Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Sang Penghangat Pagi


__ADS_3

Yeah. Masa lalu yang buruk itu, pasti Suci trauma mengingatnya. Peristiwa malam itu. Tidak hanya hampir diperkosa, dia juga mengalami keguguran. Dan itu tiba-tiba saja membuatku ngeri.


"Jangan khawatir. Nanti aku akan minta bantuan beberapa orang untuk berjaga di luar. Full, selama dua puluh empat jam non-stop. Dan kamu jangan takut, kamu akan selalu aman di sisiku."


Dia mengangguk. "Aku percaya padamu."


Aku mencium keningnya, lalu menarik selimut untuk menyelubunginya hingga ke dada. "Sekarang tidur, ya. Sudah terlalu larut."


Dan ia pun menurut. Setelah Suci memejamkan mata, dan kurasa dia sudah tertidur nyenyak, aku meraih ponselku untuk menghubungi Simon dan teman-teman satu timnya untuk mulai berjaga. Aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi pada calon buah hatiku. Sekecil apa pun bahaya, akan kusingkirkan ia sebelum terjadi. Dan aku mesti menaruh pistol di bawah bantalku untuk selalu berjaga-jaga.


Beberapa menit setelah aku menghubungi Simon, dari lantai atas samar-samar kudengar suara klakson mobil dari halaman depan. Simon pun mengabarkan via whatsapp kalau ia dan teman-temannya sudah sampai dan siap berjaga.


Yeah, sebenarnya kami malam ini tidur di kamar lama Suci. Di lantai atas. Persis di samping kamar Indie. Meski tidak terlalu mewah, pemandangan di area belakangnya lumayan bagus. Ada jendela yang posisinya persis di atas kolam. Dua hari yang lalu, Mbok Sari sudah membersihkan kamar ini atas permintaan Suci. Sementara kamar di lantai bawah itu baru ditempati Suci sejak ia buta. Supaya ia tidak kesulitan menuju kamarnya sendiri -- yang tentu saja sangat berbahaya jika ia mesti melewati tangga.


Tadi siang, sewaktu pertama kali aku naik ke lantai atas untuk menaruh koper, aku tidak kesulitan mencari kamar yang Suci maksud. Sebab, di pintu kamar Suci dan Indie yang bersebelahan itu ada nama mereka masing-masing. Melihat posisi kamar yang bersebelahan itu aku jadi berpikir: bagaimana kalau kami -- aku dan Suci, plus, Billy dan Indie menginap di sini bersamaan dan menempati kamar yang bersebelahan ini? Siapa yang kira-kira bisa menahan *esahan dan membuat suasana kamar menjadi paling sunyi? Atau, siapa yang lebih heboh dan lebih gaduh saat kami bercinta pada saat yang bersamaan di dalam kamar masing-masing?

__ADS_1


Ah, konyol. Aku menyadari kekonsletan pikiranku saat itu. Tapi sungguh, ada yang otaknya lebih konslet daripada aku. Yaitu istriku. Suci Mayang Sari Sanjaya. Bagaimana tidak, coba? Pada keesokan paginya, aku terbangun sebab suara ponselku yang berdering karena ulahnya yang konyol.


Tumben dia menelepon, pikirku saat itu. Aku pun menerima telepon itu dengan rasa panik yang membuncah di dalam dada.


"Ada apa?" tanyaku setelah menggeser opsi panggilan di layar android-ku. "Kamu di mana?"


Dia malah cekikikan. "Santai, dong...! Jangan panik begitu."


"Ya bilang dulu kamu di mana."


"Apa sih?" gerutuku. Lekas-lekas aku turun dari ranjang dan menelongo ke jendela.


Ya ampun... aku ternganga, lalu mulai terbahak. Begitu juga Suci yang ada di bawah sana.


"Oh... my...," kataku.

__ADS_1


Suci berbaring telanjan* di kursi malas berbahan rotan itu. Polos, tanpa apa pun. Dia mendesa* manja di telepon. "Ada yang kamu sukai? Hmm?"


"Ya. Banyak. Semuanya. Aku suka semuanya. Pemandangan yang luar biasa indah. Cantik. Aku tidak melihat apa pun yang tidak kusukai."


Dia mengacungkan jempol. "Bagus. Jadi, ayo. Tapi jangan sampai terluka saat kamu lari menuruni tangga. Cepatlah, aku menunggumu."


"Hah! Siapa bilang aku akan menggunakan tangga? Well, Baby, I am coming."


Aku melempar ponselku ke atas ranjang lalu menanggalkan piyama. Memanjat keluar melalui jendela dan melompat terjun ke kolam. Dengan segera aku menepi, keluar dari kolam, menghampiri dan perlahan-lahan merayap ke atas kursi malas. Menindih tubuh seksi istriku.


Luar biasa!


"Benar-benar sambutan pagi yang luar biasa. Kamu memang yang terbaik."


Dia tersenyum. "Well, begitulah aku. Dan kamulah si pria yang beruntung. Ingat, pelan-pelan saja."

__ADS_1


Tentu -- pelan, sangat pelan, lalu aku berbisik, "Pejamkan matamu, Sayang. Rasakan aku. Rasakan... cintaku untukmu, Sang Penghangat Pagi."


__ADS_2