I Love You, Bodyguard-ku

I Love You, Bodyguard-ku
Bab 10


__ADS_3

"Aku benar-benar tidak apa-apa kok." Tanpa sadar Marshel memundurkan tubuhnya, menjauhi Jasmine yang terlihat semakin mendekati dirinya itu. "Ini terlalu dekat, nona muda."


Jasmine langsung memasang sebuah senyum miring ketika melihat respon yang diberikan oleh Marshel kala itu. Entahlah, respon itu entah mengapa terkesan menggemaskan di mata Jasmine, entah saking seringnya Marshel bersikap dingin atau semacamnya, Jasmine jadi merasa sedikit gemas melihat respon semacam itu.


"Sungguh? Terlalu dekat? Tapi … menurutku ini masih cukup jauh, lho, Marshel." Alih-alih mundur dan menjauh seperti apa yang diinginkan Marshel, Jasmine malah semakin mendekatkan tubuh dan terutama wajahnya ke wajah Marshel, menghasilkan respon yang cukup berbeda, di mana laki-laki yang terlihat memiliki wajah yang cukup tampan yang terlihat memiliki mata yang memiliki warna hijau tersebut terlihat langsung mengalihkan pandangannya, seolah merasa enggan untuk menatap sang nona muda.


"Nona …."


"Tenang saja, Marshel, toh kita hanya berdua saja di mobil ini, bertiga dengan Simon, tentu saja tidak akan ada skandal konyol lagi antara selebritis dengan bodyguardnya." Jasmine terkekeh pelan seraya kembali duduk di kursinya sendiri. "Haah, bercanda seperti ini ternyata mampu membantuku untuk tetap waras setelah berbagai skandal yang sedang terjadi."


Marshel hanya terpaku, bisa-bisanya Jasmine menggodanya begitu saja, kemudian mundur setelah Marshel merasa malu setengah mati. "Yang benar saja, nona muda," gerutu pemuda itu pelan. "Tidak, tidak apa-apa kok, aku malah senang karena sudah berhasil membantu anda menaikkan suasana hati anda."


Suasana kembali terasa hening, di mana Jasmine sibuk melihat ke luar jendela, menatap lampu neon yang seolah meramaikan jalan malam itu, sementara Marshel hanya terdiam karena sebenarnya lelaki tersebut merasa senang atas dirinya yang mampu menyenangkan hati Jasmine kala itu.


Jasmine sendiri sebenarnya tidak sepenuhnya merasa terfokus pada apa yang tengah dilihat oleh wanita itu, melainkan perasaan berbunga-bunga yang aneh, yang secara perlahan-lahan dirasakan oleh wanita tersebut atas bodyguardnya sendiri, Marshel. 


Ya, entah mengapa pula Jasmine merasa bahwa dirinya mulai meletakkan perasaan atas Marshel yang selalu melindungi wanita tersebut, tahu apa yang Jasmine inginkan dan butuhkan, serta berbagai hal lainnya yang menurut Jasmine menjadikan Marshel sebagai lelaki idamannya.

__ADS_1


Tetapi tentu saja Jasmine masih merasa tidak yakin dengan perasaannya sendiri, dan pada situasi seperti ini, rasanya masih ada hal yang jauh lebih penting untuk dipikirkan, yakni masalah skandal yang sedang terjadi.


Alasan mengapa Jasmine lebih memilih untuk memikirkan mengenai Marshel adalah sebagai pengalihan untuk sang nona muda, agar pikirannya bisa tetap waras di tengah-tengah hinaan, caci maki serta sentimen negatif publik yang demikian mengerikan atas skandal yang sedang terjadi itu.


Tidak jarang pula dirinya menerima komentar yang mengatai bahwa dirinya adalah perebut suami orang, dan banyak kalimat buruk lainnya, teror gila-gilaan melalui paket, surat dan banyak lainnya, dan berbagai hal buruk nan gila lainnya terjadi pada Jasmine sebagai efek dari skandal yang tengah terjadi itu.


