I Love You, Bodyguard-ku

I Love You, Bodyguard-ku
Bab 17


__ADS_3

Simon menaikkan kedua alisnya setinggi mungkin seraya mengangguk-anggukkan kepalanya secara perlahan-lahan, tampak jelas bahwa lelaki yang sudah cukup berumur tersebut mengerti akan pertanyaan berbau kode yang diberikan oleh Marshel pada dirinya. "Maksudmu ada Raphael di sana? Tetapi aku masih tidak mengerti, mengapa bisa kamu mengira bahwa Raphael adalah dalang utama di balik skandal ini alih-alih Jessica sendiri, atau malah Amon?"


Kepala Marshel yang sudah mulai terasa sedikit pusing kini bertambah pusing ketika mendengar pertanyaan konyol yang diberikan oleh Simon kepada dirinya. Yang benar saja, diibandingkan dirinya, Simon sudah lebih lama bekerja pada Jasmine dan lelaki tua itu masih belum mengerti juga? Atau setidaknya menaruh rasa curiga? Yang benar saja.


"Kamu ini memang agak sedikit bodoh, atau memang benar-benar bodoh, Simon? Yang benar saja lah, mengapa bisa kamu tidak curiga sama sekali? Apalagi semenjak nona muda Jasmine dipilih menjadi tokoh utama wanita di film itu, nona Raphael seolah hilang lenyap ditelan bumi begitu saja, di mana bahkan nona muda Jasmine tidak dapat menghubunginya sama sekali."


Marshel menghela napas panjang setelah selesai mengeluarkan kata-kata tersebut, sebelum tentu saja melanjutkan perkataannya lagi. "Setelah itu, kira-kira satu minggu kemudian, ulang tahun nona Meloldy diadakan, di mana nona muda Jasmine selaku tokoh utama wanita dan tuan muda Amon selaku tokoh utama pria hadir di acara yang sama, tetapi berjauhan, terdengar normal, bukan?"


"Maksudku, yah … memang terdengar normal jika nona muda Jasmine mendatangi acara ulang tahun itu, tetapi apa hubungannya dengan Raphael? Yang benar saja, Marshel, jangan mengait-ngaitkan orang tidak bersalah di dalam masalah semacam ini," sahut Simon, setengah tidak mengerti, tetapi juga setengah tidak terima ketika Marshel menyinggung Raphael yang merupakan atasan lama lelaki yang sudah cukup berumur tersebut.

__ADS_1


Marshel langsung melemparkan tatapan tajam sekaligus tidak percaya kepada lawan bicaranya itu. Seenaknya saja Simon berkata bahwa Raphael itu tidak memiliki kaitan sama sekali di dalam masalah ini. "Hei, aku tidak tahu kamu ini memiliki hubungan apa dengan Raphael selain nona dan bawahannya, tetapi masa otakmu itu juga tidak cukup berfungsi untuk mengamati Raphael lebih jelas?"


"Tidak usah memakiku seperti itu, anak muda!" geram Simon dengan nada yang mulai meninggi, menandakan bahwa lelaki tersebut mulai merasa marah karena Marshel tidak memberinya penjelasan yang tepat, alih-alih malah menyudutkan dirinya dan menjatuhkan harga diri Simon begitu saja.


"Huft …." Marshel kembali menghela napas, tidak tahan sendiri atas kebodohan dan keterlambatan Simon dalam mengerti apa yang sedang dimaksudkan oleh lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat dan mata hijau tersebut.


Padahal sudah banyak petunjuk yang diberikan oleh Marshel, tanpa harus langsung membicarakan hal tersebut secara langsung, tetapi bagaimana bisa Simon masih tetap tidak mengerti? Luar biasa.


