
Di tengah-tengah kegiatan makan kedua insan yang berlainan jenis kelamin tersebut, Jasmine berdeham pelan, tepat setelah menelan segulungan daging sapi yang dibalut oleh wanita tersebut dengan selembar sawi putih yang sudah terlebih dahulu direbus di dalam kuah hotpot yang demikian pedas tersebut, seolah-olah Jasmine hendak mengatakan sesuatu tepat setelah menelan makanannya yang bagi Xavier seolah-olah tercium aroma kematian yang sangat-sangat pekat di dalamnya.
"Ah, ya, selain makan seperti ini sebenarnya ada juga yang ingin aku bicarakan denganmu, Xavier, dan ini masih berkaitan dengan apa yang pernah aku minta tolong padamu untuk lakukan itu." Wanita yang memiliki kulit seputih salju yang turun di hari pertama musim dingin tersebut lantas mendonagkkan kepalanya, menatap ke arah Xavier yang masih sibuk dengan menyuap mie polos yang memang ia pesan beberapa saat yang lalu itu. "Tentang dalang di balik skandal yang sedang terjadi ini, apa kamu sudah menemukan beberapa info yang cukup menarik untuk diceritakan padaku atau tidak, itu saja."
Terlebih dahulu Xavier menelan mie yang masih berada di dalam mulutnya itu, sebelum kembali menatap ke arah Jasmine yang sedang mengelap mulut mungilnya itu menggunakan serbet putih yang juga disediakan oleh pihak restoran. Lelaki yang memiliki mata yang memiliki warna biru laut yang terlihat demikian khas itu pun memasang senyum tipis, seolah-olah sudah tahu jawaban yang paling tepat di balik pertanyaan yang diajukan oleh Jasmine kala itu, tetapi belum menemukan waktu yang tepat untuk menjabarkannya dengan baik.
__ADS_1
Yah, sesuai atas apa yang pernah Xavier duga tepat ketika Jasmine memintanya untuk melakukan penyelidikan kecil, jawaban yang sudah terlebih dahulu ditebak oleh Xavier memanng benar, yakni Raphael ialah dalang yang sesunguhnya, dengan seorang lain yang juga Jasmine kenal dengan baik sebagai salah satu kaki tangannya yang dibayar dengan uang yang tidak sedikit oleh Raphael. Tetapi saat ini apa yang sedang Xavier pikirkan justru ialah bagaimana caranya memberitahukan hal tersebut kepada Jasmine tanpa perlu melibatkan penolakan apa lagi air mata yang menurut lelaki tersebut teramat tidak penting itu.
Tepat setelah lelaki tersebut mengantarkan Jasmine pulang ke kediamannya pada siang hari sebelumnya, Xavier langsung meminta kepada sekretarisnya sendiri untuk menyelidiki apa saja kegiatan yang dilakukan oleh Raphael ketika hari di mana skandal tersebut terjadi, di mana hasilnya benar-benar sesuai kecurigaan lelaki tersebut selama ini, yakni memang benar adanya bahwa Raphael lah yang berada di sisi Amon ketika lelaki itu mabuk lalu bercumbu ria dengan wanita yang tidak tahu malu tersebut.
"Kalau soal itu, aku memang sudah mendapat beberapa info menarik, sekaligus beberapa di antara informasi yang akan segera kuberitahukan padamu ini juga merupakan informasi yang sebenarnya akan cukup menyakitkan hatimu, tetapi tentu saja ... mau bagaimana pun kamu harus tetap mendengarkannya." Xavier berkata panjang lebar seraya menyesap ice lemon tea yang juga berada di gelasnya sendiri itu, lantas menatap Jasmine dengan tatapan yang tidak dapat diartikan sama sekali apa maksudnya itu.
__ADS_1
Penjelasan panjang dan lebar yang diberikan oleh lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat kemerahan serta mata yang memiliki warna biru laut tersebut langsung membuat selera makan Jasmiine menguap begitu saja. Entahlah, kuah hotpot yang sebelumnya terasa benar-benar lezat dan pedas secara mendadak sekali berubah menjadi terasa hambar dan tidak enak, membuat Jasmine menghela napas panjang, sudah seharusnya wanita tersebut tidak menanyakan hal tersebut ketika dirinya sedang makan seperti ini karena hal tersebut secara sukses sekali menghilangkan seluruh nafsu makannya sendiri.
"Raphael ... tetapi kenapa? Jika memang benar dia ingin mengambil peran utama wanita seperti yang selama ini kita kira, mengapa tidak bicara saja secara langsung padaku? Tentu saja dengan sukarela aku akan memberikannya. Kenapa begini? Setelah semua hal yang aku berikan padanya, dan apa yang telah kami lewati sedari awal kami berdua masuk ke dunia entertainmen, mengapa harus dia yang menusukku dari belakang seperti ini?" Jasmine bertanya seraya meletakkan kembali sumpitnya ke atas meja yang berada tepat di hadapan wanita tersebut.
"Dan ya, kurasa tidak hanya sampai di sana saja, Raphael juga lah yang membuatmu tergeletak mabuk di acara ulang tahun Reolle, yang sebenarnya aku juga datang ke sana tetapi tidak bisa berbincang-bincang denganmu mengingat aku ada urusan lain di acara tersebut. Tidak hanya membuatmu mabuk berat hingga meracau bahkan tergeletak pingsan di salah satu sofa khusus tamu VVIP, Raphael juga menyuruh Simon dan beberapa rekannya yang lain untuk merekam dan memotretmu yang sedang mabuk berat, bahkan sampai hampiir menciuumi Raphael juga." Lelaki yang merupakan Chief Executive Officer yang masih tergolong sangat-sangat muda itu kemudian menghela napas panjang, seolah-olah masih ada lanjutan dari apa yang hendak ia ceritakan kala itu.
__ADS_1
"Untungnya pada saat itu aku masih berada di sana, hingga aku bisa langsung menelepon sekretarisku yang lain lantas memintanya untuk meretas beberrapa perangkat di sana, sehingga foto-foto mau pun videomu kemarin itu tidak ada yang tersebar sama sekali. Yah, aku tahu mungkin ini terdengar benar-benar klise dan konyol, tetapi aku harap kamu bisa jauh lebih sabar, sehingga kita bisa menyelesaikan masalah semacam ini dengan baik." Xavier berkata lagi, membuat Jasmine hanya bisa mengangguk pelan, merasa tidak terlalu heran mengingat Xavier adalah mantan penguntitnya dahulu, yang terang saja dapat meretas ini dan itu dengan mudah dan baik.
Sang nona muda hanya dapat menghela napas panjang, karena jika sudah begini situasi dan kondisinya, Jasmine terang saja tidak dapat mengubah banyak hal, termasuk apa yang telah dilakukan Raphael terhadap sang aktris itu.