
Terang saja Jasmine hanya bisa memasang sebuah senyuman, senyum yang terlihat menahan kesal sekaligus amarah karena mendengar pertanyaan sebodoh itu dikeluarkan oleh pihak pers terhadap dirinya. Apakah pihak pers ini ingin mengubah konferensi kali ini menjadi ajang adu mulut alias debat? Jika demikian adanya, sebenarnya Jasmine mau-mau saja meladeni hal tersebut.
Namun sayang sekali, Jasmine memilih untuk tidak melawan karena wanita yang memiliki wajah kaukasia itu sendiri sadar bahwa perlawanannya bisa saja merusak reputasinya sendiri semakin jauh saja, sehingga pada akhirnya Jasmine menghela napas lalu berujar, "mari kita lanjutkan saja ke pertanyaan yang berikutnya."
Sayang sekali, tampaknya wartawan yang tadi menanyakan hal tersebut kepada Jasmine merasa enggan melepas Jasmine ke pertanyaan berikutnya tanpa respon yang sekiranya dapat menjatuhkan wanita itu. Entahlah, mungkin saja wartawan tersebut memiliki dendam pribadi dengan Jasmine atau mungkin saja memang memiliki hobi menjatuhkan orang lain, di mana pada kasus ini ialah Jasmine yang merupakan figur publik.
"Mengapa anda enggan menjawab pertanyaan saya? Pertanyaan yang saya ajukan ini teramat sederhana, di mana bahkan anak sekolah dasar saja bisa menjawab dengan cepat."
Wartawan tersebut memasang sebuah seringai mengejek, seolah memang sedang ingin menjatuhkan harga diri Jasmine berikut dengan reputasi wanita yang satu itu melalui pertanyaannya sendiri.
Tentu saja Jasmine tidak sebodoh itu untuk terpancing omongan konyol dari seorang wartawan berita lokal, membuat wanita yang satu itu hanya memasang senyum tipis, menatap lurus ke arah wartawan yang super menyebalkan setengah mati tersebut, lantas menyahut, "Menurut kamu, jika seorang anak sekolah dasar saja bisa menjawab pertanyaan itu, lantas mengapa tidak kamu tanyakan saja pada anak sekolah itu? Selain itu, pertanyaan yang kamu paksa saya jawab itu merupakan pertanyaan yang benar-benar jauh dari masalah yang sedang terjadi, sehingga saya merasa enggan menjawabnya."
__ADS_1
Kini giliran wartawan malang itu yang terdiam. Mengapa pula dirinya nekad untuk memaksa Jasmine menjawab, ketika Jasmine bisa saja memutar pertanyaan itu kembali untuk menjatuhkan dirinya? Sang wartawan merasa bodoh, sementara Jasmine merasa senang karena tidak harus menjawab pertanyaan semacam itu.
"Apa ada pertanyaan selanjutnya?" Jasmine beralih, menatap lurus kepada seluruh wartawan yang diperkirakan memiliki jumlah puluhan di ruangan yang tidak dapat dikatakan benar-benar besar tersebut. "Jika tidak, maka saya rasa sudah cukup dari saya, dan itu juga berarti konferensi ini telah berakhir."
Seorang wartawan wanita, yang terlihat mengenakan satu set pakaian resmi dan kacamata berbentuk segi empat bangkit dan berdiri dari kursinya, menatap lurus ke arah Jasmine seraya memegang selembar kertas yang sepertinya berisi sebuah pertanyaan. "Menurut anda, jika pada akhirnya Amon dan istrinya, Jessica, bercerai setelah semua skandal ini, dan anda tetap tidak mau mengakui bahwa anda terlibat di dalam skandal ini, lantas siapakah orang yang seharusnya bertanggung jawab atas masalah tersebut?"
Lagi-lagi pertanyaan konyol nan bodoh, Jasmine sampai lelah sendiri mendengar pertanyaan yang selalu saja menyudutkannya dengan berbagai cara yang menyebalkan. Entahlah, Jasmine sudah merasa bosan dengan konferensi pers yang lebih mirip ajang para awak pers untuk berusaha merusak reputasi wanita yang malang tersebut.
Jawaban panjang lebar yang dikeluarkan oleh Jasmine pada saat itu juga mengandung permintaan atau perintah final dari wanita yang memiliki wajah kaukasia itu sendiri agar dirinya tidak secara konstan dan terus menerus dilibatkan ke dalam sebuah skandal yang bahkan benar-benar bukan urusannya sama sekali, tetapi mampu menghancurkan reputasi wanita yang malang itu secara perlahan dan sulit sekali diurus begitu saja. Menyebalkan dan menjijikkan, sebenarnya.
Para wartawan yang mendengar jawaban final dari Jasmine pun turut terdiam karena sudah mengerti bahwa Jasmine benar-benar merasa enggan setengah mati berada di konferensi pers yang lebih mirip seperti ajang para awak pers untuk berusaha merusak reputasi wanita yang malang tersebut pada saat ini. Tidak ada yang berani buka mulut, bahkan sekadar berbicara dengan sesama wartawan saja tidak ada yang berani melakukan hal tersebut, dimana hal ini membuat ruangan itu menjadi demikian sunyi dan senyap.
__ADS_1
"Karena menurut saya sudah tidak ada yang perlu saya jawab lagi disini, maka dengan ini saya nyatakan bahwa konferensi pers kali ini berakhir. Saya harap, jawaban yang telah saya berikan tadi telah membuat anda sekalian merasa puas dan berhenti mengganggu kehidupan pribadi saya."
Tanpa berbasa-basi terlebih dahulu sama sekali, Jasmine lantas melangkahkan kakinya, turun dari podium tersebut kemudian berjalan bersama Marshel meninggalkan ruangan dimana konferensi pers tersebut berjalan, tanpa sedikit pun peduli pada wartawan yang mulai bergerak mengejar wanita itu untuk menanyakan berbagai hal konyol lainnya, yang bahkan hanya merupakan pertanyaan asal bunyi kepada Jasmine.
"Nona muda, Simon sudah menunggu anda di drop-off point di tempat ini, saya akan melindungi anda hingga sampai ke sana. Apa ada yang ingin anda lakukan setelah ini?" Marshel bertanya seraya menggamit lembut tangan ringkih nan mungil milik Jasmine, membawa wanita yang satu itu pergi dari tempat yang seperti neraka tersebut.
Jasmine hanya terdiam, sepertinya masih merasa sangat kesal atas apa yang terjadi tadi, sehingga memilih untuk abai pada pertanyaan yang telah diajukan oleh sang lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat dan mata hijau tersebut.
Tentu saja Marshel tidak terlalu ambil pusing jika Jasmine memilih untuk abai kepadanya, mengingat apa yang telah terjadi pada konferensi pers barusan, wajar saja jika Jasmine merasa kesal setengah mati atas pertanyaan yang benar-benar konyol dan terdengar bodoh itu.
"Kurasa aku ingin pulang saja lalu bersantai di rumah, aku tidak ingin pergi kemana pun pada situasi seperti ini." Jasmine menjawab dengan nada datar, enggan menampakkan emosinya sendiri seraya terus berjalan bersama Marshel yang selalu melindungi wanita yang sangat cantik itu.
__ADS_1