lagi."
"Wajar kalau kamu paranoid. Kamu trauma karena pernah dikhianati. Mungkin sulit untuk sepenuhnya percaya, tapi segalanya bisa diantisipasi, kan? Kalau kita selalu bersama, atau kalau kita jauh tapi aku tetap berada dalam pengawasanmu, kenapa kamu mesti takut? Aku bersedia kalau kamu selalu memeriksa ponselku, mengajakku ke mana pun kamu pergi, atau selalu mengikutiku ke mana pun aku pergi, tidak ada masalah sama sekali. Apa yang perlu kamu khawatirkan kalau kamu selalu tahu segalanya? Aku bukan mantan istrimu yang menjaga privasi, ya kan? Tidak ada privasi dalam hubungan kita. Kamu memegang kendali atas hidupku."
Aku mengangguk paham.
"Dan, Mas, yang perlu kamu ingat, aku juga sosok yang terbuang. Di luar sana memang masih ada keluarga ibu kandungku, tapi di antara kami tidak pernah ada ikatan. Dan meski ada Mama angkatku dan Indie, adik angkatku, mereka tidak sedarah denganku dan bisa saja aku terbuang lagi. Dan kenyataannya, tanpa kamu, aku juga hanya sebatang kara. Jadi, please... aku mohon, jangan pernah takut. Lagipula sudah kubilang, aku bukan perempuan bodoh yang akan meninggalkan suamiku demi sebuah kehancuran. Aku tidak ingin bernasib sama seperti mantanmu."
__ADS_1
Euw... kali ini Suci tersenyum penuh ejekan, menyinggung kebodohanku di masa yang sudah lalu.
"So, what? Kamu pernah bilang jangan pernah meragukan kehormatanmu sebagai seorang suami. Sekarang kukembalikan kata-kata itu kepadamu, jangan pernah meragukan kehormatanku sebagai seorang istri. Seperti dirimu, aku menjunjung tinggi kesetiaan."