
Simon menghela napas seraya membuang puntung rokoknya sendiri, beberapa saat telah berlalu semenjak dirinya menghabiskan beberapa batang rokok untuk sekadar bersantai dan mengistirahatkan dirinya sendiri, serta mungkin saja sembari menghilangkan beberapa aroma yang sekiranya dapat menimbulkan kecurigaan dari siapa pun.
"Fuah, aku bosan sekali … aku ingin pulang dan bersantai alih-alih merokok sendirian di lapangan parkir seperti orang bodoh," keluh lelaki yang satu itu seraya menginjak bara api yang tersisa dari batangan nikotin yang sudah diisap lelaki yang sudah cukup berumur tersebut.
Setelah menghabiskan batang rokoknya dan menginjaknya begitu saja, Simon lantas bangkit dan berdiri, kemudian melangkahkan kaki jenjang berbalutkan celana panjang berwarna hitamnya ke arah mobil untuk membangunkan Marshel yang sedang tertidur di kursi belakang mobil tersebut untuk menjemput Jasmine dari tempat acara ulang tahun Reolle itu.
Benar saja, ketika Simon tiba di mobil, Simon melihat orang yang dipikirkannya masih tertidur seperti anak bayi di kursi belakang mobil. Tanpa banyak bicara sama sekali, Simon langsung mematikan pendingin mobil, kemudian membuka semua jendela mobil untuk mengeluarkan udara di dalam mobil dan menggantikannya dengan udara yang baru.
Setelah beberapa saat pendingin mobil dimatikan dan kaca jendela dibuka seluruhnya, tanpa lupa membuang pewangi mobil yang isinya sudah tinggal sedikit dan menggantinya dengan pewangi yang baru, Simon kemudian menghela napas panjang, bangga atas hasil kerjanya sendiri yang lumayan rapi itu.
Kini semuanya sudah tepat, lelaki yang memiliki wajah kaukasia yang memiliki mata yang memiliki warna biru laut tersebut hanya perlu membangunkan sang bodyguard yang masih saja tertidur seperti anak bayi di kursi belakang, membuat Simon mendecih jengkel karena harus membangunkan Marshel, dan karena masih sedikit kesal karena lelaki itu telah menghinanya tadi.
"Hei, Marshel, ayo bangun! Kamu tidak mau terus tertidur seperti anak bayi, bukan? Ayo bangun, kamu harus menjemput nona muda Jasmine karena pestanya sepertinya sudah akan berakhir!" Simon berkata seraya mengguncang-guncangkan tubuh Marshel dengan cukup keras. "Hei!!"
__ADS_1
"Ukh- iya, iya, aku bangun!!" Marshel menyahut dengan nada kesal yang demikian terasa, seraya menepis tangan Simon dari tubuhnya sendiri. "Berhenti mengguncangkan tubuhku seperti ini, Simon sialan! Aku akan bangun!"
Tanpa bisa beristirahat barang lima menit lagi, secara mau tidak mau, laki-laki yang terlihat memiliki wajah yang cukup tampan yang terlihat memiliki mata yang memiliki warna hijau tersebut langsung duduk seraya menguap dan tentu saja tidak lupa, mengucek matanya cepat. "Sudah jam berapa ini?"
"Jam dua subuh, sialan! Ayo bangun dan jemput nona muda Jasmine, sepertinya dia mabuk berat dan tidak ada yang bisa menghubungimu!" jawab Simon dengan nada jengkel, membuat mata hijau milik Marshel langsung membulat dan kesadarannya langsung terkumpul tanpa menunggu sedikit lebih lama lagi.
"Yang benar saja?! Jam dua subuh?!" Tentu saja Marshel merasa terkejut setengah mati. Dirinya ternyata tertidur selama sedikitnya enam jam, dan sang nona muda berada di dalam acara tersebut tanpa dirinya ketahui selama itu. Dengan sedikit terburu-buru, Marshel langsung mengecek ponselnya sendiri, memastikan apakah ada pesan masuk atau bahkan panggilan tidak terjawab dari wanita yang memiliki wajah kaukasia itu.
