I Love You, Bodyguard-ku

I Love You, Bodyguard-ku
Bab 44


__ADS_3

Hanya perlu menunggu sekitar dua puluh hingga tiga puluh lima menit, mobil milik sang nona muda terlihat mendekati mobil Xavier, yang di mana di belakang mobil milik Jasmine itu terdapat mobil derek, yang tentu saja akan membawa mobil milik Xavier sementara ke parkiran VVIP apartemen yang berada di atas tanah. Marshel terlihat mengemudikan mobil tersebut dengan sangat-sangat lihai sekali, seolah telah terbiasa melakukan hal tersebut di hari hujan seperti ini.


Tepat setelah derek terpasang dengan baik di bagian belakang mobil Xavier, Marshel lantas turun dari mobil tersebut seraya membawa dua buah payung, satu ia kenakan dan satunya berada di tangan lelaki yang satu itu. "Nona muda, ini saya, mohon bukakan pintunya," pinta Marshel seraya mengetuk lembut jendela mobil Xavier, berusaha menarik atensi Jasmine dari dalam sana.


Jasmine langsung menolehkan kepalanya, lalu memasang senyum dan membuka pintu. "Kamu sudah tiba sekarang, Marshel? Maaf merepotkamu seperti ini di tengah malam. Yah, kami berdua juga tidak menyangka bahwa bisa saja berakhir di sini." Jasmine berkata panjang lebar seraya memasang senyum tipis, merasa tidak enak hati karena sudah merepotkan Marshel di tengah malam seperti itu.


Sang bodyguard lantas memasang sebuah senyum tipis, tidak terlalu mendengarkan apa yang telah dikatakan oleh wanita yang memiliki wajah kaukasia itu sendiri kepada dirinya, tetapi lebih ke arah merasa bersyukur atas Jasmine yang tidak terluka sama sekali walau sudah terjebak di dalam badai seperti itu. "Baiklah, ayo pindah ke mobil kita, dan tuan muda Xavier ...." Marshel menyodorkan sebuah payung yang berwarna gelap. "Ini payung anda, maaf karena saya tidak bisa melakukan hal yang sama seperti apa yang saya lakukan terhadap nona muda Jasmine mengingat prioritas saya adalah nona muda Jasmine."

__ADS_1


Xavier menerima payung tersebut seraya meringis pelan, benar-benar merasa tidak enak hati karena sudah merepotkan Marshel di tengah malam seperti itu padahal sedari awal lelaki tersebut sudah berjanji di dalam hatinya bahwa ia tidak akan merepotkan siapapun sama sekali, termasuk Jasmine maupun Marshel. "Tidak apa-apa, Marshel, aku juga minta maaf karena sudah sangat-sangat merepotkanmu di malam hari seperti ini ...." Sang Chief Executive Officer tersebut langsung membuka payung tersebut, lalu keluar dari mobil, mengunci mobil itu lalu berpindah ke dalam mobil Jasmine, membiarkan sisanya diurus oleh pihak jasa pengangkutan mobil untuk mengangkut mobil Xavier kala itu.


Pada akhirnya, kedua insan yang berlainan jenis kelamin tersebut terpaksa pulang bersama Marshel, yang menggantikan Simon untuk mengemudi di malam tersebut, mengingat lelaki yang sudah cukup berumur tersebut tidak mungkin dimintai untuk mengemudi di tengah malam, di saat yang sama sedang hujan badai dengan kabut yang turun hingag benar-benar membatasi jarak pandang mereka itu.


Tidak jarang Jasmine memergoki lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat dan mata hijau tersebut melirik kaca spion untuk mengecek apa yang sedang dilakukan oleh sang nona muda dengan tuan muda Xavier di belakang snag bodyguard. Alih-alih memutuskan untuk tidak menggoda Marshel kala itu, Jasmine lebih memilih untuk bersandar di dada bidang milik Xavier, lantas memejamkan matanya, menyembunyikan mata biru laut tersebut agar tak dapat dilihat oleh siapapun juga, tentu saja termasuk Marshel.


Namun setitik perasaan yang aneh secara tiba-tiba saja muncul jauh di dalam lubuk hati Marshel yang tampaknya merasa kesal dan marah kepada Jasmine tersebut. Pemikiran rasional secara tiba-tiba saja menyusup dan mengacaukan kembali amarah yang sudah terlebih dahulu mati-matian ditahan oleh Marshel pada malam itu. Apa hak Marshel untuk merasa marah? Memangnya dia siapanya Jasmine selain hanya sebatas nona muda dengan bodyguardnya saja?

__ADS_1


Lelaki yang malang tersebut akhirnya menghela napas panjang, pikiran rasionalnya kala itu memang benar, di mana dirinya tidak boleh sampai terbutakan oleh perasaan yang berbeda terhadap Jasmine mengingat bahwa dirinya itu tidak lebih dan tidak kurang hanya merupakan bodyguard dari wanita cantik yang memiliki rambut yang memiliki warna kuning nyaris putih yang terlihat memiliki mata yang memiliki warna biru laut tersebut. Menyedihkan sekali memang, tetapi itulah kenyataan yang ada.


Setelah itu, ketiga orang tersebut pun hanya terdiam satu sama lainnya, seolah-olah memang tidak ada yang berniat untuk berbicara sama sekali, setidaknya satu sama lain. Yah, entah mengapa Marshel dapat mewajarkan hal tersebut, mengingat bahwa Jasmine yang telah tidur akibat kelelahan dan Xavier yang juga tidak memiliki topik apa pun untuk dibicarakan dengan sang bodyguard, membuat semuanya terasa jauh lebih masuk di akal.


Jalanan kota Florida kali ini terasa jauh lebih licin dari biasanya, entah mengapa, membuat lelaki yang satu itu harus meningkatkan kehati-hatiannya dalam berkendara hanya agar mereka bertiga tidak mengalami kecelakaan yang tidak perlu. Entah mengapa, lagi, pikiran Marshel seolah-olah terganggu akibat betapa mesranya kedua insan yang berlainan jenis kelamin tersebut satu sama lainnya, di mana sisi gelap lelaki tersebut mulai beeharap bahwa yang berada di posisi Xavier kala itu adalah dirinya alih-alih lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat kemerahan serta mata yang memiliki warna biru laut tersebut.


Marshel lagi-lagi hanya bisa menghela napas panjang, pun tidak tahu mengapa pikirannya mendadak menjadi kacau seperti ini. Menyebalkan, lagi menyusahkan sebenarnya, mengingat pekerjaan lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat dan mata hijau tersebut membutuhkan tingkat fokus yang tidak rendah, melainkan sangat-sangat amat tinggi hanya demi memastikan keamanan sang nona muda dua puluh empat jam per tujuh hari itu.

__ADS_1


Sesekali sang bodyguard melirik ke arah kaca spion, menatap ke arah Xavier yang sedang mengelus kepala wanita yang satu itu, wanita yang juga menjadi pujaan hati Marshel selama ini. Iri rasanya, lebih tepatnya kesal dan menyebalkan ketika melihat Jasmine yang terlihat jauh lebih damai dan nyaman bersama Xavier alih-alih bersama sang bodyguard yang selalu memastikan keamanan dan kenyamanan Jasmine selama ini. Marshel kembali menghela napas panjang, dirinya tidak boleh termakan emosi sama sekali jika situasinya seperti ini.


__ADS_2