
Saat ini Marshel terlihat hanya terdiam, seraya menatap langit malam kota Florida yang kali ini tidak terlihat secerah biasanya. Entahlah, mengamati apa yang dilakukan oleh Xavier kepada sang nona muda entah mengapa membuat hati lelaki yang satu itu terasa sakit, seolah-olah ada sembilu tidak terlihat yang langsung menusuk ke dadanya, secara telak sekali menyakiti hati lelaki yang satu itu.
Sebatang rokok yang berada di tangannya itu disulut lantas diisap oleh lelaki tersebut sedalam mungkin, seolah-olah hendak menelan segala kepahitan yang secara tiba-tiba saja muncul di hati lelaki yang malang tersebut. Marshel lalu menghembuskan asap rokoknya ke arah langit malam kota Florida, seolah sembari mengeluarkan segala keperihan yang ada di hati lelaki yang satu itu.
Marshel menopang dagunya seraya menatap langit dengan tatapan lelah, seolah menyatakan bahwa lelaki yang stau itu benar-benar sudah kalah jauh daripada Xavier yang memang mau dilihat dari sisi mana pun memang merupakan pribadi yang jauh sekali lebih baik dibandingkan Marshel yang hanya merupakan seorang bodyguard tersebut.
"Haah ... pada akhirnya tetap saja tuan muda Xavier yang memenangkan hati anda, nona muda Jasmine, seperti apa yang telah saya lakukan ini nyaris tidak ada artinya sama sekali bagi anda." Lelaki tersebut terkekeh tanpa daya, seolah seluruh dayanya telah terpakai di satu titik, di mana titik ini ialah Jasmine. Entah mengapa walau sepertinya Marshel tahu bahwa semua hubungan yang dilakukan oleh Jasmine dengan Xavier itu hanya merupakan hubungan kontrak yang konyol, tetap saja ada asetitik rasa sakit di hati lelaki yang satu itu yang tumbuh berikut dengan rasa tidak terima di hati Marshel kala itu.
__ADS_1
Yah, memang dapat dikatakan bahwa Marshel sendiri sadar bahwa dirinya lah yang secara halus menyebabkan semua hal tersebut terjadi, tetapi di satu sisi ada rasa enggan setengah mati bagi lelaki yang satu itu untuk mengakui ini juga merupakan sebagian dari kesalahannya sendiri, yakni menolak perasaan yang berbeda yang dimiliki oleh wanita cantik yang memiliki rambut yang memiliki warna kuning nyaris putih yang terlihat memiliki mata yang memiliki warna biru laut tersebut kepada dirinya itu.
Memang bagi Marshel, rasanya akan jauh lebih baik jika wanita macam Jasmine mendapatkan lelaki lain yang sekiranya jauh lebih baik daripada lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat dan mata hijau tersebut, tetapi di saat yang sama, tampaknya Marshel tetap tidak bisa menyangka sekaligus menerima bahwa pada akhirnya Jasmine akan memilih Xavier alih-alih lelaki lain di dunia ini.
"Tunggu ...." Marshel menopang dagunya sendiri, menatap ke arah rokoknya sendiri yang secara perlahan-lahan habis begitu saja tanpa sisa tanpa ia hisap sama sekali. "Memangnya aku ini siapa hinga merasa berhak untuk merasa sakit hati atas setiap keputusan yang mungkin saja akan dibuat Jasmine? Aku ini benar-benar bodoh ternyata, tidak pernah sadar bahwa posisiku hanya sebatas bodyguard wanita tersebut, tetapi tanpa aku sadari di satu sisi, justru akulah yang menjadi penyebab di balik terlukanya hati Jasmine."
Marshel lantas mengeluarkan tawa kecil, yang entah mengapa terasa demikian pahit dan kecut, seolah-olah sedang mentertawakan kekonyolan dan kebodohan yang memang dimiliki oleh lelaki yang satu itu atas berbagai hal yang sedang terjadi itu. Yang benar saja, mengapa bisa sampai hari ini Marshel tidak menyadari kebodohannya sendiri dan malah lebih sering menyadari kebodohan orang lain?
__ADS_1
Xavier merupakan lelaki yang dapat dikatakan nyaris sempurna, bukan hanya memiliki sifat yang tidak jarang mirip seperti seorang malaikat, dengan segala perhatian dan kata-kata lembut yang tidak jarang keluar begitu saja dari mulut lelaki tersebut, bahkan terkadang tanpa diminta sama sekali bahkan oleh Jasmine, belum lagi harta kekayaan lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat kemerahan serta mata yang memiliki warna biru laut tersebut yang dapat dikatakan benar-benar banyak, hampir dapat dikatakan bertumpuk, tampaknya cukup untuk menghidupi anak dan cucu keluarga mereka kelak tanpa harus kekurangan sama sekali.
Seolah tidak cukup hanya sampai di sana saja, Xavier juga dapat dikatakan sebagai jenis lelaki yang benar-benar pintar dalam hal mengurus banyak hal, termasuk bisnis dan berbagai hal lainnya, membuat sang Chief Executive Officer tersebut dapat dikatakan merupakan jenis lelaki yang dapat diandalkan nyaris di segala kondisi dan situasi, baik itu menguntungkan atau baik, maupun merugikan atau buruk.
Namun entah mengapa pula lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat dan mata hijau tersebut merasa tidak terima jika Xavier lah yang menggantikan posisinya alih-alih Marshel sendiri, di mana Marshel seolah merasa kalah begitu saja jika dihadapkan langsung dengan Xavier yang memang, lagi, dapat dikatakan sebagai lelaki sempurna atau lelaki idaman banyak wanita di luar sana.
Belum lagi wanita yang memiliki wajah kaukasia itu sendiri tidak jarang terlihat merasa senang dengan kedatangan Xavier ke kediamannya, entah hanya untuk sekadar bersantai bersama, atau mengajak Jasmine untuk makan di luar, seolah-olah semakin menbuktikan bahwa sudah tidak ada lagi tempat yang tepat untuk Marshel berada di sisi wanita cantik yang memiliki rambut yang memiliki warna kuning nyaris putih yang terlihat memiliki mata yang memiliki warna biru laut tersebut.
__ADS_1
Pada akhirnya, sang bodyguard yang sedang patah hati tersebut pun memutuskan untuk mengeluarkan ponselnya sendiri, secara diam-diam memperhatikan wallpaper ponselnya yang terlihat benar-benar indah sekaligus menyakitkan di mata lelaki yang satu itu. Entahlah, mungkin jika pada akhirnya Xavier benar-benar akan menikah dengan sang nona muda, mungkin hal terbaik yang sekiranya dapat dilakukan oleh Marshel demi menjaga kewarasannya sendiri, sekaligus harga diri lelaki yang satu itu ialah memutuskan untuk mengundurkan diri dan pergi dari kehidupan Jasmine, begitu saja, tidak perlu muncul lagi barang sejenak saja di depan mata Jasmine.
Yah, dapat dikatakan bahwa apa yang dipikirkan oleh Marshel ini terdengar benar-benar konyol, di mana bagaimana bisa lelaki yang satu itu memilih untuk menyerah atas pekerjaan berikut hatinya sendiri hanya karena masalah harga diri, tetapi itulah yang Marshel akan lakukan.