
Malam pun tiba nyaris secepat kilat. Entah berapa batang rokok yang sudah diisap Marshel kala itu, lelaki itu sendiri pun tidak menyadari bahwa malam telah tiba, dan dirinya sibuk melamun entah berapa lama.
"Marshel?" panggil Jasmine dengan nada lembut, seraya turut masuk ke dalam balkon tersebut. "Apa yang sedang kamu lakukan di sini? Merokok?"
Dengan sedikit terkejut dan terburu-buru, Marshel langsung mematikan rokoknya, kemudian berjongkok guna memunguti sampah rokok yang berserakan di lantai balkon. "Maaf maaf, aku tadi hanya sedang memikirkan sesuatu, hingga aku tidak sadar bahwa rokokku sudah mengotori lantai balkon seperti ini."
Jasmine langsung memasang sebuah senyum lembut, merasa sedikit tidak tega untuk sekadar menegur Marshel yang sudah mengotori lantai balkonnya itu. Toh pun, tentu saja wanita yang memiliki wajah kaukasia itu sendiri sadar bahwa skandal yang sedang terjadi itu turut membuat Marshel merasa pusing karena secara mau tidak mau harus bekerja sedikit lebih keras hanya demi memastikan keamanan sang artis tetap terjaga dengan baik.
"Tidak apa-apa, aku tidak marah sama sekali karena kamu sudah mengotori lantai balkon. Toh pun biasanya setelah merokok, kamu akan menyapu dan membersihkan apa yang telah kamu lakukan, jadi aku tidak terlalu ambil pusing atas hal tersebut." Jasmine menyahut seraya menepuk pelan pundak Marshel, berusaha meredakan rasa tidak enak hati yang sepertinya sedang melanda hati sang bodyguard. "Bagaimana dengan reservasiku?"
Mendengar pertanyaan yang dikeluarkan oleh Jasmine, Marshel langsung menjentikkan jarinya. "Reservasi anda sudah dibuat, dan jam delapan adalah saat di mana ruangan VVIP yang anda pesan siap. Saat ini …." Marshel mengecek jam yang terdapat di pergelangan tangannya. "Jam enam sore, anda masih memiliki cukup waktu untuk berbenah, dan soal lalu lintas kota Florida yang biasanya super padat, Simon sudah mengakalinya dengan beberapa cara agar kita dapat tiba di sana tepat pada waktunya."
__ADS_1
Lagi-lagi sebuah senyum hangat terbit begitu saja di wajah cantik milik Jasmine. "Terima kasih, Marshel, kamu memang bodyguardku yang sangat bisa aku andalkan," puji wanita yang satu itu dengan nada yang super lembut.
Mendengar pujian bernada lembut dan melihat senyuman hangat di wajah dan suara Jasmine, entah mengapa Marshel terpaku sejenak, seolah terpikat atas senyuman dan pujian itu, sehingga Marshel hanya dapat terdiam menatap lawan bicaranya tanpa mampu berkedip sama sekali. Si_al, menurut Marshel, kecantikan sang artis terlihat meningkat berkali-kali lipat ketika sedang tersenyum setulus itu, di mana ada perasaan aneh di hati lelaki yang satu itu untuk segera mengambil Jasmine sebagai hak miliknya, agar tak seorang pun dapat mengklaim Jasmine sebagai pasangan mereka.
"Marshel?" panggil Jasmine lagi, merasa sedikit khawatir terhadap Marshel yang terlihat diam membeku tanpa berkata apa-apa sama sekali setelah menerima pujian lembutnya itu. "Kamu tidak apa-apa?"
Tepukan di pundak Marshel seolah menyadarkan laki-laki yang terlihat memiliki wajah yang cukup tampan yang terlihat memiliki mata yang memiliki warna hijau tersebut dari lamunannya sendiri. "Aa-ah ya? Maaf, aku- aku hanya- tidak, lupakan saja." Marshel buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah lain, merasa sedikit malu karena sudah ketahuan menatap ke arah wanita yang memiliki wajah kaukasia itu dan terpana begitu saja hanya karena pujian sederhana yang diberikan oleh Jasmine.
