Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Istriku Yang Malang


__ADS_3

Istriku sayang, istriku malang.


Mungkin kalimat itu cocok untuk menggambarkan kehidupan Suci saat ini. Sejak menikah denganku, bahkan sebelum kami menikah, banyak sekali kemalangan yang menimpanya. Aku sering membuat air matanya tumpah karena ikut menanggung karma dari perbuatan burukku di masa lalu. Meski selama ini dia selalu kuat dan tegar, tapi kali ini dia diam. Dia pasrah dan tak berdaya. Apalagi saat ini, dia tegang sambil terus menatap ke layar ponselnya.


Gejala HIV cukup beragam. Namun, seseorang yang terinfeksi HIV akut (saat seseorang pertama kali terinfeksi) biasanya mengalami gejala seperti flu atau infeksi virus lainnya, seperti: 


Demam dan nyeri otot.


Sakit kepala.


Sakit tenggorokan.


Berkeringat pada malam hari.


Sariawan, termasuk infeksi jamur (sariawan).


Diare.


Demam yang tidak kunjung reda.

__ADS_1


Penurunan berat badan tanpa sebab.


Perubahan suasana hati.


Sesak napas.


Tubuh yang selalu merasa lemah.


Bercak lidah pada mulut, kelamin, hingga anus.


Bintik ungu pada kulit yang tidak dapat hilang.


Gangguan saraf yang menyebabkan menurunnya konsentrasi.


Dibacanya bolak-balik dan berulang-ulang artikel yang tertera di laman internet itu. Dia sibuk memikirkan apa belakangan ini ia atau aku pernah mengalami gejala-gejala itu, seakan ia lupa kalau kami berdua selama ini sehat-sehat saja. Bahkan kami tidak mengalami flu lantaran kami menerapkan gaya hidup sehat: pola makan sehat dan teratur, juga pola tidur yang cukup serta teratur. Satu-satunya yang membuat Suci merasa lemas cuma pada saat ia mual dan muntah-muntah karena kehamilannya. Selain itu, tidak ada gangguan kesehatan sama sekali.


Yap, saat ini kami sedang menunggu hasil tes antigen di dalam darah kami. Tes skrining ini sebenarnya hanya kurang dari tiga puluh menit, tapi terasa lama sekali. Aku tidak tega melihat Suci cemas dan waswas menunggu petugas lab keluar dari ruang pemeriksaan.


"Tenang, ya," kataku. "Belakangan ini kita sehat-sehat saja. Hasil tesnya nanti pasti negatif. Jangan khawatir berlebihan. Ingat kandunganmu. Ingat anak kita. Tolong, Sayang?"

__ADS_1


Suci hanya mengangguk, sedari tadi aku tak mendengar suaranya. Yang ada di depanku saat ini hanyalah seorang wanita dengan wajah pucat, gemetar, dan air matanya yang terus menetes hampir tak berjeda.


"Aku keringat dingin," katanya.


Ya Tuhan... sekalinya suaranya terdengar, dia malah bicara seperti itu.


"Kamu keringat dingin karena efek kamu cemas. Bukan ada hubungannya dengan penyakit sialan itu." Aku meraihnya, kudekap ia erat-erat dan mengelus punggungnya. "Coba tenang, Sayang. Setidaknya ingat anak kita. Dia bisa ikut stres kalau pikiranmu terbeban seperti ini, ya kan? Nanti, bukannya karena HIV, kandunganmu malah kenapa-kenapanya karena tingkat kecemasanmu yang berlebihan."


Dia mengangguk-angguk. "Iya Mas," katanya. Dia berusaha tenang, dan akhirnya kami duduk dalam diam, menunggu di kursi tunggu sambil saling merangkul.


Beberapa menit kemudian. Petugas pemeriksaan keluar dari ruangan dengan dua amplop hasil pemeriksaan dan mengajak kami menemui dokter.


Di ruangan dokter, dr. Hamzah menjelaskan kepada kami bahwa hasil tes antigen dalam darah kami menunjukkan hasil negatif, dan ia tidak merekomendasikan adanya tes lanjutan. Katanya tes konfirmasi Sel-T itu perlu dilakukan kalau tes skrining antibodi di dalam darah menunjukkan positif HIV, jika tidak, maka tidak perlu melanjutkan ke tahap tes berikutnya.


Tetapi, Suci bersikeras untuk melanjutkan tes itu. Ia tidak ingin kecolongan dan lengah hanya karena satu tes yang negatif. Maka aku menyetujuinya. Tes Sel-T membutuhkan waktu cukup lama bahkan bisa seharian atau berhari-hari.


Lebih dari itu, sembari menunggu hasil dari satu rumah sakit, Suci meminta supaya kami melakukan tes juga di dua rumah sakit lain. Dia memohon-mohon kepadaku meski aku sudah menenangkan dan menasihatinya seperti apa yang dijelaskan oleh dokter, tapi dia tetap saja bersikeras.


Sungguh, kasihan sekali dia. Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku....

__ADS_1


__ADS_2