
Jasmine terlihat hanya diam melamun di sepanjang perjalanan mereka kembali ke kediaman sang artis. Entahlah, tampaknya memang ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiran wanita tersebut, terlebih setelah kepulangan mereka dari konferensi, Jasmine terlihat semakin pendiam saja.
Diam-diam, Marshel yang mengamati semua itu merasa sedikit khawatir akan kondisi dari sang nona muda, tetapi dirinya yang hanya merupakan seorang bodyguard terang saja tidak bisa berbuat apa-apa mengenai hal tersebut, selain hanya dapat diam dan mendengarkan segala keluh kesah yang dimiliki oleh nonanya itu.
Entahlah, walau Marshel bukan merupakan seorang publik figur seperti Jasmine, hanya saja lelaki yang satu itu sepertinya memahami betapa frustrasinya Jasmine ketika skandal semacam ini menerpa wanita yang malang tersebut. Sebagai seorang bodyguard yang nyaris setiap waktu tahu apa saja yang dilakukan oleh Jasmine, skandal semacam ini seolah mempersempit ruang gerak wanita yang satu itu hingga secara mau tidak mau Marshel jadi harus menciptakan perlindungan ganda terhadap Jasmine.
Skandal ini juga secara tidak langsung turut mengganggu pikiran Marshel, terutama saat menyadari bahwa Jasmine mulai mengalami yang namanya diintai oleh seseorang, entah itu fans fanatik dari Jasmine, atau mungkin juga orang-orang yang membenci Jasmine karena skandal yang sedang terjadi pada saat ini, atau malah lebih buruk lagi, pihak pers yang mulai mengintai kehidupan pribadi Jasmine.
Sebenarnya, bagi Marshel, ini bukanlah kali pertamanya mengetahui bahwa Jasmine sedang diintai oleh orang lain. Hanya saja, seringkali Marshel memilih untuk bersikap tenang dan menjaga ekspresi wajah serta sikap tubuhnya hanya agar Jasmine tidak mengetahui seberapa buruk situasi yang ada sebenarnya.
Mulai dari kamera pada boneka, pena yang diletakkan kamera, bahkan terkadang sampai melakukan peretasan langsung ke ponsel Jasmine hanya demi merekam apa saja yang dilakukan oleh wanita yang memiliki wajah kaukasia itu di rumahnya sendiri.
Selain pengintaian dengan cara seperti itu, tidak jarang pula ada pengintaian dengan cara yang lebih ekstrim dan nyaris tidak dapat dipikirkan orang awam pada umumnya, yakni pengintaian berkelompok.
__ADS_1
Bagi Marshel, pengintaian berkelompok jauh lebih sulit untuk diurus dibandingkan pengintaian dengan kamera, karena selain entah ada berapa orang di dalam kelompok tersebut, tidak dapat diketahui pula mereka akan menyamar sebagai apa dan berapa banyak kamera yang akan mereka tempatkan hanya demi mengawasi gerak-gerik Jasmine pada saat itu.
Bagaimana bisa Marshel mengetahui semua hal semacam ini? Terima kasih untuk pengabdian selama setidaknya sepuluh tahun lebih di CIA, di mana secara mau tidak mau Marshel mempelajari berbagai hal yang berbau penyelidikan, yang di mana di dalamnya juga dipelajari bagaimana cara mengintai seseorang, baik hanya merupakan orang awam, hingga orang-orang penting seperti selebritis bahkan anggota politik suatu tempat atau bahkan negara.
Marshel hanya dapat terdiam, mengamati Jasmine yang sedang melamun tanpa berkata apa-apa sama sekali, menunggu sang nona muda mengatakan sesuatu atau pada akhirnya menikmati kesunyian kala itu di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan sedang.
