I Love You, Bodyguard-ku

I Love You, Bodyguard-ku
Bab 34


__ADS_3

Tentu saja Marshel yang menyaksikan hal tersebut hanya dapat terdiam seribu bahasa, benar-bena tidak tahu harus merespon seperti apa hinga pada akhirnnya pemuda tersebut memilih untuk menutup pintu kamar apartemen tersebut. Sang bodyguard terang saja merasa sangat tidak nyaman dan entah mengapa pula hatinya secara mendadak terasa sakit hanya karena menyaksikan Jasmine yang berciuman dengan lelaki lain yang sebelumnya Marshel kenal sebagai koleganya sendiri.


Entahlah, Marshel tahu betul bawa irinya lah yang membuat Jasmine memilih lelaki lain alih-alih dirinya, tetapi entah mengapa pula  ia merasakan sakit hati yang sudah semestinya tidak boleh lelaki itu rasakan sama sekali atas apa yang telah terjadi di depan matanya itu.


Sementara itu, Jasmine yang sedang berada di dalam mobil yang sama dengan Xavier terlihat sedang menghela napas panjang, seolah-olah wanita yan satu itu sedang merasakan sesuatu yang sekiranya membuat sang nona muda merasa sedikit tidak nyaman. Entahlah, entah mengapa walau hanya sekilas saja, Jasmine dapat melihat perubahan air muka yang terdapat di wajah datar Marshel yang terlihat demikian khas itu, seolah-olah lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat dan mata hijau tersebut terlihat sedikit sakit hati ketika menyaksikan dirinya yang sedang berciuman dengan Xavier di bibir mungilnya itu.

__ADS_1


"Haah, ya sudah lah, sudah aku duga cara semacam ini tidak akan bekerja dengan baik," gumam Jasmine seraya menyandarkan kepalanya di pundak lebar nan kekar milik Xavier, membuat lelaki yang sedang mengendarai mobil tersebut memasang senyum tipis ketika melihat Jasmine yang sedang memperlihatkan sisi menggemaskan sekaligus sisi lemahnya itu.


"Memangnya ada apa, Jasmine? Apa kamu sedang memikirkan mengenai kerja sama yang sedang kita lakukan ini, atau kali ini tentang Marshel yang masih saja menolak perasaanmu itu?" Lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat kemerahan serta mata yang memiliki warna biru laut tersebut langsung memasang senyum tipis seraya mengajukan pertanyaan semacam itu kepada Jasmine dengan nada yang memperlihatkan setitik kekhawatiran yang dimiliki oleh lelaki yang tampaknya masih berumur sekitar dua puluh tiga tahun tersebut. Jika seperti ini situasi yang terjadi, Xavier yang memang pada umumnya sering terlibat dengan wanita beserta ***** bengek emosi yang biasa dimiliki oleh wanita itu terang saja akan memininggirkan mobilnya sejenak, kemudian melakukan sesuatu untuk menenangkan emosi wanita tersebut.


Namun kalii ini berbeda, Jasmine bukanlah wanita kebanyakan yang dapat dipujuk dan dirayu dengan kata-kata, bebungaan dan lain sebagainya, melainkan Jasmine adalah tipikal wanita yang harus didengarkan dan sedikit dimanja untuk memenangkan hatinya, di mana itu artinya satu-satunya cara yang dapat dipilih Xavier sebaga kolega lama dari wanita yang memiliki wajah yang terlihat demikian cantik dengan rambut panjang yang memiliki warna kuning nyaris putih tersebut ialah menanyakan apa yang sedang dipikirkan oleh Jasmine kala itu, kemudian menunggu wanita tesebut secara perlahan-lahan menjadi sedikit lebih tenang lalu mulai membuka mulutnya sendiri, lantas menceritakan apa yang sekiranya menjadi faktor x di balik kacaunya suasana hati dan emosi sang nona muda pada saat itu.

__ADS_1


Wanita cantik yang memiliki mata yang memiliki warna biru laut tersebut langsung memasang senyum tipis setelah mendengarkan kata-kata yang dikeluarkan oleh Xavier dengan nada yang demikian lembut dan hangat tersebut. Yah, lagi, entah mengapa Jasmine dapat merasakan ketulusan yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata sama sekali mengenai betapa lembut dan penuh perhatiannya kata-kata yang dikeluarkan oleh Xavier kala itu, yang di mana hal tersebut juga membuat Jasmine merasa terkesan mengingat bahwa hubungan mereka kala itu hanya sebatas kekasih kontrak semata. "Entahlah, Xavier, aku hanya merasa bahwa apa yang telah aku lakukan ini tidak memiliki dampak yang aku harapkan atas Marshel, mengingat lelaki tersebut bahkan tidak  bergeming sama sekalii, setidaknnya menurut pandanganku, padahl kamu sudah repot-repot sampai mau menjemputku dan menciuum bibirku tepat di depan matanya itu." Jasmine menjelaskan kegundahannya seraya memainkan jarinya sendiri, merasa sedikit canggung dengan Xavier yang sedari tadi berdiam seraya mendengarkan apa pun yang sedang dikatakan oleh wanita yang satu itu.


Alih-alih merasa sedikit berempati atas keluhan yang diberikan oleh Jasmine kala itu, Xavier malah mengeluarkan tawa kecil, seolah-olah apa yang telah dikatakan oleh lawan bicaranya itu memang merupakan sesuatu yang demikian lucunya. "Yang benar saja, Jasmine, aku kir akmu sedang mengkhawatirkn apa. Tentang itu, kurasa kamu tidak perlu merasa pesimis sekarang, mengingat ini baru hari pertama, terang saja ini tidak akan memberikan dampak yang demikian besar seperti apa yang kamu harapkan. Hahh, kisahmu ini mengingatkan aku pada salah satu tokoh game yang pernah aku buat di dalam salah satu game yang memang pernah aku produksi." Xavier terkekeh pelan, sebelum akhirnya kembali melanjutkan ucapannya sendiri.


"Pada tokoh game yang aku tuliskan itu, si karakter utama merupakan sesuatu yang memiliki kekuatan yang demikian besarnya, tetapi di awal game, aku memilih untuk membuat si karakter menjadi karakter yang paling mudah untuk dibunuh, hingga pada akhir game dan apa yang dibutuhkan oleh karakter itu semuanya sudah semuanya terpenuhi, karakter tersebut berubah menjadi karakter yang demikian kuatnya hingga si karakte dapat membunuh lawannya hanya dalam sekali serang saja. Yah, memang poin utamanya bukan di sana, melainkan karena ini masih merupakan awal permainan, terang saja ini tidak akan menciptakan dampak yang sedemikian besarnya baik terhadap Marshel maupun  khayalak publik di luar sana, Jasmine," kata Xavier panjang dan lebar, seraya terus menggenggam erat tangan mungil milik Jasmine yang demikian ringkih dan mungil tersebut dengan sangat-sangat hangat.

__ADS_1


Lelaki yang yang memiliki wajah kaukasia yang memiliki mata yang memiliki warna biru laut tersebut langsung memasang senyum tulus, menatap sang nona muda yang menyimpan segala kerisauan hatinya seorang diri itu dengan sangat-sangat lembut, sebelum akhirnya kembali berkata, "semuanya akan baik-baik saja, Jasmine, aku janji padamu."


Perkataan yang telah dikatakan oleh Xavier kala itu telak saja membuat wanita yang memiliki wajah kaukasia itu sendiri memasang senyum malu, seolah-olah sadar betapa Xavier memahaminya, walau tidak sebaik Marshel, setidaknya menurut Jasmine pada saat itu.


__ADS_2