I Love You, Bodyguard-ku

I Love You, Bodyguard-ku
Bab 31


__ADS_3

"Yah … baiklah jika begitu, menurutmu, siapa yang seharusnya menjadi tokoh utama wanita di dalam film yang akan kamu bintangi jika kamu tidak ada atau kasarnya, hancur dan menghilang?" Xavier bertanya lagi.


"Raphael," jawab Jasmine singkat. "Dia adalah calon tokoh utama wanita selain aku, dan merupakan orang yang akan dipilih jika seandainya aku berhalangan atau seperti yang kamu katakan tadi."


Xavier langsung tersenyum seraya menjentikkan jarinya. "Bisa saja Raphael, bukan begitu? Belum lagi aku dengar dari supirku yang sering bergosip dengan Simon, Raphael menghilang setidaknya setelah pengumuman di mana kamu terpilih menjadi tokoh utama wanita hingga setidaknya satu minggu sampai konflik tersebut terjadi."


"Tetapi … rasanya tidak mungkin, Xavier, dia adalah sahabatku," bela Jasmine seraya mengerinyitkan dahinya, merasa tidak percaya atas apa yang telah disampaikan oleh Xavier kepada dirinya itu.


"Mengapa tidak?"


Jasmine terdiam, tidak tahu harus menyampaikan pembelaan masuk akal lagi atas apa yang mungkin saja terjadi. "Kalau pun misalnya benar, mengapa dia tega sekali menjatuhkan aku dengan cara kotor seperti ini?"


"Hn … kenapa ya? Mungkin saja karena wanita itu merasa iri setengah mati? Mengingat anda … telah dipilih menjadi tokoh utama wanita? Tidak usah terlalu ambil pusing atas apa yang telah saya katakan, anggap saja saya hanya bercanda." Dengan santainya, Xavier lantas mengibaskan tangannya, seolah memberi isyarat pada Jasmine untuk tidak usah terlalu ambil pusing.

__ADS_1


"Saya akan tetap selidiki apa yang anda minta saya lakukan, sebagai gantinya … saya akan membuatkan anda kontrak saat ini juga." Xavier berkata lagi, acuh tak acuh atas perasaan Jasmine yang mulai terasa campur aduk atas apa yang telah dikatakan oleh laki-laki yang terlihat memiliki mata yang memiliki warna biru laut tersebut atas Raphael dan tentang dalang utama di balik skandal itu.


"Baiklah, terima kasih …," balas Jasmine seraya menyandarkan punggung sempitnya pada sandaran sofa empuk milik Xavier.


Sembari mengambil sebuah kertas dan setelahnya menyuruh sekretarisnya sendiri untuk mengetikkan kontrak yang akan ia tandatangani bersama Jasmine, Xavier lantas mengambil sebuah cake lolipop lalu memakannya sendiri. "Omong-omong, tidak biasanya kamu menawarkan kerja sama seperti ini. Apa ada yang terjadi, selain skandal ini?" Xavier bertanya, seraya menatap lawan bicaranya dengan tatapan penasaran yang teramat kentara.


Mendengar pertanyaan yang diajukan oleh laki-laki yang terlihat memiliki wajah yang cukup tampan yang terlihat memiliki rambut yang memiliki warna cokelat kemerahan yang terlihat sangat-sangat khas tersebut, Jasmine meneguk liurnya sendiri, merasa tidak tahu jawaban semacam apa yang akan terdengar masuk akal di telinga Xavier yang cerdas dan licik tersebut.


"Hm? Mengapa kamu terdiam seperti itu, Jasmine? Ada lagi yang masih mengganggu pikiranmu sendiri? Atau bagaimana?" Xavier lagi-lagi bertanya, dengan cepat sekali menilai perubahan air muka Jasmine yang sebenarnya sangat tipis sekali perubahannya itu.


Xavier memasang senyum tipis. "Jangan membalik pertanyaanku seperti itu, Jasmine, kita berdua tahu bahwa kamu jarang sekali memikirkan cara konyol seperti ini hanya untuk keluar dari sebuah konflik, jadi jujur saja lah padaku, apa yang membuatmu benar-benar memilih rencana ini dari sekian banyak rencana yang jauh lebih apik dari ini."


