
"Hanya bercanda, Sayang. Begitu saja ngambek...," ledekku. "Tapi tidak apa-apa, sih. Kamu semakin terlihat cantik. Menggemaskan!"
Tak mampu menahan senyum, dia berbaring menyamping dan menyembunyikan wajahnya. Dalam sekejap, hatinya luluh hanya dengan sedikit rayuan gombal.
"Yang...," bisikku, "kamu sudah ngantuk, belum?"
Dia memutar lagi tubuhnya menghadapku, lalu menggeleng. "Belum. Aku belum ngantuk, kok."
"Capek nggak?"
Ugh! Dia nyengir super lebar. "Sama sekali tidak," ujarnya. "Sangguplah seronde - dua ronde."
Ckckck! Aku tergelak. "Kamu sangat pengertian. Benar-benar istri luar biasa."
"Harus," katanya. "Malah aku yang harus nanya, apa kamu tidak capek? Hmm?"
Tanganku sudah memberinya jawaban. Ritsletingnya turun dan jemariku langsung menyelinap masuk, bergerilya dengan apa yang berada di balik gaun tidur tanpa bra itu. "Hanya capek sedikit," kataku pelan. "Sekalian habis-habisan supaya bisa tidur nyenyak. I need you."
Tidak ada jawaban, napasnya sudah tersengal karena rasa nikmat. Aku pun beringsut sedikit, memosisikan kepalaku di atas dadanya. Lalu...
__ADS_1
"Mas...," *esahnya tak tertahan.
Yeah, dia mesti merah. Tubuhnya yang nikmat itu tak pernah gagal membangkitkan gairahku. Dan keuntungan bagiku karena menikahi seorang mantan model yang mahir mengaplikasikan alat-alat mekap hingga bisa menyamarkan bekas-bekas merah di lehernya. Keahliannya itu membuatku tak pernah ragu menjadi sosok pria dengan insting drakula dan menandai lehernya dengan jejak-jejak cintaku yang merah. Dia suka setiap kali aku mengisa* lehernya dengan kuat. Lalu... ketika tanganku meluncur ke bawah, menyibakkan gaun yang menutupi kakinya, ternyata...
Hmm....
Aku menoleh ke belakang untuk memastikan, dan aku jadi terkikik-kikik geli. Benar saja, ketika jemariku menyelip di antara paha mulusnya, aku langsung menyentuh bagian kenyal yang tak terbungkus apa pun. Istriku yang cantik itu tak mengenakan pakaian dalam. Ia sudah menanggalkan celan* *alamnya sejak tadi. Benar-benar pengertian.
"Kamu memang menungguku, ya?"
Dia tersenyum cantik. "Tidak juga," sahutnya. "Tapi aku tahu kamu pasti membutuhkan aku, ya kan?"
"Aku tahu," ucapnya pelan. "Dan aku akan selalu ada untuk mengembalikan semangatmu."
"Terima kasih banyak, kamu istri terbaik dan yang terhebat. Aku selalu membutuhkan kehangatanmu."
"Mmm-hmm, tunggu apa lagi? Enak, kan, tidak perlu susah-susah membuka pakaianku? Aku sudah membukakannya untukmu."
Ya, dia benar. "Trims, kamu benar-benar pengertian sekali."
__ADS_1
"Well, kurasa sofa ini terlalu sempit untuk memuaskan kita. Pindah, yuk?"
Ah, sekali lagi dia benar. "Baiklah, ranjang itu sudah menunggu."
"Mmm-hmm... bawa aku ke ranjang. Cintai aku dengan rasa yang ekstra."
Ya ampun... pintar sekali dia membakar gairahku. Dengan senyum bahagia, aku segera menggendongnya.
"Kekuatanmu tak pernah diragukan," ujarnya saat tubuh cantiknya terangkat oleh kedua lenganku yang kekar. Kuturunkan ia di tepi ranjang dan meraihnya ke dalam pelukanku sembari melepaskan gaunnya yang dalam sekejap meluncur di atas kaki kami. "Giliranmu," katanya.
Yeah, tentu saja. Segera kulepas kausku dan Suci menurunkan celanaku.
"Arrggg...!"
Ia langsung menyerangku di bawah dan aku menikmatinya selama beberapa saat, cukup lama. Hingga dalam beberapa menit, pelepasan yang pertama pun usai.
Well, untuk babak selanjutnya, Suci segera berbaring di atas ranjang, menekuk lutut dan membuka interval kakinya lebar-lebar. Dia tersenyum. Menggoda. "Masih mau bilang ini bukan tempat keberuntunganmu? Hmm?"
Nope. Aku mengulum senyum. Keberuntungan itu sudah ada di depan mata.
__ADS_1
Oh, istriku. Surga duniaku yang nyata.