I Love You, Bodyguard-ku

I Love You, Bodyguard-ku
Bab 15


__ADS_3

Tidak lama setelah kedua lelaki tersebut berbincang satu sama lainnya, sudut mata Marshel yang tajam itu menangkap sesuatu yang bergerak dan keluar dari mobil mewah mereka, sehingga mau tidak mau, Marshel langsung mendekatinya. "Nona-"


Lelaki yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekar serta rambut cokelat dan mata hijau tersebut tertegun sejenak ketika melihat penampilan Jasmine yang terlihat benar-benar cantik itu. Entah bagaimana, gaun sederhana yang sudah disiapkan oleh Anna tadi pagi, yang sekarang sedang dikenakan Jasmine saat ini, terlihat benar-benar pas membalut tubuh tinggi dan rampingnya dengan demikian apik.


"Cantik," gumam Marshel selirih mungkin, berusaha agar Jasmine tidak mendengar apa yang telah dikatakannya kala itu. Entahlah, gaun berwarna marun itu membuat kulit Jasmine terlihat jauh lebih cerah dan cantik dibandingkan yang biasanya.


"Ada apa, Marshel? Tidak biasanya kamu menatapku seintens itu," heran Jasmine seraya menatap balik Marshel yang masih terlihat sedikit terpaku di tempatnya. "Gaunku hari ini terlihat aneh, ya? Haah- Anna itu, sudah kubilang jangan pakai gaun ini, warnanya aneh, tetapi selalu saja gaun yang satu ini yang disiapkannya untukku."


Yang ditanya langsung menggeleng-ggelengkan kepalanya dengan cepat, menolak ucapan Jasmine yang terkesan menyudutkan wanita yang memiliki wajah kaukasia itu sendiri. "Bukan begitu, hanya saja anda terlihat jauh lebih cantik dibandingkan biasanya," jelas Marshel, berusaha menjaga pandangannya agar tidak bergerak terlalu jauh dari apa yang seharusnya diperhatikan oleh lelaki yang satu itu.


"Sungguh?" Mata biru Jasmine langsung terlihat herbinar, membuat Marshel tersenyum kecil ketika melihat respon menggemaskan tersebut dari sang nona muda. "Kalau begitu, aku suka pakai gaun ini!"


Entahlah, di mata Marshel, terkadang Jasmine bisa sekali bersikap demikian kekanakan, tetapi tidak jarang pula dirinya menemukan sifat dewasa Jasmine yang membuatnya merasa gemas sekaligus kagum, jarang sekali seorang selebritis memiliki dua sifat seperti ini pada saat yang nyaris bersamaan.

__ADS_1


"Ya, apa anda juga sudah bersiap-siap untuk pergi ke acara ulang tahun Reolle yang akan diadakan kira-kira sekitar setengah jam hingga satu jam lagi?" Marshel bertanya seraya mengenggam erat tangan Jasmine, memastikan kesiapan sang nona muda pada saat itu.


Yang ditanya menganggukkan kepalanya tipis, seolah menyatakan kesiapannya kala itu, membuat Marshel kembali memasang senyum, tidak salah baginya ketika lelaki tersebut memutuskan untuk mengabdi sebagai bodyguard Jasmine. "Baiklah, kalau begitu ayo kembali naik ke mobil agar saya dan Simon bisa mengantarkan anda."


Jasmine kembali mengangguk polos, seolah sudah percaya sepenuhnya kepada Marshel, dan memang begitu adanya. Sementara Marshel, lelaki tersebut lantas melirik ke arah Simon yang terlihat sudah berjalan mendekati kedua insan yang berlainan jenis kelamin tersebut, memberi kode pada lelaki yang sudah cukup berumur tersebut untuk berjalan lebih cepat agar Jasmine tidak perlu menunggu terlalu lama.


