I Love You, Bodyguard-ku

I Love You, Bodyguard-ku
Bab 45


__ADS_3

Setelah selesai membawa Jasmine pulang bersama dengan dirinya, secara mau tidak mau Marshel juga harus membiarkan Xavier menginap, mengingat hari yang sudah terlalu malam dan tentu saja, hujan dan badai di luar turut menjadi pertimbangan lelaki yang satu itu. Secara perlahan-lahan, Marshel meletakkan tubuh Jasmine yang sudah tertidur dengan demikian lelapnya itu di kasur sang nona muda, lantas memakaikan wanita pujaan hatinya itu selimut dan kemudian tentu saja tidak lupa menurunkan suhu kamar tersebut.


Setelah menyelesaikan apa yang harus ia lakukan, Marshel lantas membawa selembar selimut ke luar, lebih tepatnya ke arah sofa di mana Xavier terlihat sedang duduk di sana seraya menikmati secangkir kopi hitam yang memang selalu tersedia di sana kalau-kalau Marshel ingin begadang sepanjang malam melakukan sesuatu. "Ini selimut anda, tuan muda Xavier, saya biasanya tidur di sini tanpa selimut sama sekali."


Xavier menolehkan kepalanya ke arah Marshel, memasang senyum tipis kemudian mengangguk seadanya. "Maaf merepotkanmu seperti ini, Marshel, kamu bahkan sampai harus tidak bisa tidur di sini karena aku memakai sofa ini," ucap Xavier penuh rasa tidak enak hati seraya menerima selembar selimut yang cukup tebal tersebut dari tangan Marshel.


Marshel hanya menjawab perkataan tersebut dengan anggukan seadanya, seolah-olah lelaki tersebut juga tidak terlalu berminat untuk berbicara dengan Xavier mengenai berbagai hal, pun lagi kedua lelaki tersebut memang tidak memiliki topik yang lebih untuk dibicarakan satu sama lainnya itu. "Yah ... soal itu, bukan masalah besar." Marshel lantas memutuskan untuk duduk di sofa lain yang berada di sisi lain ruang tengah tersebut.

__ADS_1


"Hei ... kudengar kamu menyimpan perasaan yang berbeda terhadap Jasmine, ya?" Xavier mencoba untuk membuka percakapan, walau dengan cara yang dapat dikatakan konyol dan bodoh. "Mengapa demikian?" Lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat kemerahan serta mata yang memiliki warna biru laut tersebut langsung memasang senyum tipis, berusaha membuat Marshel merasa nyaman sementara dirinya bisa mengeruk informasi yang lebih mengenai perasaan lelaki yang berada di hadapannya itu.


Marshel berdeham pelan, tidak tahu harus menjawab pertanyaan lelaki licik yang berada di hadapannya itu. Jika Marshel menjawab iya, lantas Xavier sudah dapat dipastikan akan mengeruk informasi yang lebih mengenai perasaan lelaki tersebut, tetapi jika Marshel berkata tidak, maka itu merupakan sebuah kebohongan dan tentu saja Xavier akan dapat mengetahuinya dengan sangat-sangat lihai dan mudah sekali.


"Mhm ... kalau soal itu, tampaknya itu memang benar, tetapi apapun itu saya tidak dapat melakukannya, mengingat saya ini ... hanya merupakan bodyguard yang disewa oleh nona muda." Marshel memasang senyum tipis, seraya menyandarkan punggung lebarnya di sandaran sofa yang cukup tebal tersebut. "Haah ... mengingat hal tersebut, rasanya menyenangkan sekaligus menyedihkan sekali."


Mendengar jawaban konyol yang dikeluarkan oleh Marshel, Xavier mengeluarkan tawa kecil, seolah-olah mentertawakan apa yang telah dikatakan oleh laki-laki yang terlihat memiliki mata yang hijau dengan pandangan yang sangat-sangat tajam tersebut. "Huft ... jawaban yang sangat-sangat tidak aku harapkan dari seorang mantan anggota CIA terbaik ... mengecewakan sekali, Marshel." Xavier memasang senyum licik, seraya menatap lurus mata hijau milik Marshel kala itu. "Aku tidak menyangka bahwa anggota CIA terbaik macam kamu dapat menyerah dengan sangat-sangat mudah sekali."

__ADS_1


"Mengapa kamu tidak jujur saja pada Jasmine mengenai perasaan yang kamu miliki terhadap wanita itu? Pun lagi mengapa kamu tidak jujur saja kalau kamu ini memang merupakan seorang mantan anggota CIA?" Lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat kemerahan serta mata yang memiliki warna biru laut tersebut langsung memasang senyum sinis, menatap Marshel dengan tatapan yang benar-benar tidak bisa diartikan sama sekali oleh siapa pun.


Lagi, Marshel tertawa kecil, seolah-olah apa yang telah dikatakan oleh laki-laki yang terlihat memiliki wajah yang cukup tampan yang terlihat memiliki wajah serius tersebut terdengar sangat-sangat lucu sekali. "Hah ... untuk apa pula saya katakan pada Jasmine mengenai siapa saya di masa lalu dan tentang perasaanku? Menurut saya jauh lebih baik jika aku menjalani semuanya sesuai profesionalitas yang saya miliki, alih-alih memaksakan perasaan yang saya miliki terhadap Jasmine."


"Huft ... profesionalitas hm ... profesionalitas yang konyol, menurutku. Lucu sekali, hanya karena kamu hanya bodyguardnya bukan berarti kamu tidak boleh menyatakan perasaanmu terhadap Jasmine, bukan begitu?" Xavier menaikkan kedua alisnya setinggi mungkin seraya mengangguk-anggukkan kepalanya secara perlahan-lahan, meledek Marshel dengan cara paling aneh yang pernah ada.


"Terserahlah ... saya juga tidak ingin terlalu ambil pusing tentang perasaan saya terhadap nona muda Jasmine. Pun lagi, anda juga sudah mendapatkan hati nona muda Jasmine, bukan begitu?" Marshel tertawa kecil, seraya membuka kaleng kopi yang berada di tangan lelaki tersebut sedari tadi. "Anggap saja saya tidak ada ... tentang perasaan saya terhadap nona muda Jasmine, itu sendiri benar-benar bukan urusan anda, tuan muda Xavier. Toh sekali lagi, saya ini hanya merupakan seorang bodyguard."

__ADS_1


Sang Chief Executive Officer tersebut tertawa pelan, menatap Marshel dengan tatapan datar, seolah-olah sedang merendahkan Marshel yang tetap saja hingga akhir menolak untuk mengakui perasaan milik lelaki tersebut terhadap nona muda Jasmine yang saat ini telah menjadi kekasih kontrak lelaki yang masih berumur sekitar dua puluh hingga dua puluh lima tahun tersebut. "Bagaimana jika suatu saat nanti, alih-alih Jasmine akhirnya jatuh hati padamu, dia malah menikah denganku? Bagaimana jika hal tersebut sampai terjadi, Marshel? Apa yang akan kamu lakukan jika hal semacam ini benar-benar terjadi?"


Lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat dan mata hijau tersebut lantas menghela napas panjang, jika sudah begitu pertanyaannya, maka jawaban Marshel yang sesungguhnya adalah dirinya tidak rela setengah mati jika wanita cantik yang memiliki rambut yang memiliki warna kuning nyaris putih yang terlihat memiliki mata yang memiliki warna biru laut tersebut akhirnya menikah dengan lelaki lain.


__ADS_2