
Untung saja apa yang telah Jasmine ingin lakukan itu secara mau tidak mau batal karena seluruh pesanan kedua insan yang berlainan jenis kelamin tersebut datan, kalau tidak, bisa saja pipi Xavier semakin melebar saking gemas dan kerasnya Jasmine akan mencubit pipi lelaki yang malang tersebut.
Xavier menghela napas panjang, merasa beruntung karena Jasmine tidak jadi mencubit pipi putihnya itu karena pesanan yang dipesan oleh mereka berdua itu sudah datang. Bagi lelaki yang memiliki rambut cokelat kemerahan yang memiliki mata yang memiliki warna biru laut tersebut, Jasmine yang seperti ini memang terlihat menggemaskan dan juga nyaris di saat yang bersamaan dapat dikatakan berubah menjadi mengerikan ketika sedang merasa gemas.
"Sudahlah, ayo makan saja, Jasmine, toh kamu terlihat sudah sangat-sangat lapar sekarang," kata Xavier seraya mengeluarkan tawa kecil, meledek Jasmine yang sedang memanyunkan bibirnya sendiri karena gagal mencubit kedua pipi Xavier denggan penuh rasa gemas, membuat lelaki yang masih berumur sekitar dua puluh tiga tahun tersebut semakin merasa gemas dan pada akhirnya Xavier tertawa kecil.
__ADS_1
"Yang benar saja, Xavier, mengapa kamu bisa- aakh- lupakan saja lah! Aku akan makan saja agar setelah ini aku bisa mencubit kedua pipimu sebagai dasar balas dendam karena sedari tadi sudah menggodaku seperti itu!" Wanita cantik yang memiliki rambut yang memiliki warna kuning nyaris putih yang terlihat memiliki mata yang memiliki warna biru laut tersebut langsung memasang wajah sebal, seolah-olah benar-benarr merrasa kesal setengah mati atas godaan kecil yang telah diberikan oleh sang kekasih di atas kertas kontrak tersebut.
Kini giliran Xavier yang tertawa, dengan puas sekali sama seperti saat Jasmine memuji dan menggodanya sebelumnya, di mana lelaki tersebut merasa sangat-sangat puas karena sudah berhasil menggoda balik bahkan mentertawai Jasmine yang pipinya sudah mulai terlihat memerah penuh rasa malu akibat godaan dan ledekan yang diberikan oleh Xavier kala itu. Entah mengapa, bagi lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat kemerahan serta mata yang memiliki warna biru laut tersebut, wajah kesal yang telah diperlihatkan oleh Jasmine kala itu terlihat benar-benar menggemaskan setengah mati.
"Xavier- berhentilah tertawa seperti itu! Aku tidak suka, tahu!" rengek Jasmine seaya mengguncang-guncangkan lengan lelaki yang malang tersebut dengan sedikit lebih kencang, seolah-olah wanita itu merasa kesal akibat Xavier yang sedari tadi terus menerus tertawa penuh rasa geli setelah puas menggoda lawan bicaranya itu. "Sudahlah, ayo makan saja!" Jasmine langsung melepaskan tangan mungilnya dari lengan kekar milik Xavier, lantas menuangkan segelas ice lemon tea dari teko besar yang memang disediakan oleh pihak restoran kala itu.
__ADS_1
Ah, sial tampaknya sang chief executive officer tersebut melupakan sesuatu yang bisa dikatakan sangat-sangat krusial bagi Xavier, yakni lelaki tersebut tidak bisa sedikit pun memakan makanan pedas, barang setetespun, dan yang Xavier lupakan, adalah jika Jasmine sudah pergi ke restoran hotpot, makawanita tersebut akan membuat kuah yang demikian pedasnya itu, yang bahkan saking pedasnya bisa membuat bibir seseorang langsung panas dan memerah, dan perut langsung terasa panas, alih-alih hangat akibat kuah hotpot yang memang terasa sangat-sangat pedas dan tentu saja lezat tersebut.
Xavier hanya bisa menghela napas panjang, jika sudah seperti ini, maka apa yang seharusnya dilakukan oleh lelaki yang malang tersebut adalah memesan makanan lain yang sekirnnya rasanya benar-benar tidak pedas sama sekali. Xavier hanya bbisa menghela napas panjang, jika sudah begini rasanya tidak enak juga bagi sang lelaki untuk tidak turut mencicipi makanan yang sudah terlebih dahulu diracik oleh Jasmine pada saat itu. "Jasmine, aku akan memesan semangkuk mie saja, mengingat kamu tahulah betapa sensitifnya perutku ini."
Wanita cantik cantik yang memiliki tubuh yang tinggi dan ramping serta mata yang memiliki warna biru laut tersebut langsung memasang senyum nista di wajah cantiknya itu, seolah-olah sedang menggoda lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar yang menjadi pasangannya itu. "Jadi pasanganku ini tidak bisa makan makanan pedas? Sama sekali tidak bisa, ya? Ouh, betapa lemahnya dirimu itu, Xavier, kamu ini benar-benar seperti lelaki bertulang lunak, tidak, lelaki berpencernaan lunak, ha-ha-ha," goda sang aktris muda seraya menaikkan kedua alisnya setinggi mungkin lalu menurunkannya beberapa kali, kentara sekali memang sedang meledek Xavier yang memang tidak bisa sama sekali menyantap hidangan pedas walau hanya mencicipinya saja.
__ADS_1
"Ough, hentikan, Jasmine, itu sama sekali tidak lucu untukku, lagipula kamu mau kita tidak pulang ke apartemenmu alih-alih pulang ke rumah sakit karena masalah perutku yang sangat-sangat menyebalkan ini?" Xavier bertanya seraya mengambil buku menu yang masih tergeletak di atas meja, juga sembari melirik dan menatap datar ke arah lawan bicaranya yang memang berada di hadapan lelaki yangn masih berumur sekitar dua puluh tiga tahun tersebut. Setelah bertanya begitu, Xavier langsung memesan semangkuk mie polos yang memang merupakan satu dari sedikit menu yang tidak menggunakan banyak rempah di dalamnya jadi sudah dapat dipastikan rasanya sedikit hambar alih-alih pedas seperti hotpot yang sudah dipesan oleh Jasmine pada malam yang cukup damai itu.
Lagipula, tidak hanya sampai di sana saja, sebenarnya ada beberapa hal yang membuat lelaki yang memiliki tatapan malas itu merasa sedikit heran atas kebiasaan makan milik Jasmine yang dapat dikatakan sangat-sangat unik dan sebenarnya snagat-sangat tidak normal tersebut, yakni mengapa bisa wanita yang satu itu menjaga dietnya dengan sedmikian ketat hingga pola makannya setiap hari hanya seputar sayur dan buah yang dijadikan salad atau jus, dan dada ayam tanpa lemak yang menjadi hidangan utamanya nyaris setiap hari, tetapi bisa berubah menjadi sesuatu yang demikian ganas dan brutalnya ketika makan di restoran hotpot kesukaannya, bahkan sampai memesan tiga set yang sudah pasti ukurannya sangat-sangat besar dan bahkan menghabiskan semua makanan tersebut tanpa kesulitan sama sekali. Ini menarik dan patut rasanya Xavier selidiki dan pelajari ke depannya.