
Terang saja sang bodyguard merasa sedikit bingung sekaligus penasaran akan maksud dari perkataan Jasmine barusan. Hadiah? Hadiah macam apa itu? "Ha-hadiah? Apa maksud anda sebagai hadiah? Memangnya saya sudah melakukan apa?" tanya Marshel penuh rasa bingung, seraya terus menatap lurus ke arah mata biru milik Jasmine.
Wanita cantik yang memiliki rambut yang memiliki warna kuning nyaris putih yang terlihat memiliki wajah yang cukup menggemaskan itu lantas terkekeh kecil, merasa bahwa apa yang ditanyakan oleh Marshel kala itu terdengar sangat lucu.
Tidak sadarkah lelaki tersebut bahwa Jasmine mulai menaruh perasaan terhadapnya? Ataukah Marshel sadar, tetapi hanya berpura-pura bodoh dengan cara menjunjung tinggi kata profesionalitas yang teramat kuno dan menjengkelkan itu?
"Ya, hadiah, sekaligus pernyataan cintaku padamu. Maksudku, tidakkah kamu pernah sekali saja sadar bahwa aku ini sudah jatuh hati padamu?" tanya Jasmine seraya memiringkan kepalanya dan menaikkan sebelah alisnya setinggi mungkin, menatap ke arah Marshel dengan tatapan yang benar-benar tidak bisa diartikan sama sekali. "Atau … kamu ini memang sedikit bodoh untuk menyadari hal tersebut?"
Tidak, tidak, Marshel enggan untuk menyatakan perasaannya sendiri. Lelaki tersebut tentu saja tahu bahwa dirinya juga mulai menyimpan perasaan yang berbeda terhadap Jasmine, apalagi dengan sifat Jasmine yang dewasa sekaligus kekanakan itu, tidak jarang menjadi sebuah ketertarikan sendiri yang benar-benar berbeda jika dibandingkan dengan kebanyakan wanita di luar sana.
Hanya saja, bagi Marshel, rasanya sangat-sangat tidak mungkin untuknya untuk dapat memiliki hati Jasmine, pun rasanya tabu sekali bagi lelaki yang satu itu untuk memiliki hubungan dengan tuannya sendiri, membuat lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat dan mata hijau tersebut merasa bimbang, tidak tahu harus menjawab seperti apa atas pertanyaan yang sang nona muda ajukan.
__ADS_1
"Aah- ya, saya pribadi merasa tidak mengerti apa yang telah anda bicarakan pada saya ini … jadi … saya rasa saya tidak menyadarinya." Marshel memasang ekspresi datar ketika menjawab pertanyaan tersebut, memilih untuk tetap berpura-pura bodoh hanya demi menyelamatkan harapan konyolnya sendiri di mana Jasmine akan jatuh hati pada dirinya.
Wanita yang memiliki wajah kaukasia itu langsung memanyunkan bibirnya sendiri, menatap Marshel dengan tatapan sebal lalu dengan seenak hatinya saja menghentak-hentakkan kakinya sendiri. "Kamu ini ternyata terkadang bisa berubah menjadi orang yang benar-benar bodoh, ya? Kamu menyebalkan sekali, kamu tahu itu? Kamu sebenarnya tahu bahwa aku juga menyukaimu sama seperti kamu mnyukaiku, bukan?!"
Kali ini Marshel benar-benar merasa terkejut dan tentu saja tidak mengira bahwa seluruh tipuan konyolnya mengenai perasaan dan segala ***** bengeknya itu diketahui oleh Jasmine, membuat sang bodyguard merasa sedikit kewalahan karena dihujani dengan pertanyaan yang dapat dikatakan bertubi-tubi itu.
"Bu-bukan begitu, nona muda … mana ada saya menyukai anda seperti yang selama ini anda kira, yang ada, saya ini hanya bodyguard yang anda sewa untuk menjaga keamanan anda, itu saja," jawab Marshel dengan nada netral, enggan memperlihatkan apapun.