"Ha-ha-ha, kamu malu karena aku puji begitu? Aku tidak bercanda kok, aku benar-benar berniat memujimu seperti itu." Jasmine tertawa pelan, lantas menepuk-nepuk pundak lelaki yang berada di hadapannya itu dengan teramat santai sekali. "Tidak perlu malu seperti itu, aku tidak marah kok, kamu malah terlihat demikian menggemaskan karena sudah bersikap malu-malu seperti itu."
"Baiklah karena sekarang sudah jam enam sore, bahkan sudah mendekati jam setengah tujuh, maka aku akan bersiap-siap untuk pergi reservasi ke restoran tersebut. Kamu pun juga bersiap-siaplah, karena kita akan pergi makan malam di luar." Jasmine memasang senyum tipis di wajahnya, lagi-lagi membuat Marshel terpaku, sekali lagi.
__ADS_1
Setelah Jasmine keluar dari balkon tersebut, Mashel langsung menampar pelan pipi kiri dan pipi kanannya sendiri, menyadarkan diri agar tidak jatuh cinta semakin dalam kepada wanita yang memiliki wajah kaukasia itu sendiri. Tidak, tidak boleh, bagi Marshel itu rasanya tidak wajar sekali jika seorang bodyguard seperti dirinya jatuh cinta kepada seorang selebriti macam Jasmine.
Marshel hanya bisa menghela napas panjang, kemudian mengambil sebuah sapu dan menyapu abu rokok yang bertebaran di lantai balkon tersebut, lalu menyemprotkan parfum di tubuhnya, lantas bersiap-siap untuk menemani Jasmine makan di restoran hotpot favoritnya.
Selama di perjalanan, kedua insan yang berlainan jenis kelamin tersebut hanya bisa terdiam satu sama lain, Jasmine yang sedang sibuk bermain ponsel, dan Marshel yang sibuk dengan pikirannya sendiri. Laki-laki yang satu itu hanya bisa menatap ke luar jendela, enggan rasanya menatap Jasmine yang terlihat sangat cantik pada malam ini, malu, lebih tepatnya, karena menyadari bahwa dirinya mulai memiliki perasaan yang lebih dengan sang nona muda yang menjadi tempatnya mengabdi.
Ah, sial_an, Marshel rasanya ingin sekali melakukan sesuatu, entah mencium bibir manis Jasmine, atau apalah, tetapi tetap saja, Marshel tidak akan seberani itu untuk melakukan hal tersebut, mengingat betapa jauhnya tingkatan sosial yang terjadi di antara kedua insan yang berlainan jenis kelamin tersebut. Kali ini, Marshel sendiri merasa bahwa perasaannya kepada Jasmine merupakan perasaan terlarang, yang dihalangi oleh tembok tak terlihat bernama strata sosial yang menyebalkan setengah mati, setidaknya bagi lelaki yang satu itu.
"Apa ada sesuatu yang menganggu pikiranmu, Marshel?" Jasmine secara tiba-tiba saja mengeluarkan pertanyaan semacam itu, membuat Marshel merasa sedikit terkejut akibat pertanyaan tersebut.
'Si_al, mengapa tiba-tiba bertanya?' Marshel membatin. "Aah- aku tidak apa-apa, nona muda, mungkin saja aku sedang sedikit banyak pikiran akibat beberapa hal yang sedang terjadi, itu saja." Marshel memasang sebuah senyum yang sebenarnya benar-benar terasa dipaksakan sekali. "Bukan masalah besar, kok."
__ADS_1
"Kamu yakin?" Jasmine mengalihkan pandang ke arah lelaki yang menjadi lawan bicaranya itu, langsung menatap lurus mata hijau yang memiliki binaran yang demikian indah milik Marshel. "Aku sedikit khawatir denganmu, lho."
Marshel buru-buru menggelengkan kepalanya, memasang ekspresi datar guna meminimalisir keluarnya emosi yang tidak diperlukan bagi laki-laki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat tersebut.