Terang saja jika Jasmine secara konstan dan terus menerus memikirkan hal tersebut, maka justru dirinya lah yang akan kehilangan kewarasannya sendiri alih-alih tetap bertahan hidup, karena itu lah Jasmine lebih suka memikirkan mengenai Marshel agar dirinya tetap waras seperti biasa.


Perjalanan ke restoran hotpot berlangsung dengan cukup lancar, bahkan dapat dikatakan jauh lebih cepat dibandingkan biasanya sehingga tanpa disadari sama sekali, Jasmine sudah sampai ke restoran kesukaannya itu, di mana seperti biasa, Marshel langsung membukakan pintu mobilnya dan membantu Jasmine untuk turun dari sana.


"Terima kasih, Marshel."


Jasmine hanya mengangguk ringan, dalam hati merasa sangat senang karena perhatian kecil yang telah diberikan oleh Marshel kepada dirinya. "Ya, aku rasa juga malam ini akan sedikit lebih dingin daripada yang biasanya. Terima kasih mantelnya, Marshel."


"Bukan masalah besar, nona muda."


Terang saja, kedua insan yang berlainan jenis kelamin tersebut langsung menyita banyak perhatian ketika memasuki restoran hotpot yang lumayan ramai itu. Banyak yang berbisik-bisik mengenai kedatangan Jasmine, banyak pula orang yang menatap wanita tersebut dengan tatapan jijik dan benci setengah mati. Tampaknya banyak orang yang mengenali dirinya kebetulan saja datang ke restoran ini.

__ADS_1


"Ih … ada wanita ***_***."


Jasmine menghela napas, bahkan di tempat publik macam restoran seperti ini saja masih ada saja yang menghina dirinya, bagaimana jika di luar sana? Tetapi tentu saja mundur dan pulang bukan merupakan ide yang cemerlang, hingga akhirnya Jasmine hanya mengabaikan semua itu, lalu langsung melangkahkan kakinya bersama Marshel ke ruangan VVIP yang tersedia dii restoran tersebut.


"Reservasi jam delapan malam, atas nama Jasmine Anderson." Marshel langsung berkata tanpa basa-basi sama sekali kepada sang pelayan yang berdiri di hadapan kedua insan tersebut. 


Pelayan itu menganggukkan kepalanya tanpa banyak bicara, kemudian membukakan pintu ruangan VVIP itu, lantas mempersilahkan Jasmine dan Marshel masuk ke dalam sana. "Silakan, nona, mungkin anda bisa memberitahu saya apa yang dapat saya berikan untuk anda pada malam yang indah ini," ujar sang pelayan setelah membiarkan Jasmine dan Marshel duduk.


"Hm …." Jasmine berdeham sejenak seraya membuka buku menu yang diluncurkan ke tangan mungilnya itu, lantas secara sekilas membaca isi menu tersebut. "Karena hari ini aku sedang libur dari dietku, maka aku ingin chicken set A, beef set A dan vegetable set A, aku rasa itu saja untukku, bagaimana denganmu, Marshel?" Jasmine mengalihkan matanya yang indah ke arah Marshel.


Laki-laki yang memiliki rambut yang memiliki warna cokelat tersebut lantas menghela napas panjang, sedikit tidak menyangka bahwa Jasmine akan menghancurkan dietnya kala itu dengan cara yang dapat dikatakan agak sedikit brutal. "Aku rasa aku akan memesan set sayur C saja, yah, cukup untukku."


"Baik, nona dan tuan, saya ulangi pesanannya, ya, set A untuk ayam, daging dan sayur dan set C untuk sayur. Minumannya?"


"Ice lemon tea."


"Sama saja."

__ADS_1


"Baik, mohon ditunggu, tuan dan nona." Sang pelayan lantas pergi dari hadapan Jasmine, meninggalkan kedua insan yang berlainan jenis kelamin tersebut di ruangan yang cukup besar itu.


Jasmine lantas menatap Marshel yang terlihat sedang sedikit melamun, tanpa sama sekali melihat ponsel milik lelaki yang satu itu. "Tumben sekali kamu hanya memesan set sayur C? Aneh sekali."


__ADS_2