I Love You, Bodyguard-ku

I Love You, Bodyguard-ku
Bab 38


__ADS_3

Pada akhirnya, Jasmine hanya menghabiskan sisa makanannya dengan penuh rasa enggan, seolah wanita tersebut sudah tidak berrada di sana lagi. Suasana hati Jasmine terang saja langsung benar-benar memburuk setelah mendenga penjelasan yang diberikan oleh Xavier tadi. Entah bagaimana biisa dengan demikian teganya Raphael mengkhianati wanita tersebut setelah apa yang mereka berdua lalui bersama itu.


Xavier yang tentu saja mengamati perubahan suasana hati Jasmine pada saat itu juga tentu saja hanya bisa menghela napas panjang, tidak dapat melakukan apapun untuk sekiranya dapat menaikkan suasana hati Jasmine pada saat itu. "Maaf karena harus memberikanmu informasi semacam ini ketika kita berdua sedang makan, aku sepertinya lupa kalau hal semacam ini dapat memperburuk suasana hatimu berikut menghilangkan nafsu makanmu secara instan sekali."


Wanita cantik yang memiliki rambut yang memiliki warna kuning nyaris putih yang terlihat memiliki wajah yang cukup menggemaskan tersebut lantas menghela napas panjang, menatap Xavier dengan senyum tipis di wajahnya sendiri. "Bukan masalah besar, Xavier, toh pun aku yang memintamu untuk menceritakannya. Jadi yah, secara teknis ini salahku sendiri."


Sang lawan bicara hanya berdeham singkat, tampaknya Xavier sendiri juga sedikit merasa canggung akibat perubahan suasana yang secara tiba-tiba saja terjadi di antara kedua insan yang berlainan jenis kelamin tersebut, membuat Xavier merasa semakin tidak enak hati karena sudah membeberkan apa yang sebenarnya terjadi kepada Jasmine yang jelas-jelas sedang dalam suasana hati yang demikian baiknya itu.


"Baiklah ...," sahut Xavier penuh kepasrahan sebelum pada akhirnya mereka berdua menghabiskan malam yang tersisa hanya dengan berdiam satu sama lain, terutama Jasmine yang tampaknya masih belum bisa menerima fakta yang demikian menyakitkan tersebut.

__ADS_1


Kedua insan yang berlainan jenis kelamin tersebut terlihat hanya berdiam satu sama lain di dalam mobil Xavier, tepat setelah lelaki muda tersebut membayar makanan yang mereka berdua makan, Xavier memutuskan untuk mengajak Jasmine yang sedang sedikit kacau ke suatu tempat, yang harapannya merupakan tempat kesukaan sang aktris yang masih demikian muda tersebut.


Kesunyian yang berada di dalam mobil Xavier kala itu entah mengapa terasa demikian menekan dan menyaktikan, terutama kepada Jasmine yang terlihat hanya terpekur diam di dalam mobil seraya menyandarkan pundaknya ke jendela mobil dan menatap ke luar jendela, ke arah langit malam kota Florida yang dipenuhi dengan berbagai lampu neon berbagai warna.


Terang saja lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat kemerahan serta mata yang memiliki warna biru laut tersebut langsung merasa tidak tega sekaligus iba ketika melihat Jasmine yang demikian kacau, mengingat biasanya wanita itu lah yang akan menggodanya dengan beberapa lelucon lucu nan garing yang dimilikinya itu. "Jasmine ... kita pergi ke suatu tempat dulu ya, sebelum aku akan mengantarkanmu kembali ke apartemenmu itu." Xavier mencoba membuka percakapan kecil, yang setidaknya akan dapat memecahkan suasana canggung yang sedang terjadi.


Namun sayang sekali, percobaan atau usaha yang dibuat oleh lelaki tersebut hanya dibalas dengan diamnya Jasmine, seolah-olah wanita tersebut masih merasa enggan setengah mati walau Xavier sudah mencoba membujuknya seperti itu, membuat sang lawan bicara hanya bisa menghela napas panjang, Xavier sendiri sudah tidak tahu lagi apa hal yang tepat untuk dilakukan pada situasi semacam ini.


Tidak lama berkendara, suasana kota yang tentu saja dipenuhi oleh gedung-gedung pencakar langit itu pun mulai digantikan dengan pepohonan kelapa yang mulai tumbuh di sisian kiri dan kanan jalanan, sepertinya Xavier sedang membawa sang aktris muda ke suatu tempat yang cukup jauh dari perkotaan, guna menenangkan hati juga pikiran yang sedang kacau akibat apa yang sedangterjadi itu.

__ADS_1


Tanpa harus menunggu lebih lama lagi di dalam perjalanan yang terasa demikian panjang itu, lelaki yang memiliki perusahaan yang demikian besar dengan profit nyaris di berbagai tempat tersebut akhirnya sampai di tempat tujuan, yakni di sebuah pantai yang demikian indah, tetapi sepi, dengan pasir yang berwarna putih tulang, angin sepoi-sepoi yang terasa demikian sejuk dan menenangkan hati, juga tentu saja tanpa lupa dengan deburan ombak di malam hari yang tidak jarang membawa kenangan nostalgik bagi beberapa orang.


Xavier kemudian memberhentikan mobilnya sendiri tepat di bawah salah satu pohon kelapa yang bertumbuh di tempat itu, kemudian mematikan mesin mobil lantas menghela napas panjang, menolehkan kepalanya ke arah Jasmine yang masih saja terdiam dan melamun tanpa bersuara sama sekali, barang sedikit saja. "Jasmine, ayo turun, kita sudah sampai, kamu bisa menenangkan hatimu dulu di sini," panggil Xavier seraya mengusap lembut pundak sempit milik Jasmine, sebelum pada akhirnya berhasil mendapatkan atensi wanita tersebut, walau hanya sedikit saja.


"Kita ini ... ada di mana?" Jasmine bertanya seraya menatap lawan bicaranya dengan tatapan kosong, pun nada bicara wanita itu pun terdengar demikian sendu dan menyedihkan kala itu, membuat Xavier merasa semakin iba, terlebih saat Jasmine akhirnya melepas sabuk pengaman lantas turun dari mobil, berjalan dengan sangat-sangat gontai sekali ke arah pasir putih tanpa berkata apa-apa sama sekali, hingga pada akhirnya jatuh terduduk di atas pasir putih, tepat di mana tempat ombak yang akhirnya pecah berubah menjadi gelembung-gelembung kecil dalam posisi berlutut.


"Jasmine ..." gumam Xavier penuh rasa khawatir, seraya mengunci mobilnya sendiri lantas berjalan menyusul Jasmine yang masih terlihat melamun di atas pasir pantai yang sebenarnya cukup kasar dan keras itu.


Entahlah, lagi, walau sebenarnya Xavier itu cukup sering bekerja sama dengan berbagai macam wanita yang terang saja memiliki berbagai sifat dan sikap yang demikian berbeda-beda itu, entah mengapa jika sudah berkaitan dengan sang idola pujaan hati sekaligus salah satu koleganya, Xavier tidak bisa menurunkan rasa khawatirnya barang sedikit saja, seolah-olah tahu bahwa wanita yang memiliki wajah kaukasia itu sendiri memang sedang membutuhkan seseorang untuk menemaninya dan mungkin saja juga memberikan wanita yang malang itu sebuah sandaran, serta terang saja mendengarkan segala keluh kesah yang mungkin saja akan dikeluarkan oleh Jasmine ketik suasana hati wanita tersebut sudah lebih mendukung untuk bercerita walau  sedikit saja.

__ADS_1


Xavier menghela napas, kali ini harus menggantikan Marshel.


__ADS_2