I Love You, Bodyguard-ku

I Love You, Bodyguard-ku
Bab 55


__ADS_3

Tentu saja kedua insan yang berlainan jenis kelamin tersebut tidak bisa secara serta merta langsung memperbaiki posisi mereka yang sudah terlebih dahulu kacau itu, membuat sekretaris Xavier dapat melihat dengan jelas posisi Jasmine yang sedang duduk di atas perut Xavier dengan lelaki tersebut secara pasrah tergeletak di atas sofa, begitu saja dengan kerah yang dicengkram dan diguncangkan dengan sedikit brutal.


Sang sekretaris yang dapat dikatakan masih baru tersebut langsung terdiam membeku di depan pintu, seolah-olah kehilangan seluruh kemampuannya untuk bergerak maupun berbicara balik dengan sang tuan yang berada di ruangan tersebut. Pun sama seperti Jasmine, yang secara sedikit terpatah-patah menolehkan kepalanya, mengalihkan pandang ke arah sang sekretaris lantas terdiam seribu bahasa, tidak mampu berkata apa-apa sama sekali untuk sekadar menjelaskan situasi dan keadaan yang sedang terjadi kala itu.


"I-ini tidak seperti apa yang sudah kamu pikirkan!" Jasmine buru-buru turun dari atas perut Xavier, lantas menatap sang sekretaris dengan tatapan canggung. "K-kami berdua ini hanya- hanya sedang berbicara, begitulah- ha-ha-ha." Terlihat sekali sang nona muda tidak dapat menjelaskan situasi yang ada dengan baik, dan malah membuat suasana terasa semakin canggung saja untuk mereka bertiga itu. Jasmine melirik Xavier, berusaha membuat kontak mata dengan lelaki itu, dan meminta pertolongan Xavier melalui lirikan matanya sendiri.


Seolah tahu apa yang dibutuhkan oleh Jasmine pada saat ini, Xavier langsung bangkit dan duduk sedikit lebih rapi dibandingkan biasanya, kemudian berdeham pelan, menatap sang sekretaris dengan tatapan datar. "Anggap saja tidak ada yang pernah terjadi di sini, dan kami berdua hanya berbincang-bincang kecil satu sama lainnya. Jadi, ada apa hingga kamu memasuki ruanganku sebelum aku ijinkan?" Xavier bertanya dengan nada dingin, seolah-olah sedang menekan sang sekretaris yang malang menggunakan superioritas milik sang Chief Executive Officer tersebut.

__ADS_1


Terang saja sang sekretaris merasa sangat tidak nyaman ketika melihat dan mendengar apa yang telah dikatakan oleh laki-laki yang terlihat memiliki mata yang memiliki warna biru laut tersebut, membuat sang sekretaris tanpa sadar menundukkan kepalanya sendiri, lantas menyodorkan sebuah map yang cukup tebal dan berwarna hitam pekat. "Ini ialah permohonan kerja sama yang diajukan oleh nona Raphael, di mana wanita itu akan memberi anda keuntungan yang tidak sedikit jika anda mau bekerja sama dengannya."


Mendengar nama Raphael disebut oleh sang sekretaris, Xavier dan Jasmine sama-sama langsung terdiam dan melirik satu sama lainnya, di mana lirikan Jasmine seolah-olah mengatakan bahwa tidak ada masalah bagi wanita tersebut jika Xavier memutuskan untuk bekerja sama dengan Raphael, dan lirikan Xavier yang seolah dapat diartikan bahwa lelaki yang satu itu merasa khawatir dengan perasaan Jasmine jika dirinya memutuskan untuk bekerja sama dengan Raphael.


"Oh ...." Tanpa ssdikit pun membaca isi dari map yang dibawa oleh sang sekretaris, pun menyentuhnya saja tidak, Xavier langsung memasang senyum miring. "Tentu, aku akan mau bekerja sama dengannya, dengan catatan aku tidak perlu membayarnya sepeser pun dan dia menjadi model telanjang di salah satu majalah dewasaku, bagaimana? Jika dia menolaknya, katakan saja pada Raphael kalau aku juga merasa enggan bekerja sama dengannya."


