
"Hei, melamun!" panggil Jacob seraya meletakkan sebuah gelas kaca yang ukurannya cukup besar di hadapan Marshel, membuat lelaki yang satu itu merasa sedikit terkejut atas panggilan Jacob yang terkesan memang sengaja mengejutkan lelaki tersebut.
"Ya … sedikit, entah mengapa aku masih memikirkan mengenai masalah yang terjadi di antara aku dan nona muda Jasmine," jawab Marshel seraya menerima gelas kaca yang terisi penuh oleh cairan kecokelatan yang diberikan oleh Jacob tadi. "Chocolate frappucino? Tidak biasanya sekali, Jacob."
"Sesekali aku ingin membuat sesuatu yang sedikit berbeda, Marshel, minum sajalah, toh tidak baik jika kamu kebanyakan meminum kopi." Jacob memasang senyum bangga seraya menatap lurus mata hijau milik Marshel. "Ada yang mungkin ingin kamu ceritakan, Marshel? Siapa tahu aku bisa membantu sedikit mengenai masalahmu dengan Jasmine itu."
Lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat dan mata hijau tersebut tertegun sejenak ketika mendengar kalimat tersebut, menatap Jacob dengan tatapan pias. "Hei, Jacob, apa menurutmu wajar tidak jika seseorang, lebih tepatnya seorang bodyguard seperti aku ii, jatuh cinta dengan nona muda?"
Yang ditanyai langsung menaikkan kedua alisnya setinggi mungkin, setengah percaya dan setengah tidak percaya ketika mendenga pertanyaan macam itu. Entahlah, selama ini Jacob mengira bahwa orang macam Marshel itu sangat-sangat sulit jatuh cinta hingga lelaki itu sendiri tidak menyangka hal tersebut sampai Mashel sendiri yang bertanya padanya.
"Hm … menurutku sih normal-normal saja jika kamu jatuh cinta dengan Jasmine, maksudku siapa sih yang tidak jatuh cinta dengan wanita macam itu? Menurutku tidak ada yang salah dengan perasaanmu itu, Marshel," jawab Jacob panjang dan lebar seraya menatap lawan bicaranya sendiri dengan tatapan santai.
__ADS_1
Yang ditatap lantas menghela napas seraya mulai meminum cairan kecokelatan yang super manis yang tadi diberikan oleh Jacob kepada dirinya. Rasa minuman itu sangat manis, bahkan bisa dikatakan sangat-sangat manis bagi Marshel yang biasanya mengonsumsi minuman pahit, tetapi entah mengapa minumannya kali ini bisa membuat Marshel merasa jauh lebih relax dan santai dibandingkan yang biasanya.
"Normal, ya … entah mengapa aku merasa bahwa perasaan yang aku miliki atas nona muda Jasmine ini terasa demikian tabu dan salah, membuatku merasa sangat tidak pantas sekaligus sangat tidak nyaman. Entahlah, seperti aku telah melanggar rasa profesionalitas yang selama ini aku junjung tinggi saja," sahut Marshel seraya menatap ke arah lain, merasa sedikit enggan untuk sekadar menatap balik lawan bicaranya sendiri.
Jacob yang sedari tadi mendengarkan perkataan panang lebar milik Marshel lantas mengangguk-anggukkan kepalanya, tampaknya lelaki yang satu itu juga memahami situasi yang terjadi di antara Marshel dan wanita pujaan hatinya itu. "Yah, memang sebenarnya tidak ada yang salah dari kisah cinta kalian berdua, toh itu hanya merupakan perasaan dari dua insan manusia, tetapi tetap saja jika itu memang sudah idealisme yang kamu miliki untuk tidak jatuh cinta dengan atasanmu sendiri, lantas aku bisa apa?"
"Jika kamu berrada di posisiku, Jacob, apa yang akan kamu lakukan?" Marshel bertanya balik seraya menyesap minuman cokelat itu lebih banyak dan lebih dalam dari biasanya. "Saat ini aku sendiri merasa bimbang atas apa yang seharusnya aku lakukan, pun aku juga sedang measa bersalah atas apa yanfg telah aku lakukan sebelumnya."
