I Love You, Bodyguard-ku

I Love You, Bodyguard-ku
Bab 43


__ADS_3

"Halo, Marshel," panggil Jasmine dengan nada lembut ketika panggilan tersebut sudah terhubung dengan sang bodyguard. "Ini aku, Jasmine, ahh ... sepertinya malam ini aku tidak bisa pulang-"


"Kenapa?" Marshel langsung bertanya, bahkan tanpa menunggu sang nona muda menyelesaikan ucapannya sendiri, membuat Jasmine menghela napas panjang, sudah Jasmine duga bahwa hasilnya kurang lebih akan seperti ini jika lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat dan mata hijau tersebut mengetahui bahwa dirinya tidak bisa pulang karena beberapa hal tertentu.


Jasmine meneguk liurnya sendiri, tidak tahu bagaimana cara paling tepat untuk menjelaskan situasi yang tengah terjadi kepada sang lawan bicara, mengingat bisa saja Marshel menjadi marah besar kepada Xavier karena sudah membawanya keluar terlalu malam, apalagi akhirnya kedua insan yang berlainan jenis kelamin tersebut terjebak tanpa bisa pulang sama sekali. "Ehm ... itu, begini-"


"Apa yang terjadi?" Marshel bertanya lagi, tanpa membiarkan Jasmine lagi-lagi menyelesaikan ucapannya, entah mengapa, sang bodyguard merasa khawatir setengah mati ketika mendengar kabar bahwa sang nona muda tidak dapat pulang pada malam yang sama, mengingat Marshel tahu betul bahwa hari tengah hujan, dan badai di kota Florida bukanlah sesuatu yang menyenangkan untuk dilewati di malam hari. "Jangan katakan pada saya bahwa anda dan tuan muda Xavier tidak bisa pulang karena kalian berdua terjebak hujan deras?"

__ADS_1


Wanita cantik yang memiliki mata yang memiliki warna biru laut tersebut langsung mengeluarkan ringisan pelan, apa yang telah dikatakan oleh Marshel kepada dirinya itu memang ada benarnya, tidak, seratus persen bahkan seribu persen benar, malah. "Uh ... kurasa apa yang sudah kamu katakan itu benar, Marshel ... aku dan Xavier saat ini sedang terjebak di tengah jalan. Di mana pastinya ...." Jasmine langsung melirik Xavier, menatap lelaki tersebut dengan tatapan bertanya.


"Fort Myers," bisik Xavier pelan, khawatir bahwa lelaki tersebut akan menganggu pembicaraannya dengan Marshel, yang tentu saja juga diam-diam diketahui oleh Xavier bahwa sang bodyguard tersebut membenci Xavier juga.


"Pastinya ada di Fort Myers, kami sedang berusaha mencari hotel atau losmen terdekat, tetapi jika misalnya tidak ada, secara mau tidak mau kami menginap di dalam mobil." Jasmine menjelaskan, dengan separuh perasaan khawatir yang tidak masuk di akal membanjiri hati wanita tersebut, khawatir akan respon Marshel yang sudah dapat dipastikan akan kesal setengah mati itu. "Ya, kami akan baik-baik saja."


Jasmine tidak dapat mendengar apa yang dikatakan oleh Marshel setelahnya, atau mungkin juga memang lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat dan mata hijau tersebut tidak berkata apa-apa sama sekali setelahnya, di mana pada akhirnya sang nona muda hanya dapat menghela napas panjang, tidak tahu apa yang sebaiknya ia lakukan untuk menenangkan suasana hati Marshel yang tampaknya merasa kesal dan marah itu.

__ADS_1


Jasmine menghela napas panjang, merasa sedikit lebih baik setelah mendengar apa yang telah dikatakan oleh sang bodyguard. Entah mengapa suasana hati Marshel kala itu tidak seperti apa yang telah dibayangkan oleh sang aktris muda kala itu. "Baiklah ... Marshel, terima kasih. Aku akan menunggumu bersama Xavier di sini." Jasmine akhirnya mematikan panggilan tersebut, lalu menoleh menatap ke arah Xavier yang sedang bersandar pasrah pada kursinya, menyadari bahwa ide untuk mencari hotel atau losmen terdekat di sekitar mereka kini terdengar seperti ide konyol, mengingat betapa derasnya hujan kali ini, ditambah lagi dengan angin yang semakin kencang saja dari waktu ke waktu.


"Maaf ya, Jasmine, kalau saja aku tidak membawamu ke pantai seperti tadi ... maka kita tidak akan sampai terjebak di tengah jalan seperti ini." Xavier menggumam seraya menyalakan lampu darurat, menandakan bahwa mereka berhenti karena ada keadaan darurat dan tentu saja tanpa pula lupa untuk menyalakan lampu di dalam mobil milik sang Chief Executive Officer tersebut. "Haah ... hujannya semakin deras saja, membuat kita tidak bisa pergi ke mana-mana, termasuk mencari hotel atau losmen terdekat di sekitar sini."


Wanita cantik yang memiliki rambut yang memiliki warna kuning nyaris putih yang terlihat memiliki mata yang memiliki warna biru laut tersebut langsung memasang senyum tipis, merasa sedikit tidak enak hati karena sudah merepotkan Xavier dengan cara paling konyol setengah mati. "Kalau begitu aku juga minta maaf, Xavier, karena sudah menjadi pribadi yang lemah setengah mati setelah menyadari apa yang sebenarnya Raphael lakukan kepadaku. Pengkhianatan itu ... terasa sangat-sangat menyakitkan setengah mati, mengingat apa yang telah kami berdua lalui ... dan apa yang telah aku lakukan untuknya."


Xavier terkekeh kecil ketika melihat respon menggemaskan yang ditunjukkan oleh Jasmine pada saat itu. Entah mengapa hanya dengan melihat Jasmine yang terlihat polos dan menggemaskan setengah mati itu, hati sang lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat kemerahan serta mata yang memiliki warna biru laut tersebut langsung terasa berdebar-debar, seolah-olah rasa suka dan sayangnya akan sang idola pujaan hati semakin bertambah saja seiring waktu berjalan. Sang lelaki pada akhirnya hanya bisa memasang senyum tipis, seolah-olah tidak tahu lagi harus merespon seperti apa atas sikap yang baru saja diperlihatkan Jasmine kala itu.

__ADS_1


"Baiklah, anggap saja kita berdua ini sudah impas, karena aku sudah merepotkanmu dengan cara tidak bisa mengantarkanmu pulang, dan kamu juga sudah merepotkanku dengan cara menangis sehingga aku pusing sendiri memikirkan apa yang sebaiknya aku lakukan untuk menenangkanmu, bagaimana?" Xavier mengulurkan tangannya, seolah-olah sedang mengajak lawan bicaranya yang satu itu untuk berjabat tangan begitu saja.


Wanita yang memiliki wajah kaukasia itu sendiri mengangguk-anggukkan kepalanya secara perlahan-lahan, seolah-olah merasa setuju atas apa yang telah Xavier katakan terhadapnya. Ya, kedua insan yang berlainan jenis kelamin tersebut memang sudah saling menyusahkan satu sama lain, dan hal tersebut dapat disebut impas setengah mati. "Baiklah, kalau begitu aku anggap kita berdua sama-sama impas." Jasmine menjabat erat tangan Xavier, lantas memasang senyum.


__ADS_2