
"Jadi kamu memutuskan untuk membiarkan semuanya begitu saja untuk beberapa saat? Tapi sampai kapan, Marshel? Kamu sendiri sadar, bukan, bahwa masalah seperti ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, bukan?" Jacob menopang dagunya sendiri seraya menaikkan kedua alisnya sendiri setinggi mungkin, menatap ke arah sang lawan bicara dengan tatapan merendahkan yang demikian kentaranya.
Secara mau tidak mau, Marshel menganggukkan kepalanya sendiri, menatap balik ke arah Jacob dengan tatapan pasrah, kentara sekali bahwa pemuda yang malang tersebut tidak tahu lagi apa yang sebaiknya ia lakukan. Ya, sebenarnya Marshel sendiri juga ingin mengakui balik perasaan yang dimiliki Jasmine keada dirinya, hanya saja lagi-lagi Marshel merasa sadar diri bahwa dirinya tidak akan bisa.
"Kamu tahu, Jacob, selain aku memiliki perasaan yang berbeda akan atasanku sendiri, sebenarnya aku juga tahu bahwa Jasmine juga menyimpan perasaan yang sama dengan apa yang aku miliki atas wanita itu, tetapi aku merasa tidak bisa, pun juga tidak pantas rasanya untuk mengakui Jasmine sebagai kekasihku, mengingat strata sosial kami berdua ang demikian jauhnya itu." Marshel berkata panjang lebar dengan raut wajah yang terkesan sekali pias setengah mati, menandakan bahwa lelaki tersebut sudah sampai pada tahap putus asa.
"Dan jika aku boleh berkata jujur, aku juga ingin merasakan rasanya dicintai dan mencintai, aku tidak mau jika perasaan yang telah tumbuh di hatiku ini harus mati dan terkubur secraa sia-sia sekali mengingat ini juga ialah kali pertama bagiku merasakan jatuh cinta dan dicintai kembali … tetapi yah … aku ini hanya penjaganya, mana pantas aku jatuh cinta dengan seorang malaikat," keluh Marshel panjang dan lebar seraya menghela napas penuh rasa lelah. "Memuakkan, mengapa pula cinta pertamaku harus nona muda yang aku jaga sendiri pula?"
Jacob yang sedari tadi mendengarkan segala keluhan pemuda di hadapannya ini hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya sendiri, menatap ke arah Marshel dengan tatapan kasihan yang terlihat demikian kentara. Lelaki yang memiliki wajah kaukasia yang memiliki mata yang memiliki warna biru laut tersebut hanya bisa menghela napas panjang seraya menyimpan rasa kasihan yang tidak biasa atas kemalangan sekaligus keberuntungan yang terjadi pada Marshel.
__ADS_1
"Kamu mana bisa mengatur dirimu untuk jatuh cinta dengan siapa, Marshel, yang namanya cinta itu mana bisa diatur apalagi dibatasi secara begitu saja, mengingat bahwa cinta akan membuatmu mau melakukan berbagai cara hanya untuk sekadar melakukan pembuktian atas cinta yang kamu miliki kepada lawan jenismu itu." Jacob menjelaskan panjang dan lebar, di mana jauh di dalam lubuk hati lelaki tersebut, ada dua pemikiran berbeda yang sialnya keduanya melintas pada saat yang nyaris sekali bersamaan.
Di satu sisi, ada rasa kasihan atas kebodohan yang dilakukan oleh Marshel tadi itu, mengingat ini ialah kali pertama bagi lelaki tersebut untuk jatuh cinta, tetapi pada saat yang nyaris sekali bersamaan, Jacob juga merasa gemas sekali, mengapa ketika menyadari ini ialah kali pertama bagi Marshel untuk jatuh cinta, mengapa pula lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat dan mata hijau tersebut memilih untuk melakukan sesuatu dengan gegabah dan secara teknis mengubah dirinya menjadi orang bodoh yang sesungguhnya? Yang benar saja.
"Kamu tahu, Marshel, saat ini aku menilaimu cukup beruntung walau sebenarnya tidak juga, tahu kenapa aku menganggapmu begitu?" Jacob bertanya seraya menaikkan sebelah alisnya setinggi mungkin, menatap Marshel dengan tatapan bosan.
Yang ditanya seperti itu terang saja tidak bisa menjawab, membuat Marshel benar-benar terlihat seperti orang bodoh pada saat itu. "Aku … tidak tahu, Jacob, otakku seperti mengalami kelainan, atau lebih buruk lagi, menghilang dari tempatnya sendiri."
Lagi-lagi Marshel menatap Jacob dengan tatapan yang benar-benar tidak bisa diartikan sama sekali oleh nyaris siapapun, seolah-olah Marshel yang biasanya tengah pergi dan menguap entah ke mana. "Mengapa?"
__ADS_1
"KARENA KAMU TELAH BERSIKAP GEGABAH SEPERTI ORANG BODOH, MARSHEL!!" jawab Jacob dengan nada tinggi, nyaris terdengar seperti sebuah teriakan, yang untungnya pada saat itu kondisi kafe tempat kedua lelaki tersebut berbincang satu sama lainnya tengah sepi dari para pengunjung. "Aku tahu ini ialah kali pertamamu untuk jatuh cinta, dan aku mengerti bahwa kamu mungkin sebelumnya tidak pernah merasa bahwa kamu ini disayangi atau dicintai oleh seseorang, tetapi itu bukan berarti kamu bisa bersikap gegabah seperti orang bodoh!"
Lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut yang memiliki warna kuning nyaris putih yang terlihat memiliki wajah yang cukup tampan tersebut lantas mendengkus pelan setelah selesai mengutarakan pendapatnya sendiri akan kebodohan yang telah terjadi dan diciptakan oleh sang bodyguard yang tengah panik akibat merasa terbutakan oleh cintanya sendiri terhadap sang nona muda.
Yah, memang, Jacob juga merupakan salah satu fans dari Jasmine, lagipula siapa sih yang bisa menolak pesona yang dimiliki oleh wanita yang memiliki tubuh yang tinggi dan ramping serta rambut yang memiliki warna kuning nyaris putih yang terlihat demikian apik jatuh di bahunya itu? Selain itu, senyuman Jasmine yang tidak kalah manis serta sifat lembutnya juga seolah menjadi daya tarik tidak biasa yang dimiliki oleh wanita tersebut.
"Yah … menurutmu pada situasi seperti ini apa yang harus aku lakukan? Aku masih merasa sedikit tidak enak hati juga tidak cukup berani untuk langsung menemui nona muda Jasmine jadi … aku membutuhkan saranmu sendiri untuk mungkin membantuku mengambil keputusan." Lelaki tersebut lantas menggumam sebelum menghabiskan cairan berwarna kecokelatan yang tersisa di gelas kacanya itu. "Maaf jika menurutmu aku berubah menjadi orang yang bodoh."
Jacob lantas menghela napas panjang seraya memijat pelipisnya sendiri, entah mengapa kepala lelaki tersebut mendadak terasa sedikit pusing ketika mendengar kalimat terakhir Marshel itu. "Yaah, terserahlah, menurut pandanganku pribadi, satu-satunya hal yang paling logis dan aman untuk kamu lakukan adalah kembali dan minta maaf, lalu jelaskan pada Jasmine mengapa kalian berdua tidak bisa saling mencintai seperti pasangan pada umumnya, begitu."
__ADS_1
Lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat dan mata hijau tersebut tertegun sejenak ketika mendengar kalimat tersebut, sebelum pada akhirnya mengangguk pelan.
"Aku mengerti, aku akan kembali lalu berbicara dan minta maaf pada nona muda."