
Lagi-lagi kedua insan yang berlainan jenis kelamin tersebut hanya terdiam satu sama lain, seolah-olah tidak ada yang berniat membuka percakapan sama sekali, dan hanya diam menikmati keindahan alam yang terjadi di sekeliling mereka, di mana keduanya juga tampak sedang menenangkan pikiran dari gemerlap kota dan dunia entertainment yang tidak jarang mengacaukan pikiran kedua insan yang berlainan jenis kelamin tersebut.
Deburan ombak yang disertai dengan embusan angin sepoi-sepoi yang terasa demikian sejuk dan menenangkan hati tersebut seolah-olah sedang menghapuskan berbagai rasa khawatir yang ada di hati mereka berdua, berikut dengan pemikiran negatif yang tak berguna, dan berbagai hal lainnya yang sekiranya tidak seharusnya mereka pikirkan itu.
Jasmine menghela napas panjang, seolah-olah merasa senang sekaligus tenang karena suara riak ombak, dan pembicaraannya dengan Xavier tadi berakhir dengan baik, alih-alih dengan bertengkar hebat, untunglah mereka berdua cukup dewasa untuk tidak bertengkar hanya karena masalah perasaan. "Tenang sekali ... membuatku merasa cukup mengantuk karena angin yang sejuk dan air yang dingin," kata Jasmine seraya memasang senyum tipis, membuat Xavier menolehkan kepalanya ke arah Jasmine lalu memasang senyum kecil.
"Manis sekali," sahut sang Chief Executive Officer tersebut seraya kembali mengusap lembut kepala Jasmine, seolah-olah sedang menikmati rambut pirang milik Jasmine yang terasa demikian lembut kala itu. "Dasar ...."
Wanita cantik yang memiliki rambut yang memiliki warna kuning nyaris putih yang terlihat memiliki mata yang memiliki warna biru laut tersebut langsung memasang wajah yang menampakkan raut puas, seolah-olah merasa sangat senang karena menerima pujian sederhana tersebut dari sang kekasih kontraknya tersebut.
__ADS_1
Pada akhirnya, setelah setidaknya dua atau tiga jam bersantai dalam diam seperti itu, kedua insan yang berlainan jenis kelamin tersebut akhirnya memutuskan untuk pulang ketika angin laut terasa semakin kencang saja dari waktu ke waktu, di mana tampaknya sebentar lagi akan hujan di sekitaran pantai itu. Tepat setelah Jasmine selesai memakai sabuk pengamannya, sang nona muda menghela napas panjang. "Terima kasih karena sudah membawaku ke tempat seperti ini, Xavier, aku menghargainya dengan sangat."
"Bukan masalah besar, Jasmine." Lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat kemerahan serta mata yang memiliki warna biru laut tersebut langsung memasang senyum tulus di wajah kaukasia itu sendiri ketika mendengarkan kalimat yang telah dikeluarkan oleh sang nona muda, yang kali ini terdengar demikian tulus dan hangat sekali. "... aku juga mau berterima kasih karena kamu sudah mau menemani aku pergi ke pantai, walau setelahnya kita nyaris adu mulut."
Jasmine tertawa kecil, apa yang telah dikatakan oleh laki-laki yang terlihat memiliki tubuh yang sangat-sangat bagus tersebut tampaknya memang benar, mengingat mereka berdua hampir saja adu mulut hanya karena masalah yang dapat dikatakan sangat-sangat sepele dan kecil tersebut. "Benar ... untunglah kita berdua cukup dewasa untuk tidak membawanya menjadi sebuah keributan yang tidak perlu sama sekali." Wanita itu menghela napas panjang. "Apapun itu, sekali lagi aku ucapkan terima kasih."
Satu demi satu rintik air hujan mulai turun secara perlahan-lahan, sesuai dengan dugaan Xavier sebelumnya, malam ini tampaknya akan hujan deras dan mungkin saja air laut akan naik, sehingga pemuda tersebut memutuskan untuk pulang dari pantai alih-alih terjebak masalah yang sebenarnya sangat-sangat tidak perlu tersebut.
"Hujan ...," gumam Jasmine seraya mengusap kaca jendela yang dipenuhi oleh rintik air hujan, yang turun membentuk sungai kecil di luar jendela mobil Xavier kala itu. "Aku tidak pernah bisa menyentuhnya seperti ini, mengingat Marshel akan langsung menyandarkanku di pundaknya dan membungkusku dengan selimut, khawatir bahwa aku akan merasa kedinginan, begitulah ...."
__ADS_1
Xavier hanya bisa menjawab kalimat-kalimat yang telah dikeluarkan oleh Jasmine tersebut hanya dengan gumaman sederhana, dirinya tidak bisa meletakkan separuh atensinya kepada Jasmine, mengingat bahwa sang Chief Executive Officer tersebut sedang mengendarai mobilnya di tengah malam hari, di hari hujan di mana jalanan kota Florida berubah menjadi licin setengah mati hanya karena air hujan. "Maaf karena tidak bisa terlalu menjawabmu, aku sedang mengendarai mobil dan kamu tahu sendiri bahwa jalanan kota Florida berubah menjadi licin setengah mati ketika hujan seperti ini. Haah ... kuharap ini hanya hujan dan kabut tidak sampai turun."
Sayang sekali apa yang diharapkan oleh Xavier kala itu sepertinya tidak dapat menjadi kenyataan, di mana tepat setelah Xavier berharap bahwa kabut tidak akan turun, kabut benar-benar turun hingga secara mau tidak mau Xavier menepi dan melihat map melalui ponselnya, tampaknya mereka berdua secara mau tidak mau harus menginap di luar karena Xavier tidak bisa memaksakan diri untuk mengantarkan Jasmine pulang mengingat besarnya resiko kecelakaan jika lelaki yang satu itu memaksakan untukberkendara di tengah malam dalam kondisi jalanan licin akibat hujan deras, dan jarak pandang yang dapat dikatakan benar-benar terbatas akibat kabut yang turun pada malam itu.
"Aah, sial, mau tidak mau kita harus menginap di tempat lain, Jasmine, mengingat aku tidak mungkin bisa mengantarkanmu pulang jika kondisinya seperti ini," kata Xavier seraya menolehkan kepalanya, menatap Jasmine dengan tatapan tidak enak hati seolah-olah itu ialah kesalahan lelaki tersebut.
Dengan sedikit terburu-buru, wanita cantik yang memiliki rambut yang memiliki warna kuning nyaris putih yang terlihat memiliki wajah yang cukup menggemaskan tersebut lantas menolehkan kepalanya lalu mengusap lembut pipi Xavier, memamerkan senyum hangat nan tulus milik sang aktris muda yang selalu berhasil menenangkan hati dan pikiran nyaris siapapun di seluruh dunia itu. "Stt, tenang saja, Xavier, ini sama sekali bukan salahmu kok. Tidak apa, ayo menginap di hotel atau losmen kecil mana saja yang bisa kamu temukan dengan cepat," ucap Jasmine, berusaha menenangkan hati Xavier yang sedikit kacau, tampaknya karena merasa gagal dapat mengantarkan Jasmine pada malam itu dengan selamat. "Tetapi sebelum itu tampaknya aku harus menghubungi Marshel terlebih dahulu, mengingat dirinya sudah pasti akan merasa khawatir setengah mati hanya karena aku tidak pulang satu malam, tanpa memberinya kabar sama sekali."
Sang nona muda memasang senyum seraya meraih ponselnya, lantas mulai menelepon sang bodyguard.
__ADS_1