I Love You, Bodyguard-ku

I Love You, Bodyguard-ku
Bab 54


__ADS_3

"Kamu ... sebenarnya ingin ini, bukan?" Xavier bertanya seraya menarik wajah Jasmine, lantas mencium wanita tersebut tepat di bibirnya sendiri dengan sangat-sangat lembut, seolah tidak merasa bersalah sama sekali bahkan sampai melilitkan lidahnya sendiri di dalam mulut Jasmine, mengajak lidah wanita yang satu itu berdansa sesuka hatinya saja itu.


Dengan sangat-sangat lihai sekali, Xavier mencium bibir Jasmine dan **********, mengingat lagi, pekerjaan lelaki tersebut yang berhubungan dengan banyak sekali wanita, seolah memberi kemudahan yang tidak biasa bagi lelaki tersebut dalam membuat wanita lain terbuai di dalam ciumannya sendiri. Lihat saja Jasmine, dengan pipi yang memerah pekat seperti buah tomat yang siap dipanen, dan ******* bibir yang diberikan oleh Xavier kala itu, serta tentu saja Xavier tidak lupa untuk menekan tengkuk Jasmine agar ciuman kedua insan yang berlainan jenis kelamin tersebut tidak terlepas begitu saja.


Setelah beberapa saat berciuman seperti itu,  Xavier lantas melepas ciumannya sendiri, menatap wajah memerah Jasmine yang terlihat benar-benar menggemaskan itu. "Manis sekali ... aku sampai heran mengapa lelaki macam Marshel memilih untuk menolakmu alih-alih menerima wanita manis nan menggemaskan macam kamu, untung saja aku tidak sampai mengira bahwa dia adalah lelaki yang ... tidak normal, dalam artian gay, ha-ha-ha." Xavier tertawa kecil, seraya terus menatap lurus mata biru milik Jasmine.


"T-tunggu, dari mana kamu tahu bahwa Marshel itu tidak gay sama sekali? Maksudku ...." Jasmine berusaha melepaskan diri dari kungkungan Xavier kala itu, lantas kembali duduk di posisinya semula. "Memangnya apa yang membuatmu mengetahui bahwa Marshel itu masih merupakan lelaki normal? Aku- aku sendiri bahkan tidak jarang mengira bahwa Marshel ialah lelaki gay yang sedang mencoba kembali menjadi lelaki normal dengan cara yang ... entahlah, unik dan aneh menurutku."


Dengan lembut, Xavier menggelengkan kepalanya secara perlahan-lahan seolah-olah sedang memberi pengertian yang berbeda pada Jasmine, bahwa apa yang dipikirkan oleh wanita itu benar-benar salah seratus persen. "Tentu saja tidak, Jasmine, mana mungkin lelaki jantan macam Marshel benar-benar menjadi lelaki gay? Tetapi jika hal tersebut benar-benar terjadi maka aku akan menjadi orang pertama yang akan mentertawakan hal tersebut, sungguh!"

__ADS_1


Lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat kemerahan serta mata yang memiliki warna biru laut tersebut langsung memasang senyum tipis, seraya mengalihkan pandangannya sendiri ke arah lain, seolah-olah sedang menyembunyikan sesuatu. "Lagipula mana mungkin seseorang yang menjadikan foto Jasmine sebagai wallpaper ponselnya merupakan lelaki gay," bisik Xavier dengan nada yang benar-benar pelan, tetapi entah mengapa tetap terdengar oleh Jasmine yang pendengarannya mendadak menajam hingga beberapa ratus persen.


"Tunggu, apa yang kamu katakan tadi?" Jasmine tiba-tiba saja bertanya seraya menatap lawan bicaranya dengan tatapan serius, seolah-olah wanita yang satu itu tahu bahwa Xavier mungkin saja memutuskan untuk tutup mulut agar tidak perlu membicarakan hal konyol yang tanpa sengaja diucapkannya tadi. "Marshel menjadikan fotoku sebagai wallpaper di ponselnya? Apa kamu serius?"