Tidak ada.
Marshel langsung keluar dari mobil, lantas berjalan menuju tempat acara yang masih cukup ramai tersebut dengan langkah yang benar-benar lebar dan terburu-buru, hanya untuk menjemput sang nona muda yang membuatnya merasa jatuh hati itu. Tempat acara yang dapat dikatakan sangat luas dan temaram itu seolah semakin menyulitkan Marshel dalam mencari keberadaan Jasmine di dalam tempat itu.
Terang saja lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat dan mata hijau tersebut tidak akan menyerah dengan mudah, di mana Marshel bahkan sampai harus menanyakan keberadaan Jasmine kepada beberapa pelayan yang sedang berkeliaran di sekitar lelaki tersebut, dan akhirnya setelah beribu kekhawatiran, rasa panik sekaligus tidak enak hati yang berseliweran di dalam hati sang bodyguard, Marshel akhirnya berhasil menemukan Jasmine.
__ADS_1
Ya, benar, wanita cantik yang memiliki rambut yang memiliki warna kuning nyaris putih tersebut terlihat sedang terbaring pingsan di atas salah satu sofa berbentuk huruf L dengan gelas yang berisi anggur merah yang tumpah dan membasahi dirinya juga gaunnya, benar-benar sendirian tanpa ada satu orang pun di sekitar Jasmine pada saat itu.
Dengan penuh rasa panik, Marshel langsung berjalan mendekati Jasmine, melepas jas hitam yang membalut tubuhnya itu lantas menutupi tubuh yang tinggi dan ramping milik Jasmine dengan jasnya sendiri, sebelum secara perlahan-lahan dan hati-hati mengangkat tubuh itu ke dalam gendongannya sendiri.
Wajah Jasmine yang terlihat sedang tidur, atau mungkin juga pingsan itu entah mengapa terlihat sangat-sangat cantik dan menggemaskan di mata Marshel kala itu, membuat lelaki yang satu itu secara diam-diam mengagumi keindahan wajah Jasmine kala itu. 'Indah sekali, lelaki mana pun yang pada akhirnya mendapatkan hati nona muda Jasmine merupakan lelaki yang benar-benar beruntung,' pikir Marshel seraya memasang senyum teduh, merasa tenang karena sudah menemukan sang nona muda.
Namun, tanpa Marshel sadari, wanita cantik yang memiliki mata yang memiliki warna biru laut tersebut mulai bergerak, di mana tangan ringkih Jasmine mulai bergerak, mengusap pipi Marshel yang sudah dicukur dengan bersih, berikut dengan bibir tipis milik sang bodyguard tersebut.
"Kamu ini tampan sekali, Marshel, wanita manapun yang pada akhirnya mendapatkan hatimu itu merupakan wanita yang benar-benar beruntung …," puji Jasmine, masih dengan nada mabuknya yang sangat-sangat kentara itu.
Pujian tersebut membuat Marshel tertegun sejenak, tidak percaya bahwa sang nona muda memiliki keberanian untuk mengatakan hal tersebut kepada dirinya ketika sedang mabuk.
"Aah, jika saja itu ialah aku … tapi masa bodo, biarkan aku menjadi wanita pertama yang mencicipi bibirmu itu," racau Jasmine seraya menarik tengkuk Marshel, tanpa berbasa-basi terlebih dahulu langsung mencium bibir lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat dan mata hijau tersebut dengan lembut, seolah-olah bibir Marshel merupakan sesuatu yang sangat-sangat rapuh.
__ADS_1
Tentu saja Marshel merasa sangat terkejut ketika Jasmine menciumnya seperti itu, di mana saking terkejutnya lelaki tersebut, ia sampai berhenti berjalan dan hanya bisa terdiam membeku di tempatnya sendiri, tidak peduli akan keramaian yang sedang terjadi dan benar-benar hanya terdiam saking terkejutnya lelaki tersebut pada saat itu.
Terkejut, juga senang, bersamaan.