Ketika mereka berdua sudah berada di dalam mobil, Marshel kemudian menatap sang nona muda, hendak memulai pembicaraan. "Apa anda ingin ditemani ketika pesta nanti? Atau tidak?" Marshel bertanya dengan nada lembut, memastikan apakah perlu dirinya ikut ke dalam acara atau dirinya bisa bersantai sejenak dengan cara berbincang-bincang kecil dengan Simon dan mungkin saja menggoda lelaki yang sudah cukup tua tersebut.


Setelah terdiam sejenak dan menimbang-nimbang jalan terbaik yang dapat diambil oleh Jasmine, serta pertimbangan apakah Marshel akan atau sedang merasa lelah, Jasmine pun menghela napas, tampaknya kali ini dirinya harus pergi ke dalam pesta tersebut seorang diri saja. "Kurasa tidak, Marshel, aku akan baik-baik saja di acara ulang tahun Reolle."


"Anda yakin?" tanya Marshel, memastikan.


Jasmine kembali mengangguk, memasang senyum tipis yang benar-benar terlihat sedang berusaha menenangkan hati lelaki yang satu itu untuk melepasnya pergi seorang diri. "Aku yakin, Marshel, lagipula siapa yang akan menyakitiku di acara ulang tahun sahabatku sendiri? Tidak mungkin, kan?"

__ADS_1


Marshel menganggukkan kepalanya tipis, tetapi tetap saja lelaki tersebut masih sedikit menyimpan rasa khawatir di hatinya. Ini ialah kali pertama bagi Marshel untuk melepas Jasmine bepergian dan bergaul dengan orang lain, walau itu ialah sahabat wanita yang memiliki wajah kaukasia itu sendiri, dan lagi, kemungkinan bahwa Raphael ialah dalang utama di balik skandal ini juga turut menganggu pikiran Marshel kala itu.


"Ya, tentu saja tidak ada yang akan menyakiti anda di acara ulang tahun sahabat anda sendiri. Haah … entahlah, aku masih merasa sedikit khawatir karena saya harus melepas anda pergi seorang diri, walau itu hanya di acara teman anda sendiri." Marshel menghela napas panjang seraya menatap khawatir sang nona muda, entah mengapa pula firasatnya berkata bahwa akan ada sesuatu yang kurang menyenangkan yang sepertinya akan terjadi di acara tersebut.


Menanggapi kekhawatiran Marshel yang dirasa Jasmine itu cukup berlebihan, wanita tersebut hanya menanggapinya dengan kekehan pelan, tidak terlalu ambil pusing atas masalah yang sedang ada. "Tenang saja, Marshel, seperti yang aku katakan tadi, tidak akan terjadi apa-apa di acara ulang tahun Roelle, dan tidak ada yang akan menyakitiku di sana, toh, mereka semua itu teman dan sahabatku."


"Baiklah …." Kalau sudah begini situasinya, mana bisa lagi Marshel memaksa untuk ikut, apalagi Jasmine telah menetapkan keputusan final bahwa wanita itu tidak ingin Marshel ikut sama sekali ke dalam acara ulang tahun Roelle, yang itu juga sama saja artinya Marshel juga tidak boleh secara diam-diam mengintai Jasmine hanya demi memastikan keamanan sang nona muda.


"Lagipula, menurutku kamu ini butuh istirahat yang cukup, Marshel." Jasmine tiba-tiba berkata, seraya mengusap lembut tangan Marshel yang kekar dan berurat. "Karena jika aku perhatikan dengan saksama, kantung matamu itu sudah hitam sekali, tahu. Aku tahu kamu khawatir atas keselamatanku, tetapi itu bukan berarti kamu sampai harus mengorbankan waktu istirahatmu hanya demi menjaga keamananku nyaris dua puluh empat jam per tujuh hari."


Mendengar kekhawatiran sang nona muda, Marshel memutuskan untuk menggoda Jasmine sedikit. "Jadi anda khawatir bahwa saya akan jatuh sakit?"


"Ya," jawab Jasmine lugas, tanpa sedikit pun termakan godaan yang coba dilontarkan oleh lelaki yang memiliki tubuh tinggi dan kekar tersebut pada saat itu.

__ADS_1


__ADS_2