Ketika kedua insan berlainan jenis kelamin tersebut sampai di apartemen milik Jasmine, tentu saja tanpa lupa sama sekali Marshel langsung membukakan Jasmine pintu, lalu menemani wanita tersebut turun dan naik lalu masuk ke kamarnya, melakukan apa yang seharusnya dilakukan termasuk meminta Simon untuk pulang dan bersantai bersama keluarga lelaki yang sudah cukup berumur tersebut.
"Tidak perlu repot-repot begitu, nona muda." Marshel memungut wedges tersebut kemudian meletakkannya di rak sepatu, lalu meminta Anna untuk mengambil baskom berisi air hangat untuk mengompres dan mungkin memijat sedikit kaki sang artis.
Setelah sebaskom air tiba dan kainnya juga sudah tersedia, Marshel lantas memilih untuk berlutut di bawah kaki Jasmine, lantas mulai mengompres dan memijat lembut kaki Jasmine yang terlihat sedikit memerah akibat terlalu lama dalam balutan wedges yang cukup tinggi.
Sementara Jasmine, wanita yang satu itu sedang terlihat membuka sosial medianya untuk mengecek apakah ada berita baru untuk dirinya lihat, terlebih setelah kepulangannya dari konferensi pers tadi pagi.
__ADS_1
Benar saja, seharusnya Jasmine tidak usah berharap bahwa seseorang di dunia maya sana mau membela dirinya, karena apa yang terjadi adalah kolom komentar di akun sosial medianya dipenuhi oleh berbagai hujatan dan kalimat kasar yang bahkan sepertinya tidak pantas diucapkan oleh seseorang kepada orang lain, tetapi itu lah apa yang ada di kolom komentar di akun sosial media milik wanita tersebut.
Jasmine menghela napas, tidak jarang pula dirinya menerima komentar yang mengatai bahwa dirinya adalah perebut suami orang, seorang ***_*** murahan, seorang pecundang yang membutuhkan skandal hanya demi menaikkan pamornya dan lain sebagainya.
Tentu saja Jasmine bisa menonaktifkan kolom komentarnya sehingga tidak seorang pun dapat berkomentar di tempat itu, tetapi selain hal tersebut tidak akan mengubah apapun, hal yang sama juga bisa saja berakibat semakin buruk kepada Jasmine, di mana dirinya hanya akan dianggap sebagai seorang yang tidak dapat menerima sentimen negatif publik, alias tidak dapat menerima kritik sama sekali, atau lebih sederhana lagi, baperan.
Padahal sebenarnya tidak jarang komentar yang ada di sana menyakiti hati Jasmine, apalagi ketika dirinya dituduh sebagai ***_***, perebut lelaki orang lain dan sebagainya. Itu menyakitkan, tetapi Jasmine tidak bisa berbuat banyak mengenai hal tersebut.
Marshel yang sedari tadi mengamati hal tersebut hanya bisa turut menghela napas, lantas memasang sebuah senyum tipis di wajah kaukasianya. "Nona muda, bagaimana jika anda tidak usah memegang ponsel anda dahulu, setidaknya seharian ini, karena anda baru saja menghadiri sebuah konferensi pers dan bisa saja berbagai berita buruk yang baru tentang anda menguar di sosial media? Bagaimana jika anda membaca buku saja?"
Marshel mencoba memberi saran dengan cara yang bisa dikatakan terlampau biasa, klise dan sebenarnya membosankan setengah mati, tetapi entah mengapa wanita yang memiliki wajah kaukasia itu mau-mau saja menerima saran yang diberikan oleh Marshel, di mana tanpa mau berbasa-basi terlebih dahulu, Jasmine langsung meletakkan ponselnya, merebahkan kepala di sandaran sofa dan memejamkan matanya sendiri.
"Marshel, kamu tahu menjadi publik figur itu sangat berat, bukan?" bisik Jasmine dengan nada lirih, memperlihatkan betapa lelahnya wanita yang satu itu pada saat ini. "Tetapi sebenarnya aku tidak pernah menyangka bisa seberat ini."
__ADS_1