"Benarkah begitu? Lalu mengapa bisa pipimu memerah demikian padamnya ketika kita berdua berciuman saat aku mabuk, dan ketika kamu tanpa sengaja melihatku dalam kondisi nyaris telanjang bulat seperti tadi di kamar?" Jasmine tampaknya terus berusaha untuk menekan Marshel, agar setidaknya lelaki yang satu itu mau memastikan perasaannya sendiri alih-alih terus bersembunyi di balik omongannya yang konyol itu.
"Itu merupakan reflek yang saya rasa cukup normal, nona muda, mengingat saya juga lelaki dan … saya rasa saya tidak perlu menjelaskan sisanya tetapi saya harap anda dapat memahami apa yanh coba saya sampaikan di sini." Marshel memasang senyum tipis, seraya dengan tulus menatap sang nona muda, dalam hati berharap bahwa tidak akan ada pertanyaan konyol lainnya.
__ADS_1
Namun sayang sekali harapan Marshel kala itu sirna begitu saja, karena tepat begitu Marshel selesai berbicara, Jasmine langsung menyahut tanpa basa-basi sama sekali, "dan apa? Apa yang menurutmu tidak perlu kamu jelaskan tetapi aku sudah mengerti? Marshel, akui sajalah …." Jasmine bahkan sampai meminta dengan nada yang benar-benar memelas, memohon agar Marshel mau buka mulut barang sedikit saja.
Yah, sayang sekali Marshel itu merupakan kepala batu yang sesungguhnya, di mana jika lelaki tersebut sudah bertekad untuk tutup mulut, maka nyaris apapun tidak akan bisa membuat lelaki yang satu itu mengubah keputusannya sendiri. "Maaf nona muda, tetapi memang benar bahwa saya ini tidak menyimpan perasaan yang berbeda pada anda, pun jika memang benar saya menyimpan perasaan itu, maka apapun yang terjadi ke depannya, saya akan jauh lebih memilih untuk mengubur perasaan saya sendiri sedalam dan sejauh yang saya bisa lakukan."
"... lalu jika misalnya perasaanmu itu terlalu kuat hingga kamu tidak lagi bisa menahannya, maka apa yang akan terjadi?" Jasmine bertanya seraya memilih untuk duduk di sofa, menatap ke arah Marshel yang berdiri tepat di hadapannya itu.
"... maka saya akan memilih untuk menjauh." Marshel menjawab singkat, enggan untuk membayangkan bagaimana jika hal tersebut benar-benar terjadi pada dirinya yang hanya seorang bodyguard itu. "Jauh sekali hingga saya tidak akan bisa menggapai anda kembali."
"Lalu bagaimana jika misalnya alih-alih kamu yang memiliki perasaan itu, tetapi di sini pada kenyataannya, justru akulah yang menyimpan perasaan sekuat itu di hatiku akan dirimu, Marshel, maka apa yang harus aku lakukan?" Jasmine kembali bertanya, seraya menatap arah lain, setengah ingin dan setengah tidak siap mendengarkan jawaban yang sekiranya akan diberikan oleh sang bodyguard.
"Maka saya akan meminta anda untuk melupakan dan mengubur jauh-jauh perasaan yang anda miliki terhadap saya, karena mau bagaimana pun juga, hubungan yang ada di antara kita berdua ini hanya sebatas nona muda dengan bodyguard yang disewanya saja," jawab Marshel, nyaris tanpa tedeng aling-aling sama sekali, pun dengan nada yang demikian dingin dan tajam. "Lagipula saya tidak akan bisa menerima perasaan anda, mau anda paksakan atau tidak."
__ADS_1
JLEB-!
Jawaban yang diberikan oleh lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat dan mata hijau tersebut terasa benar-benar menyakiti hati Jasmine, seolah-olah sang lelaki pujaan hati benar-benar tidak menyimpan perasaan apapun terhadap dirinya. Memang Jasmine sudah mempersiapkan diri untuk menerima jawaban seperti ini, hanya saja bukankah itu terlalu kejam? Bagaimana bisa Marshel melakukan itu begitu saja?