
"Bukan masalah, cantikku."
Itu ialah kalimat terakhir Xavier sebelum pemuda tersebut benar-benar mengantarkannya ke depan pintu kamar apartemen, seperti apa yang seharusnya sepasang kekasih lakukan. Jasmine kemudian menghela napas sebelum membuka pintu apartemennya sendiri, hanya untuk menemukan bahwa Marshel yang terlihat sedang meletakkan beberapa makanan di atas meja yang berada di depan sofa.
"Nona muda? Anda sudah pulang? Selamat datang, anda dari mana?" Marshel bertanya panjang lebar seraya melepas apron yang masih menempel di tubuhnya itu. "Ah, saya sudah membuatkan anda beberapa camilan yang sekiranya akan anda sukai." Lelaki tersebut memasang senyum tipis, menatap Jasmine dengan tatapan lembut.
Wanita cantik yang memiliki rambut yang memiliki warna kuning nyaris putih yang terlihat memiliki wajah yang cukup menggemaskan tersebut lantas menatap Marshel dengan tatapan datar. "Aah- aku habis bertemu dengan seseorang tadi, siapa? Itu bukan urusanmu sama sekali." Jasmine menjawab dengan nada dingin dan datar, membuat Marshel meneguk liurnya sendiri, tahu bahwa Jasmine masih menyimpan kesal atas apa yang telah terjadi di antara kedua insan yang berlainan jenis kelamin tersebut.
"... baiklah, nona muda. Apa ada hal lain yang sekiranya akan anda butuhkan?" Lelaki tersebut bertanya lagi, kali ini sembari melipat apron yang baru saja ia lepaskan.
Sang nona muda menggeleng dengan acuh tak acuh, seolah merasa enggan untuk benar-benar menjawab pertanyaan tersebut. Tidak hanya sampai di sana saja, Jasmine bahkan melenggang, pergi begitu saja dari hadapan Marshel tanpa banyak bicara sama sekali.
Lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat dan mata hijau tersebut tertegun sejenak ketika melihat perubahan sikap yang diperlihatkan oleh wanita itu. Perubahan sikap Jasmine seolah-olah terasa sangat-sangat drastis menurut pandangan Marshel, hingga menurutnya orang bodoh macam Simon pun akan dapat menyadarinya dengan sangat mudah.
__ADS_1
"Huft … ya sudah lah, mau bagaimana lagi? Mana mungkin aku bisa memaksa nona muda Jasmine dengan sedikit lebih keras." Lelaki yang malang itu hanya bisa mengusap wajahnya, menahan rasa frustasi yang tampaknya akan muncul sebentar lagi akibat apa yang sedang terjadi.
Malam pun tiba nyaris dengan sangat cepat sekali, pada saat ini, seperti biasa, Marshel terlihat sedang mengupaskan buah apel yang akan menjadi makan malam Jasmine kala itu hingga lelaki tersebut tanpa sengaja mendengar suara Jasmine yang tampaknya sedang mengobrol dengan seorang lain.
"Ya Xavier? Ada apa?" Suara Jasmine juga terdengar sangat-sangat santai dan tenang, seolah wanita tersebut sedang menerima telepon dari seseorang yang diharapkannya. "Makan malam? Mhm … belum, makan malamku sedang disiapkan oleh Marshel."
Siapa pula orang itu? Menanyakan tentang kegiatan apa yang sedang dilakukan oleh sang nona muda? Marshel mulai merasa sedikit curiga dengan Jasmine.
"Ooh, kamu akan mengajakku makan malam di luar? Sungguh? Baiklah, aku akan segera bersiap-siap!" Jasmine kembali menyahut, dengan nada yang jauh lebih ceria dibandingkan saat wanita itu berbicara dengan dirinya itu. Tidak lama setelah itu, wanita yang memiliki wajah kaukasia itu mematikan teleponnya, lalu mendongakkan kepalanya untuk menatap Marshel yang berada di hadapannya itu. "Hei, kamu tidak usah buatkan aku makan malam, Marshel, aku akan makan malam di luar dengan Xavier."
"Baiklah, tetapi bagaimana dengan apel ini? Saya sudah terlanjur mengupaskannya untuk anda." Marshel bertanya seraya menatap apel yang masih berada di tangan lelaki yang satu itu. "Akan saya simpankan di kulkas saja, kalau begitu. Anda ingin saya temani atau tidak?" Lelaki tersebut bertanya lagi seraya mengambil piring apel yang berada di atas meja, kemudian kembali menyimpannya di dalam kulkas yang berada di dapur.
Wanita cantik yang memiliki mata yang memiliki warna biru laut tersebut langsung menyahut, dengan nada datar acuh tak acuhnya itu, "kurasa tidak, aku akan pergi dengan Xavier jadi kurasa aku akan baik-baik saja. Sudahlah, aku akan mengganti pakaianku karena Xavier sudah berada di dalam perjalanan untuk menjemputku."
__ADS_1
Jasmine kemudian melenggang, pergi begitu saja meninggalkan Marshel yang masih berada di dapur di mana sang nona muda langsung masuk ke dalam kamar pribadinya lantas mengunci kamar itu dari dalam.
Tanpa perlu menunggu terlalu lama, lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat kemerahan serta mata yang memiliki warna biru laut tersebut pun tiba, yang ditandai dengan suara ketukan lembut dari pintu depan apartemen besar tersebut.
Terang saja Jasmine langsung melangkahkan kakinya ke pintu, kemudian dengan penuh semangat membuka pintu itu dan menarik lelaki yang menjadi kekasihnya kala itu ke dalam pelukannya. "Xavier! Kamu lama sekali hingga aku merasa kelaparan setengah mati sekarang!" goda Jasmine seraya mengalungkan tangan mungil nan ringkihnya di leher Xavier.
Marshel yang melihat hal tersebut terang saja hanya terdiam seribu bahasa, pun lagi dirinya tidak memiliki hak apa pun untuk menyuruh Jasmine untuk menjauh dari Xavier yang dilihat dari segi mana pun jauh lebih baik dari lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat dan mata hijau tersebut.
"Ah, Marshel, aku juga lupa memberitahumu sesuatu, yakni Xavier kini ialah kekasihku, tadi siang dia melamarku dan tentu saja aku menerimanya, jadi yah … kamu tidak usah bersikap khawatir terhadapku." Perkataan wanita cantik yang memiliki mata yang memiliki warna biru laut tersebut langsung terasa menusuk hati Marshel dengan demikian tajam dan menyakitkannya, entah mengapa perkataan itu seolah mampu membuat pemuda yang masih berada di umur sekitar dua puluh lima tersebut merasakan bahwa hatinya terluka.
"Baik, nona muda, tenang saja." Marshel menyahut seraya membungkukkan tubuhnya sejenak, menahan air muka yang hendak berubah akibat perkataan Jasmine barusan. "Berhati-hatilah di jalan, dan jangan lupa bahwa anda masih dalam program diet," pesan lelaki yang satu itu seraya mendongakkan kepalanya kembali.
Sang lawan bicara hanya berdeham singkat, seolah lagi, acuh tak acuh karena masih merasa kesal akibat memikirkan tentang skandal yang sedang terjadi dan apa yang sedang terjadi di antara kedua insan yang berlainan jenis kelamin tersebut sebelumnya. "Baiklah, Xavier, ayo berangkat. Aku sudah merasa terlalu lapar ini."
__ADS_1
Xavier hanya mengeluarkan kekehan kecil, sebelum akhirnya menaikkan rahang bawah Jasmine, kemudian mencium bibir mungil wanita tersebut di depan mata Marshel.