Dengan kejamnya, seolah tidak memiliki hati mau pun perasaan sama sekali, Xavier langsung mengeluarkan kata-kata tersebut, seraya mendorong map itu menjauh ke arah sang sekretaris, memberi gestur bahwa lelaki tersebut tidak membutuhkan map itu sama sekali.

__ADS_1


"Kamu ini kejam sekali, Xavier," protes Jasmine seraya memanyunkan bibirnya sendiri, menatap lawan bicaranya dengan tatapan datar. "Menjadikan Raphael sebagai model telanjang di majalah dewasa milikmu tanpa bayaran? Kamu pasti sudah kehilangan setidaknya setengah dari kewarasanmu sendiri."


Alih-alih menjawab perkataan tajam yang telah terlebih dahulu dikatakan oleh Jasmine dengan pembelaan diri yang tidak wajar, lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat kemerahan serta mata yang memiliki warna biru laut tersebut langsung memasang senyum sinis seraya menatap balik Jasmine, sebelum akhirnya mengeluarkan tawa kecil. "Yang benar saja, Jasmine, aku sudah terlebih dahulu memikirkan apa yang akan kukatakan, kok. Lagipula aku melakukan ini bukan hanya untuk membalaskan dendammu saja, tetapi juga rasa kesal yang telah aku simpan kepadanya, di mana Raphael itu selalu saja menimbulkan kesulitan yang tidak perlu ketika aku dan wanita ***_*** tersebut bekerja sama satu sama lainnya."


Wanita cantik yang memiliki rambut yang memiliki warna kuning nyaris putih yang terlihat memiliki mata yang memiliki warna biru laut tersebut langsung menaikkan sebelah alisnya setinggi mungkin, menatap lawan bicaranya dengan tatapan tidak mengerti, seolah Jasmine tidak tahu apa maksud sesungguhnya di balik apa yang dilakukan oleh Xavier kali ini. "Apa maksudnya, Xavier? Memang apa yang pernah dilakukan oleh Raphael kepadamu ketika kalian berdua bekerja sama? Maksudku ... sepanjang pengetahuanku, Raphael bukanlah tipikal wanita yang menyusahkan untuk diajak bekerja sama."


Sang Chief Executive Officer tersebut tertawa kecil, yang benar saja, bagaimana bisa Jasmine sama sekali tidak tahu seperti apa Raphael itu sesungguhnya? "Kamu ini lucu sekali, Jasmine, maksudku yang benar saja! Bagaimana bisa kamu tidak tahu sama sekali bagaimana kelakuan Raphael yang sesungguhnya ketika bekerja sama?" Xavier memasang senyum, tetapi entah mengapa Jasmine bisa tahu bahwa lelaki di hadapannya ini tengah menahan kesal ketika mengatakan hal tersebut.

__ADS_1


Jasmine hanya bisa menggedikkan bahunya sendiri, toh sang nona muda memang benar-benar tidak mengetahui apapun di sini. "Yah, bisa dikatakan bahwa Raphael itu selalu saja bertindak seenaknya di sini, entah dia datang terlambat hingga beberapa jam, meminta ini dan itu yang tidak seharusnya diminta, dan berbagai hal lain yang menurutku sedikit kurang pantas jika ia minta padaku. Yah, secara sederhana, hanya karena aku memintanya bekerja sama padaku, Raphael benar-benar berubah menjadi pribadi yang tidak tahu diri, begitulah."


Jasmine hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya secara perlahan-lahan seolah-olah sedang berusaha mengerti apa yang telah dikatakan oleh lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat kemerahan serta mata yang memiliki warna biru laut tersebut kepada dirinya, maksudnya, yang benar saja! Jasmine masih tidak paham mengapa bisa Raphael yang ia kenal baik hati dan bisa dikatakan sama polosnya dengan wanita itu, bisa melakukan hal-hal gila di luar nalar ketika berkaitan dengan sesuatu hal, seperti berubah menjadi  tidak tahu diri, misalnya.


__ADS_2