"Tidak hanya itu," lanjut Marshel dengan nada jengkel yang terdengar sangat kentara di telinga lelaki tua tersebut. "Nona muda Jasmine bahkan tidak berdekatan dengan nona Raphael di sepanjang acara, bahkan dapat dikatakan bahwa nona Raphael pergi entah ke mana dengan penampilan yang hampir sama dengan nona muda Jasmine, dan setelah itu rumor bahwa nona muda Jasmine menggoda dan mabuk dengan tuan Amon mulai menyeruak dan pada akhirnya berubah menjadi skandal. Kamu masih tidak mengerti juga?!"

__ADS_1


Simon terdiam sejenak, berusaha mencerna penjelasan panjang lebar yang diberikan oleh Marshel pada dirinya. Jika diperhatikan dengan baik, apa yang dikatakan oleh Marshel memang terdengar masuk akal. Apalagi satu minggu utu bukan waktu yang sedikit untuk sekadar menyusun rencana pengkhianatan dengan cara paling menyakitkan yang pernah ada.


Dunia entertainment yang demikian kejamnya itu memang juga merupakan ajang saling menjatuhkan, tusuk menusuk dari belakang, serta ajang di mana para pelaku akan berusaha terlihat demikian polos hingga tidak ada yang menyangka bahwa dirinya lah pelaku sesungguhnya. "Tapi … mengapa? Jika itu memang Raphael, lantas mengapa dirinya begitu?"


"Aku kira kamu ini pintar, tetapi ternyata penilaianku salah." Marshel mengangguk-anggukkan kepalanya seraya memasang senyum mengejek, melirik Simon dengan tatapan yang benar-benar mengatakan bahwa lelaki yang sudah cukup berumur tersebut memang benar-benar bodoh dan tidak dapat diandalkan sama sekali. "Kamu tidak tahu, ya, kalau nona Raphael juga turut mengincar posisi sebagai tokoh utama wanita karena itu merupakan batu loncatannya sekaligus jalan terakhir wanita itu untuk menjadi aktris yang sangat-sangat terkenal? Tapi entah mengapa menurutku dia itu hanya cantik di layar saja, caranya berakting tidak sebagus yang aku kira."


Lelaki yang memiliki wajah kaukasia itu menghela napas panjang, tampaknya kebiasaan Marshel dalam hal menghinanya memang sudah mendarah daging hingga tidak bisa dilepaskan begitu saja. "Yah, kalau soal itu aku memang tahu, hanya saja aku sekadar masa sih ketika seseorang benar-benar nekad melakukan itu hanya demi sebuah peran. Jadi yah, kurasa aku memang tidak cukup mengerti, itu saja."


"Huft … Simon, Simon, kukira kamu akan benar-benar paham tetapi ternyata tidak." Marshel memasang wajah meledek, membuat lelaki yang satu itu merasa semakin kesal dengan Marshel yang selalu meledeknya itu. "Dengar ya, Simon, dunia entertainment itu sangat-sangat amat kejam, kamu bahkan tidak bisa menebak dengan baik siapa yang benar-benar tokoh antagonis di sini saking semua orang berlomba-lomba untuk terlihat sebagai yang terbaik, entah dengan menjatuhkan orang lain atau tidak, dan bahkan sahabatmu sendiri tidak akan bisa lagi kamu percayai jika dia sudah mengenal kemegahan dan kemewahan serta hal menyenangkan di dunia entertainment, kamu mengerti?"

__ADS_1


Kali ini Simon hanya bisa terdiam dan mengangguk-anggukkan kepalanya seraya memasang senyum tipis, sudah mengerti dengan baik apa yang sedari tadi dibicarakan oleh lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat dan mata hijau tersebut kepada dirinya yang memang ternyata agak lambat dalam hal memahami omongan Marshel sedari tadi. "Baiklah, kalau begini aku bisa mengerti. Hanya saja bukankah itu tidak adil dan sangat-sangat kejam?"


Sang bodyguard lantas memasang sebuah senyum tipis, miring dan nyaris tidak dapat diartikan sama sekali. "Simon, sejak kapan dunia ini mau bersikap adil?"


__ADS_2