"Memangnya apa yang sudah kamu lakukan, Marshel? Jangan bilang padaku bahwa kamu sudah meminta Jasmine untuk menyerah atas perasaan ang mungkin saja dia miliki terhadapmu, dan permintaanmu itu telah membuatnya menangis?" Jacob bertanya, guna memprediksi apa saja kemungkinan yang telah dilakukan oleh Marshel yang memungkinkan untuk membuat lelaki tersebut merasa bersalah dengan sendirinya itu.
Yah, memang Jacob tahu bahwa Marshel adalah tipikal lelaki yang nyaris selalu memegang teguh idealismenya, tetapi yang Jacob tidak tahu ialah bahwa lelaki yang satu itu akan membawa pikirannya sendiri ke satu level yang benar-benar berbeda dan nyaris tidak dapat diprediksi sama sekali.
__ADS_1
Yang benar saja, masa iya Marshel benar-benar meminta Jasmine untuk menyerah atas perasaan wanita itu sendiri? Apa Marshel ini sudah kehilangan seluruh akal sehatnya sendiri sampai senekad dan segila itu untuk sekadar tidak membiarkan Jasmmine yang mungkin juga mencintainya kembali itu bertumbuh dan membesar seiring waktu?
"Jangan bilang kamu memintanya untuk menyeah atas perasaan yang mungkin saja ia miliki terhadapmu, Marshel?" Jacob bertanya dengan perasaan was was di hati lelaki yang satu. Sesuai dugaan yang telah dibuat oleh Jacob di dalam hatinya, Marshel menganggukkan kepalanya seadanya, seolah menjawab pertanyaan tersebut hanya dengan anggukan singkat semata.
"Dasar orang gila, kamu ini benar-benar tidak masuk akal, ya? Bisa-bisanya kamu meminta Jasmine untuk mennyerah seperti itu! Maksudku, yang benar saja, Marshel, aku tahu kamu ini sangat-sangat idealistis sekali, tetapi bukan berarti kamu benar-benar melakukan itu, bukan begitu? Sekarang kamu mau bagaimana?" Jacob bertanya lagi dengan nada yang memperlihatkan betapa kesalnya lelaki tersebut akan Marshel yang ia anggap telah bertindak sesuka hatinya saja.
Lelaki yang satu itu terlihat hanya terdiam, tidak berkata apa-apa alih-alih malah kembali menyesap minumannya itu. Sebenarnya Marshel juga berpikir, apa yang akan ia lakukan ke depannya untuk mengurus masalah yang satu ini, di mana rasanya tidak mungkin bagi lelaki tersebut untuk membiarkan masalah itu berlalu begitu saja, dibiarkan tanpa diurus sama sekali.
Terang saja Marshel tidak bisa meninggalkan masalah tersebut begitu saja, tetapi di sisi lain, entah mengapa pula Marshel masih merasa belum siap untuk kembali menemui sang nona muda, mengingat bahwa dirinya lah yang telah menjadi penyebab utama di balik keluar dan menetesnya air mata Jasmine tadi pagi.
Jauh di dalam lubuk hati lelaki yang satu itu, ada perasaan bersalah yang berbeda telah menghampirinya begitu saja, mengikat Marshel dan seolah-olah memaksa lelaki tersebut untuk mengurungkan niatnya guna menemui wanita yang memiliki wajah kaukasia yang memiliki mata yang memiliki warna biru laut yang juga telah menjadi wanita pujaan hatinya itu.
__ADS_1
Marshel menghela napas panjang, seraya meletakan gelas kaca tersebut di atas meja, kemudian kembali menyandarkan punggung lebarnya begitu saja di kursi kafe mugil tersebut, enggan menatap Jacob yang sedari tadi menatapnya lurus.
"Entahlah, Jacob, aku tidak punya ide atas apa yang harus aku lakukan saat seperti ini."