
"Kita bicarakan ini setelah aku pulang, kamu, tidak usah ikut pertemuan kali ini!"
Itu ialah perkataan terakhir Jasmine sebelum wanita yang memiliki wajah kaukasia itu pergi meninggalkan Marshel yang masih berdiri seorang diri di depan lift yang berada di lobby apartemen tersebut. Entahlah, entah mengapa tamparan yang telah diberikan oleh Jasmine kepada dirinya terasa benar-benar menyakitkan, padahal tamparan atasannya yang lama jauh lebih keras daripada tamparan yang diberikan oleh Jasmine kala itu. Namun, rasanya sungguh berbeda.
Lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat dan mata hijau tersebut, lantas menghela napas panjang, sebelum mengusap pipinya yang telah menerima tamparan dari Jasmine. Lutut Marshel terasa melemas tanpa daya secara tiba-tiba, seolah-olah kekuatan fisiknya selama ini menguap dan hilang begitu saja.
"Sakit … tapi kenapa?" Marshel menggumam pada dirinya sendiri, seraya berdiri di dalam lift yang akan membawanya ke lantai paling atas, lantai yang hanya memiliki satu buah kamar berjenis griya tawang, jelas saja milik sang nona muda alias Jasmine.
Setelah Marshel sampai di lantai teratas gedung apartemen tersebut dan masuk ke dalamnya, kaki Marshel yang sudah melemas seperti sekumpulan agar-agar tanpa penopang lantas terjatuh begitu saja, berlutut di lantai kamar super besar itu. Tanpa sadar, Marshel yang sudah terlebih dahulu tenggelam di dalam rasa bersalahnya sendiri kemudian mulai meneteskan air matanya, entah mengapa merasa sangat bersalah karena telah menjadi penyebab utama wanita pujaan hatinya itu menangis.
"Maaf … bukan seperti itu yang aku maksudkan … tetapi ukh-" Seluruh kelemahan Marshel kala itu entah mengapa muncul begitu saja pada saat ini, membuat lelaki yang satu itu terlihat seperti seseorang yang telah kehilangan segalanya, seperti seorang yang telah hancur total begitu saja.
Kepala Marshel tertunduk demikian dalam, dalam posisi bersalah seperti itu, dan terang saja secara konstan dan terus menerus mengeluarkan air matanya sendiri. "Maafkan saya, nona muda Jasmine … saya ini memang anjing yang sangat-sangat tidak patuh terhadap tuannya."
__ADS_1
Lelaki tersebut kemudian menangis dalam diam, meratapi rasa bersalahnya sendiri begitu saja.
Sementara itu, Jasmine yang baru saja menaiki taxi yang secara kebetulan saja terparkir di sekitaran gedung apartemennya lantas menopang dagu, menatap ke arah luar jendela dengan tatapan yang benar-benar tidak bisa diartikan sama sekali oleh siapa pun, seolah-olah Jasmine tengah memikirkan sesuatu pada saat itu.
"Apa aku sudah keterlaluan tadi?" Jasmine bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Entahlah, wanita tersebut juga merasakan setitik kekhawatiran sekaligus rasa bersalah atas Marshel. Yah, melihat ekspresi yang telah ditunjukan oleh sang bodyguard, Jasmine merasa bahwa Marshel telah belajar sesuatu tentang apa yang telah terjadi di antara kedua insan yang berlainan jenis kelamin tersebut.
Namun sayang sekali hal tersebut tidak berarti bahwa Jasmine akan menghentikan seluruh rencananya, atau mungkin sekadar mengubahnya sedikit saja. Sedikit pun tidak, Jasmine akan tetap melakukannya sesuai apa yang telah dipikirkan oleh wanita yang memiliki wajah kaukasia itu.