Lagi-lagi wanita yang memiliki wajah kaukasia yang memiliki rambut yang memiliki warna kuning nyaris putih tersebut terdiam sejenak, entah merasa menyesal atas idenya sendiri untuk mengajak Xavier bekerja sama, atau merasa sedikit terkejut atas kecerdasan Xavier yang sedikit melampaui batas umum tersebut. 

__ADS_1


"Yah, tidak salah ternyata aku mengajakmu bekerja sama seperti ini, kamu ini terlalu pintar hingga terdengar menyebalkan, baiklah … alasanku yang sesungguhnya adalah aku ingin membuat Marshel berubah pikiran- atau setidaknya membuka hati dan mulai mengakui perasaannya sendiri alih-alih menutup mulut dan hati serta menolak untuk menerima bahwa perasaannya kepadaku itu nyata adanya." Jasmine menjelaskan panjang lebar seraya sesekali menghela napas panjang, menatap lawan bicaranya dengan tatapan yang benar-benar tidak bisa diartikan sama sekali oleh siapa pun. 


"Hoh? Dari mana kamu bisa menyadari bahwa Marshel memang memiliki perasaan yang lebih atas kamu?" Xavier menaikkan kedua alisnya setinggi mungkin seraya mengangguk-anggukkan kepalanya secara perlahan-lahan, untuk menggoda Jasmine sedikit pada saat itu. "Bisa saja dia hanya melakukannya dengan alasan pekerjaan, bukan begitu?"


"Tidak, tidak." Jasmine menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat, membuat rambutnya yang memiliki warna kuning nyaris putih tersebut bergerak mengikuti irama gerakan Jasmine kala itu dengan sangat menggemaskannya. "Jika memang seperti yang kamu katakan, hanya karena pekerjaan, lantas mengapa tidak jarang aku menemukan bahwa Marshel menatap lelaki mana pun yang kebetulan sedang memiliki urusan denganku, dengan tatapan tajam yang cukup menyebalkan?"


Kali ini Xavier yang tertegun sejenak, benar juga, jika diingat-ingat, tidak jarang lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat dan mata hijau tersebut menatapnya dengan tatapan tajam yang cukup menyebalkan ketika Xavier sedang mengurus sesuatu dengan Jasmine, entah itu urusan iklan atau mengenai hal lainnya. "Ah … benar juga, kenapa aku baru menyadarinya, ya? Aku ini benar-benar bodoh ternyata," kekeh Xavier menyadari kebodohannya sendiri.


"Itu dia, itu yang ingin aku pancing secara konstan dan terus menerus, jika kamu bertanya apa aku pernah secara langsung menyatakan perasaanku padanya, jawabannya adalah aku pernah, tetapi alih-alih menerima perasaan cintaku padanya, dia malah memintaku untuk menyerah dan tidak usah lagi menyimpan perasaan padanya, menyebalkan." Jasmine memasang muka sebal setelah selesai berkata panjang lebar, membuat Xavier kembali terkekeh atas sifat Jasmine yang tak jarang berubah menjadi kekanakan setengah mati.


Sementara kedua insan yang berlainan jenis kelamin tersebut berbincang-bincang kecil dengan satu sama lainnya, tidak lama seorang wanita lain yang Jasmine ketahui merupakan salah seorang dari beberapa sekretaris yang dimiliki oleh lelaki yang berada di hadapannya itu datang dan memberikan sebuah kertas beserta pena seraya memasang senyum kecil. "Silakan, tuan Xavier, kontrak yang anda minta untuk saya buatkan."


"Ah, baiklah, terima kasih Hera, untuk bonusmu nanti mintakan saja dari Midas," sahut Xavier seraya tersenyum tipis, menatap wanita yang berada di sisinya dengan tatapan lembut. "Baiklah, Jasmine, mari kita baca isi dari kontrak yang telah ditulis oleh Hera untuk kita berdua."

__ADS_1


Wanita cantik yang memiliki mata yang memiliki warna biru laut tersebut langsung menganggukkan kepalanya, kemudian tersenyum.


__ADS_2