
Setelah kencannya yang terakhir dengan Xavier, bisa dikatakan bahwa Jasmine belum ada membicarakan masalah pernikahan lagi dengan lelaki tersebut, karena yah, Xavier berkata bahwa sang Chief Executive Officer tersebut yang akan mengurusnya. Pun lagi, setelah itu intensitas kedua insan yang berlainan jenis kelamin tersebut bertemu pun seolah menurun, walau tidak secara signifikan sekali, di mana sembari menunggu kabar dari Xavier, Jasmine memutuskan untuk mulau mengawasi gerak gerik dari lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat dan mata hijau tersebut, tentu saja, siapa lagi kalau bukan Marshel? Ya, untuk sementara waktu, Jasmine ingin tahu apakah Marshel akan berusaha mendekatinya lagi atau tidak.
"Nona muda, apa anda ingin makan siang sesuatu atau anda akan pergi makan siang dengan tuan muda Xavier?" Marshel bertanya dari pintu dapur, seraya mengambil selembar apron berwarna gelap, bersiap-siap untuk memasak apabila Jasmine benar-benar meminta lelaki tersebut untuk melakukan hal tersebut. "Jika anda akan makan di rumah, apa anda mau caesar salad atau regular salad? Lalu anda ingin apa sebagai dressing dari salad anda?" Marshel bertanya panjang dan lebar seraya masih berdiri di ambang pintu dapur, menunggu jswaban yang pasti dari sang nona muda yang suasana hatinya itu benar-benar sama persis seperti roller coaster itu.
Jasmine terdiam sejenak, Xavier belum ada memberi kabar sama sekali pada sang nona muda, dan itu berarti tampaknya kali ini Jasmine akan makan siang di rumah saja, toh lagi dirinya sedang menganbil cuti setidaknya selama sebulan dari dunia entertainment dengan beberapa alasan yang cukup masuk akal, dan sepertinya semua faktor itu cukup bagi Jasmine untuk menetapkan bahwa wanita itu akan makan di rumah saja alih-alih makan di luar. "Kurasa kali ini aku ingin regular salad saja, tetapi ganti sayurnya dengan buah-buahan dan kurasa aku ingin sesuatu yang manis sebagai dressing dari saladku kali ini." Jasmine menjawab seraya mendongakkan kepalanya, menatap ke arah Marshel.
"Baik, kalau begitu saya akan segera membuatkan anda makan siang." Marshel berkata seraya masuk ke dapur, lalu membuka kulkas untuk mengambil beberapa buah dan sayur yang akan dijadikan oleh lelaki tersebut sebagai makan siang sang nona muda. Sembari memotong beberapa buah apel dan melon, sebuah pikiran yang sebenarnya sangat tidak wajar melintas di kepala lelaki tersebut, dan ini mengenai hubungan yang terjadi di antara Jasmine dan Xavier.
__ADS_1
Mengingat obrolan yang ia lakukan dengan Xavier setahun yang lalu, mengenai kemungkinan di mana Xavier mungkin saja akan menikahi Jasmine, entah mengapa ada setitik rasa kecewa yang tidak dapat dijelaskan sama sekali tumbuh di hati Marshel, begitu saja tanpa bisa ditahan sama sekali. Marshel tentu tahu, ini salahnya sendiri karena memilih untuk menolak menerima perasaan yang berbeda yang dimiliki oleh Jasmine terhadapnya, hanya saja mau bagaimana pun Marshel pribadi masih belum merasa siap untuk menerima kenyataan bahwa Jasmine akan menikah, entah kapan, tetapi sepertinya akan segera terjadi.
Sembari memotong beberapa buah apel, Marshel sesekali menatap ponselnya sendiri, tidak jarang lelaki yang satu itu harus menahan rasa cemburu yang disimpannya seorang diri ketika melihat Jasmine yang terlihat sedang sangat-sangat akrab dengan Xavier, di mana kedua insan yang berlainan jenis kelamin tersebut bahkan sampai berciuman di depan mata Marshel, seolah tidak mempedulikan lelaki tersebut.
Yah, seperti apa yang dikatakan oleh Xavier sekitar setidaknya satu tahun yang lalu. Memang tidak ada salahnya bagi Marshel jika lelaki tersebut buka mulut mengenai siapa dirinya yang sesungguhnya, dan mengakui perasaan lelaki tersebut terhadap nona muda Jasmine, tetapi tetap saja, mau sebagaimana pun, Marshel tetap merasa enggan untuk melakukan tersebut. Bahkan jika akhirnya kedua insan yang berlainan jenis kelamin tersebut sampai melangsungkan pernikahan, maka mau tidak mau Marshel hanya bisa membeku tidak bisa berbuat apa-apa sama sekali, mengingat lelaki tersebut sudah dapat dipastikan tidak memiliki kesempatan lagi.
Setelah selesai memotong buah-buahan tersebut, Marshel lantas menata buah-buahan tersebut di dalam sebuah mangkuk keramik, kemudian menuangkan sedikit selai buah yang tentu saja susah dicampur dengan krim keju sebagai dressing dari salad tersebut, kemudian akhirnya membawa mangkuk berisi salad lengkap dengan dressingnya tersebut ke hadapan sang nona muda.
__ADS_1
"Silakan, makan siang anda, nona muda." Marshel berkata seraya menyodorkan mangkuk itu, atau lebih tepatnya memilih untuk meletakkannya di hadapan Jasmine, lantas akhirnya memilih untuk duduk di hadapan sang nona muda. "Salad buah seperti apa yang anda mau, dengan selai buah dan sedikit krim keju sebagai dressingnya. Ah ya ..." Marshel terlihat seperti akan mengatakan sesuatu, membuat Jasmine menaikkan sebelah alisnya setinggi mungkin, menunggu lawan bicaranya itu berbicara lagi.
"Tidak, lupakan saja, saya rasa itu sama sekali tidak penting pada situasi seperti ini." Marshel menghela napas panjang, lantas memilih untuk melepas apron yang sedari tadi dipakai oleh lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat dan mata hijau tersebut lalu melipatnya dengan rapi. "Ah ... anda harus memakannya dengan baik, karena saya pribadi melihat anda jarang sekali melakukan diet anda semenjak anda sering makan di luar bersama tuan muda Xavier." Marshel memasangsenyum tipis, sebelum akhirnya diam menatap Jasmine dalam diam, memperhatikan sang nona muda dengan tatapan yang benar-benar tidak bisa diartikan sama sekali oleh siapa pun.
"Ya ... soal diet, entah mengapa sepertinya aku akan mulai memperbaiki dietku lagi, Marshel, mengingat bahwa sepertinya bobot tubuhku naik beberapa kilogram akhir-akhir ini, membuat beberapa jenis pakaianku mulai tidak muat saja." Wanita cantik yang memiliki rambut yang memiliki warna kuning nyaris putih yang terlihat memiliki mata yang memiliki warna biru laut tersebut langsung memasang senyum tipis seraya mengambil mangkuk salad tersebut, lantas mulai memakannya di hadapan Marshel yang sedari tadi hanya diam dan menatap wanita yang satu itu, seolah-olah memang hendak mengatakan sesuatu tapi merasa terlalu canggung dan tidak nyaman untuk mengatakan hal tersebut kepada Jasmine.
"Salad ini rasanya lebih enak dibandingkan yang biasanya. Mungkin karena aku sudah lama tidak makan ini, tetapi mengapa potongannya tidak serapi biasanya?" Jasmine mencoba bertanya berbasa-basi kepada Marshel akibat perasaan canggung yang ada.
__ADS_1