Wanita tersebut sendiri juga sebenarnya tidak tahu atau pun mengerti sejak kapan dirinya mulai memiliki perasaan yang lebih dengan sang bodyguard, dan apa pula yang membuat wanita itu menyukai atau bahkan jatuh cinta dengan Marshel yang wajahnya datar dan dingin, serta sifatnya yang pada umumnya cuek dan dingin tersebut.
Memang perhatian yang telah diperlihatkan oleh Marshel kepada dirinya itu merupakan perhatian yang lebih, dan menurut Jasmine, entah mengapa perhatian tersebut juga terasa tulus dan hangat, membuat Jasmine tidak jarang merasa terkesan atas lelaki tersebut.
Bagi wanita yang memiliki wajah kaukasia yang memiliki tubuh yang ramping serta rambut yang memiliki warna kuning nyaris putih yang terlihat apik tersebut, hanya Marshel lah yang mengetahui dengan sangat-sangat baik apa yang sang nona muda sukai dan benci, apa yang dapat membuat suasana hati Jasmine memburuk dan membaik, dan apa yang harus dilakukan ketika Jasmine merasa sedih, lelah ataupun mabuk.
__ADS_1
Mungkin dari sana lah rasa cinta Jasmine secara perlahan-lahan tumbuh dan membesar, dari cara Marshel yang memperhatikannya dengan demikian tulus, dan lain sebagainya. Tetapi mengapa? Mengapa Marshel harus menolaknya dengan sangat sopan? Mengapa sampai harus bersujud agar Jasmine menyerah atas perasaannya terhadap Marshel?
Mengapa tidak Marshel menolaknya dengan sedemikian kasar seperti kebanyakan lelaki di luar sana? Sebenarnya Jasmine menangis bukan karena Marshel memintanya menyerah atas perasaannya terhadap sang bodyguard, tetapi lebih ke arah sopan dan santun yang telah diperlihatkan oleh Marshel ke arah dirinya.
Yah, seperti apa yang telah dikatakan oleh lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat dan mata hijau tersebut kepada dirinya, memang Marshel mengurus Jasmine dengan cara seperti itu karena lelaki tersebut bertanggung jawab atas masalah keamanan Jasmine selama dua puluh empat jam per tujuh hari, tetapi apa salahnya Jasmine menaruh perasaan hanya karena itu?
Sebenarnya, lagi, Jasmine sendiri sadar betul bahwa lelaki yang satu itu juga secara diam-diam meletakkan perasaan yang berbeda terhadap Jasmine, yang ditunjukkan dengan betapa tulus dan lembutnya Marshel ketika lelaki tersebut menunaikan segala kewajibannya, tetapi mengapa pula lelaki tersebut menolak menyadari bahwa Marshel juga sebenarnya telah meletakkan perasaan yang sama dengan dirinya?
Apa karena seperti apa yang dikatakam oleh Marshel selama ini? Karena strata sosial? Tetapi entah mengapa bagi Jasmine itu terdengar sangat tidak masuk akal, jika memang hanya karena strata sosial, lantas mengapa banyak sekali pasangan yang bahkan strata sosialnya jauh sekali? Seperti misalnya seorang publik figur seperti Jasmine dengan penggemarnya yang hanya merupakan orang yang bahkan tidak bekerja sama sekali?
Ya, memang kebanyakan dari kisah cinta seperti itu terdengar seperti gimik menggelikan yang dibuat oleh para publik figur, tetapi itu bukan berarti tidak mungkin, bukan? Apa sebenarnya Marshel memiliki pasangan atau wanita pujaan hati lain di luar sana? Jika memang seperti itu, lantas mengapa Marshel harus seperhatian itu atas dirinya? Tidak masuk akal.
Jasmine menghela napas panjang, entah mengapa kepalanya mulai terasa pusing akibat terlalu banyak memikirkan hal semacam itu, membuat wanita itu akhirnya memilih untuk memejamkan mata, agar pikirannya mengenai Marshel dan perasaannya sendiri akan lelaki tersebut tidak muncul
__ADS_1