
"Aah- saya rasa itu terjadi karena saya tampaknya lupa untuk mengasah ulang pisaunya, sehingga saya merasa sedikit kesulitan untuk memotong buah-buahan itu. Maaf, nona muda, kali ini saya bersikap ceroboh." Marshel memasang senyum tipis, seraya menganggukkan kepalanya, seolah menghindar untuk memberitahu apa penyebab sesungguhnya di balik kacaunya potongan buah untuk salad makan siang Jasmine kali ini.
Jasmine hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya secara perlahan-lahan ketika mendengar jawaban Marshel kala itu, terdengar aneh dan bodoh, sebenarnya, tetapi apa boleh buat? Marshel sudah pasti tidak akan mau mengatakan yang sesungguhnya kepada dirinya itu. "Begitu ... kalau begitu nanti ingatkan aku untuk membelikanmu pengasah pisau yang bagus, sehingga kurasa kamu tidak akan lupa untuk sesekali mengasah pisaunya."
Canggung, lagi-lagi suasana yang canggung terjadi di antara kedua insan yang berlainan jenis kelamin tersebut, entah mengapa semenjak Jasmine sadar bahwa Marshel mulai memberi jarak antara dirinya dengan lelaki yang satu itu, Jasmine semakin jarang menemukan topik yang tepat untuk dibicarakan dengan sang bodyguard, sehingga tidak jarang percakapan mereka berdua sehari-hari itu tidak akan jauh dari sekadar kata-kata basa-basi seperti selamat pagi, mau makan apa atau apa jadwal hari ini saja. Membuat Jasmine kembali terdiam, tidak tahu hendak mengobrol dengan Marshel menggunakan topik apa.
"Jadi ... huft ... sudah lama sekali sejak kita benar-benar mengobrol dengan akrab seperti ini. Aku jadi merasa canggung setengah mati ...," gumam Jasmine seraya memakan salad tersebut dengan hati-hati, entahlah, semenjak wanita itu menjalin hubungan dengan Xavier, entah mengapa hubungannya dengan Marshel juga terasa merenggang dan meretak sedikit demi sedikit, entah Marshel turut sadari atau tidak.
__ADS_1
Selain itu, Jasmine yang pada awalnya memilih untuk sedikit menjauhi Marshel agar lelaki tersebut sadar malah seolah-olah berbalik menjadi senjata makan tuan, yang efeknya semakin terasa ketika Jasmine tidak bisa bepergian dengan Xavier. "Aku tidak tahu topik macam apa yang sekiranya kamu sukai, pun lagi kita berdua juga sudah jarang sekali berbicara."
Marshel hanya bisa menganggukkan kepalanya beberapa kali, apa yang dikatakan oleh Jasmine kepada dirinya itu memang benar dan untuk kali ini, tampaknya sudah tidak ada lagi celah bagi Marshel untuk melarikan diri, terang saja itu sama saja artinya Marshel secara mau tidak mau harus menemani Jasmine mengobrol, sembari tetap sadar bahwa dirinya sepertinya sudah tidak memiliki kesempatan sama sekali untuk membalik keadaan sesuai apa yang Marshel mau. "Benar, nona muda ... kita memang sudah jarang mengobrol satu sama lainnya, dan saya kira itu karena salah saya sendiri, nona muda." Marshel berkata penuh kepasrahan.
"Itu! Itu dia yang ingin aku bicarakan denganmu, Marshel. Mengapa? Mengapa kamu memilih untuk menjauhiku alih-alih kita berdua bisa membicarakan hal ini dengan baik? Apa kamu kembali ... entahlah, membenciku karena aku menjalani hubungan yang berbeda dengan Xavier? Atau bagaimana?"
Jasmine bertanya seraya meletakkan kembali mangkuk salad yang sudah dimakannya itu sedikit, lantas menatap lurus lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat dan mata hijau tersebut dengan sebuah tatapan yang benar-benar tidak bisa diartikan sama sekali oleh siapa pun itu. "Katakan saja, Marshel, mumpung Xavier tidak ada di sini," paksa Jasmine sekali lagi pada sang bodyguard.
__ADS_1
"Tetapi mengapa kamu terasa mulai sedikit menjaga jarak dariku? Maksudku, mengapa kamu seperti tidak memiliki usaha sama sekali untuk mengajakku berbicara, atau setidaknya mungkin mendekatiku ulang?" Jasmine bertanya seraya menarik kerah Marshel, menatap lelaki tersebut dengan tatapan lurus, seolah-olah sedang memaksa Marshel untuk memberikan wanita tersebut penjelasan yang terasa masuk di akal Jasmine kala itu. "Jawab aku dengan alasanmu yang masuk akal itu, Marshel! Jangan bersikap konyol seperti itu!" paksa Jasmine lagi, menatap ke arah mata hijau yang seprtinya merasa enggan setengah mati untuk menampilkan emosi apapun itu, mmbuat Jasmine merasa semakin geram saja melihat Marshel yang seperti itu.
Marshel hanya bisa tertawa pelan ketika menanggapi amarah yang telah ditampakkan oleh wanita cantik yang memiliki rambut yang memiliki warna kuning nyaris putih yang terlihat memiliki mata yang memiliki warna biru laut tersebut, dengan lembut, sang bodyguard kemudian melepas tangan Jasmine dari kerahnya, dan membiarkan Jasmine untuk duduk kembali di tempatnya semula.
"Begini, nona muda. Saya hanya merasa bahwa perbedaan strata sosial yang kita miliki itu terasa semakin jauh saja, belum lagi memang keberadaan tuan muda Xavier telah menjelaskan semuanya pada saya. Hanya saja, itu bukan berarti saya membenci anda maupun tuan muda Xavier hanya karena kalian berdua memiliki hubungan yang berbeda satu sama lainnya, tetapi lebih ke arah karena saya hanya ingin memberikan anda dan tuan muda Xavier tempat, setidaknya satu-satunya hal yang dapat saya lakukan setelah saya melukai hati anda dengan demikian parahnya beberapa bulan atau mungkin setahun yang lalu itu."
Lelaki tersebut kemudian menghela napas panjang, kemudian mendorong mangkuk salad milik sang nona muda ke arah Jasmine seraya memasang senyum tipis di wajah tampan miliknya itu. "Anda sudah mengerti mengapa, bukan? Lantas mengapa anda tidak lanjutkan saja makan siang anda? Anda tahu betul bahwa bukan ide yang bagus untuk membiarkan apel dan beberapa jenis buah begitu saja di udara terbukan, bukan begitu?"
__ADS_1
Pertanyaan-pertanyaan konyol tadi memang sengaja dikeluarkan oleh Marshel untuk setidaknya mengalihkan perhatian Jasmine ke arah lain, karena untuk saat ini, sang bodyguard yang satu itu sedang merasa enggan setengah mati untuk menampilkan emosi dan suasana hatinya, pun merasa enggan setengah mati untuk membicarakan mengenai perasaannya dengan Jasmine, dan apa alasan sesungguhnya di balik Marshel yang memutuskan untuk mulai menjaga jarak dari Jasmine maupun Xavier.
Dan, setidaknya kali ini lelaki tersebut bisa merasa bersyukur sekaligus beruntung karena Jasmine tidak berbicara apapun, melainkan hanya melanjutkan makanannya kala itu, menghentikan percakapan tersebut begitu saja.