Jika sudah begini, tampaknya sang Chief Executive Officer tersebut juga tidak akan bisa mengelak dan menghindar dengan mudah dari pertanyaan yang sudah diajukan oleh Jasmine itu, membuat Xavier hanya bisa menghela napas panjang, lantas menatap lawan bicaranya itu dengan tatapan yang benar-benar tidak bisa diartikan sama sekali oleh siapa pun. "Oh ... tentang yang satu itu, katakan saja aku tidak sengaja melihat ponselnya ketika aku secara mau tidak mau menginap di apartemenmu saat kita berdua terjebak hujan dan secara mau tidak mau Marshel datang menjemput kita. Yah ... bisa dkatakan bahwa aku tidak sengaja mengintip ponselnya ketika Marshel masih tertidur dan ada notifikasi pesan masuk di ponselnya."


Sang Chief Executive Officer tersebut malah tertawa kecil, seolah-olah merasa gemas sendiri dengan kepolosan yang ditampilkan oleh Jasmine kala itu kepada dirinya sendiri. Entahlah, jika sudah begini situasinya entah mengapa Xavier jadi semakin gemas dan sayang saja dengan sang idola pujaan hati itu, belum lagi sikap polos yang sewaktu-waktu dapat muncul, seolah-olah menjadi nilai tambah yang tidak biasa bagi Xavier yang terkenal dingin dan cuek di luar jam kerjanya itu.


"Mhm ... entahlah, aku beritahu padamu atau tidak, ya? Menurutmu ide bagus tidak jika aku memberitahumu alih-alih merahasiakannya mengingat kami memiliki perjanjian tidak tertulis antar lelaki?" Xavier bertanya seraya menaikkan kedua alisnya setinggi mungkin seraya mengangguk-anggukkan kepalanya secara perlahan-lahan seolah-olah sedang menggoda wanita yang berada di hadapannya itu. Belum lagi senyum miring yang ia tampakkan, seolah-olah membuat Jasmine merasa kesal setengah mati saja ketika melihatnya.

__ADS_1


"Beritahu aku, Xavier!" perintah Jasmine seraya memukul pelan pundak lawan bicaranya itu. Wanita yang memiliki wajah kaukasia itu sendiri bahkan sampai memanyunkan bibirnya sendir seolah-olah sedang merasa kesal setengah mati dengan sikap menyebalkan yang secara tiba-tiba saja ditampakkan oleh Xavier kala itu.


"Aah- tidak mau ah! Aku dan Marshel sudah memiliki perjanjian antar lelaki yang harus kami tepati!" tolak lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat kemerahan serta mata yang memiliki warna biru laut tersebut langsung memasang senyum nakal, membuat Jasmine merasa semakin kesal saja ketika melihat senyum nakal yanh ditampakkan oleh sang Chief Executive Officer tersebut kepada dirinya itu.


Alih-alih menyerah begitu saja, sang nona muda malah memilih untuk mendorong Xavier hingga jatuh telentang di atas sofa kantor lelaki itu sendiri, lantas secara seenaknya saja duduk di atas perut Xavier, mencengkram kerah lelaki tersebut dengan teramat keras. "Ayolah, Xavier, katakan saja foto macam apa yang dijadikan oleh Marshel sebagai wallpaper di ponselnya itu!" paksa Jasmine seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Xavier, dan saking dekatnya mereka berdua, nyaris saja hidung kedua insan yang berlainan jenis kelamin tersebut bersentuhan satu sama lain, hingga terdengar suara yang benar-benar mengejutkan sang nona muda, yang berasal dari pintu ruangan kantor milik Xavier kala itu.


"Tuan muda Xavier, saya ijin masuk, ya? Saya ingin mengantarkan dokumen penting."


Dan kalimat itu berbunyi bersamaan dengan suara pintu ruangan Xavier mulai membuka, memperlihatkan sang sekretaris.

__ADS_1


__ADS_2